TRANSPORTASI DARING

Gojek dan Grab saling klaim kuasai pasar

Pengemudi ojek online (ojol) menunggu penumpang di kawasan Paledang, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (26/3/2019).
Pengemudi ojek online (ojol) menunggu penumpang di kawasan Paledang, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (26/3/2019). | Yulius Satria Wijaya /Antara Foto

Persaingan antara Gojek dan Grab di sektor transportasi daring (online) dan layanan turunannya kian sengit. Kedua perusahaan yang jarang mengemukakan pencapaiannya itu, beberapa hari ini menyampaikan sejumlah klaim dan data, baik dari pihak ketiga maupun laporan internal.

Keduanya saling mengklaim mampu menguasai lini bisnis transportasi hingga layanan pesan-antar makanan di Indonesia hingga wilayah regional Asia Tenggara.

Terbaru, lembaga riset Nielsen Singapura mengeluarkan hasil riset dan survei berjudul "Understanding Indonesia's Online Food Delivery Market" .

Hasil riset itu mengungkapkan sekitar 84 persen masyarakat yang menggunakan lebih dari satu aplikasi pesan-antar makanan, menganggap layanan milik Gojek, GoFood, adalah yang terbaik di Indonesia. Jauh lebih tinggi ketimbang angka rata-rata industri yang mencapai sekitar 39 persen.

Dalam riset ini, Nielsen melihat preferensi masyarakat Indonesia terhadap empat layanan pesan-antar makanan berbasis aplikasi terbesar di Indonesia, antara lain GoFood, Grab Food, Kulina, dan Berry Kitchen.

Riset Nielsen ini dilakukan terhadap 1.000 responden di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Balikapapan, Medan, dan Makassar. Responen yang disurvei terdiri dari laki-laki dan perempuan, berusia 18-45 tahun. Survei dilakukan secara online pada 17-29 Mei 2019.

Dalam pemaparannya, Kamis (19/9/2019), Executive Director of Consumer Insight Nielsen Singapura, Garick Kea, mengatakan kenyamanan konsumen merupakan faktor utama yang menggerakan pertumbuhan bisnis ini. GoFood dianggap punya pilihan menu dan merchant yang beragam--masing-masing oleh 87 persen dan 83 persen konsumen urban.

"Aplikasi GoFood dianggap user friendly (ramah pengguna) dan mudah digunakan oleh 83 persen konsumen urban. Mitra pengemudi Gojek juga dinilai ramah, sopan dan informatif," ujar Garick, di Jakarta.

 Executive Director of Consumer Insight Nielsen Singapura, Garick Kea, (tengah berjas biru) dan Chief Food Officer Gojek Group, Catherine Hindra Sutjahyo (kedua dari kanan) saat memaparkan hasil riset tren industri layanan pesan-antara makanan online di Indonesia di Jakarta, Kamis (19/9/2019)
Executive Director of Consumer Insight Nielsen Singapura, Garick Kea, (tengah berjas biru) dan Chief Food Officer Gojek Group, Catherine Hindra Sutjahyo (kedua dari kanan) saat memaparkan hasil riset tren industri layanan pesan-antara makanan online di Indonesia di Jakarta, Kamis (19/9/2019) | Elisa Valenta /Beritagar.id

Menanggapi hasil riset Nielsen tersebut, Chief Food Officer Gojek Group, Catherine Hindra Sutjahyo, mengatakan keberhasilan bisnis GoFood berbanding lurus dengan pertumbuhan Gojek di Indonesia dan Asia Tenggara.

Ia mengatakan dalam enam bulan terakhir, tercatat jumlah transaksi GoFood meningkat dua kali lipat mencapai lebih dari 50 juta transaksi di seluruh Asia Tenggara setiap bulannya.

"Setelah hampir empat tahun berdiri, kita adalah pemain nomor satu food delivery dengan 75 persen pangsa pasar," ujarnya.

Jika Gojek mengklaim mampu menguasai bisnis layanan pesan-antar makanan, Grab pun mengklaim mampu merajai bisnis transportasi online, khususnya ojek.

Untuk mengukuhkan posisi tersebut, Grab mengandalkan sebuah riset yang dilaksanakan oleh ABI Research, sebuah lembaga riset yang berpusat di London, Inggris.

Dalam risetnya, ABI Research mengungkapkan Grab menguasai 11,4 persen pasar ride hailing Asia Pasifik dengan dominasi di pasar Indonesia dan Vietnam. Secara rinci, di Indonesia, Grab memimpin pasar dengan 64 persen dan Vietnam 74 persen. Ini merupakan riset kedua yang dikeluarkan oleh ABI Research setelah tahun 2018.

Dalam keterangan resmi yang diedarkan Rabu (18/9), ABI Research mengatakan dominasi Grab merupakan buah keberhasilan Grab menjadi super apps yang dapat menangkap volume permintaan masyarakat yang begitu besar, khususnya di luar layanan transportasi.

Smart Mobility Principal Analyst ABI Research, James Hodgson, mengatakan bahwa pertumbuhan transportasi online mengalami perlambatan. Setelah mencapai 22 miliar perjalanan pada 2018, tahun 2019 diperkirakan akan ditutup dengan angka perjalanan sedikit di bawah capaian tahun lalu.

Kendati tertinggal dalam layanan pesan-antar makanan, Grab tak gentar mengejar pesaingnya, Gojek. Grab berencana memperkuat lini bisnis GrabFood.

Perusahaan asal Singapura ini telah mengumpulkan AS$4,5 miliar dalam putaran pendanaan terbarunya. Salah satunya, Grab mendapat investasi AS$2 miliar atau sekitar Rp28,4 triliun dari SoftBank pada Juli lalu.

Grab berencana memperkuat tim riset dan pengembangan, alias R&D, terkait GrabFood di Indonesia. Perusahaan pun ingin membangun kantor pusat di DKI Jakarta yang berfokus menjadi pusat bisnis GrabFood.

“GrabFood menjadi sinyal pertumbuhan operasi kami di negara ini. Selain itu, kami ingin menggandakan tim talenta dan memperkuat R&D untuk mendukung operasi bisnis,” kata Kepala GrabFood Indonesia Demi Yu dikutip di Deal Street Asia.

Saling klaim itu wajar

Saling memberikan klaim merupakan hal biasa dalam bisnis. Namun, yang menarik dari kasus Gojek dan Grab adalah bagaimana keduanya seakan bersaing mengklaim posisi jawara pasar di kawasan Asia Tenggara.

Menurut peneliti ekonomi digital Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nika Pranata, tiap perusahaan pada umumnya membutuhkan data atau bukti konkret, yang salah satunya berupa hasil riset.

Data tersebut bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk meyakinkan para pemangku kepentingan. Nika menegaskan bahwa banyak startup mengeluarkan hasil riset untuk beberapa alasan, seperti mempertegas pencapaian bisnis, meyakinkan stakeholder, hingga membantu memikat investor, terutama riset mengenai pangsa pasar.

“Makin tinggi market share, maka bisa makin meyakinkan investor untuk berinvestasi di startup,” ujar Nika saat dihubungi Beritagar.id (19/9).

Menurutnya, riset yang dilakukan oleh startup pada dasarnya bisa untuk menjawab pertanyaan apa pun, tergantung tujuan yang ingin dicapai.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR