Google 2016: memburu Pokemon, mencari Ahok

Laman antarmuka mesin pencari Google.
Laman antarmuka mesin pencari Google. | ChristianHoppe/domain publik /Pixabay.com

Google baru saja mengumumkan Year in Search 2016, yang memuat daftar pencarian paling mengetren sepanjang tahun ini.

Secara global, "Pokemon Go" jadi kata kunci paling sering dicari di layanan mesin pencari nomor wahid itu. Adapun tokoh paling sering dicari warga internet global adalah Donald Trump, sosok kontroversial sekaligus pemenang Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016.

Di Indonesia, pucuk tren pencarian paling populer juga ditempati "Pokemon Go". Sejak dirilis awal Juli 2016, permainan berburu monster tersebut memang sukses menarik minat publik.

Peringkat dua diisi topik "Gerhana Matahari", yang melonjak karena fenomena gerhana matahari total di Indonesia (9 Maret 2016). Selanjutnya, berturut-turut menyusul topik "Timnas Indonesia", "Gempa Aceh", dan "Donald Trump".

Pada kategori "Tokoh", Ahok jadi pemuncak. Pemilik nama asli Basuki Tjahaja Purnama itu memang jadi magnet pemberitaan media sepanjang 2016. Sorotan media agaknya ikut mengatrol nama Gubernur (nonaktif) DKI Jakarta tersebut dalam pencarian.

Merujuk grafik pencarian Google, kata kunci "Ahok" meningkat tajam pada November 2016.

Artinya, pencarian "Ahok" melonjak sejak riuh kasus dugaan penodaan agama yang membelitnya. Terutama sejak demonstrasi 411, yang mendesak agar Ahok dihukum dalam kasus tersebut.

Peringkat dua dalam kategori "Tokoh" ditempati Sri Mulyani. Hal ini berkenaan keputusan Sri Mulyani balik ke Indonesia. Di tanah air, mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu dipercaya menjadi menteri keuangan oleh Presiden Joko "Jokowi" Widodo.

Hal menarik lain dalam Year in Search 2016 adalah hadirnya kategori "Kepergian Tokoh" sebagai penanda momen-momen berpulang para tokoh penting.

Di Indonesia, kepergian penyanyi Mike Mohede, ternyata jadi momen duka yang paling menyita perhatian khalayak internet. Pada peringkat berikutnya, ada nama pesohor lain macam Budi Anduk dan Irena Justine.

Pun kematian legenda tinju dunia, Muhamad Ali, ternyata membekas di benak netizen Indonesia, dengan menempati posisi empat.

Daftar lengkap Year in Search 2016 versi Indonesia, bisa disimak di sini.

Google Year in Search 2016 versi Indonesia.
Google Year in Search 2016 versi Indonesia. | Istimewa

Prediksi Google

Saat ini, Google melayani sekitar 100 miliar pencarian tiap bulan. Artinya, lebih kurang, Year in Search 2016 berbasis dari sekitar 1,2 triliun data pencarian.

Tren pencarian 2016 itu bersumber dari data Google Trends --yang menunjukkan tren pencarian sehari-sehari secara seketika (real-time).

Data Editor Google, Simon Rogers, menyebut Google Trends bisa memungkinkan kita untuk mengukur minat dalam topik-topik tertentu, dari seluruh dunia. Bahkan, data itu bisa menunjukkan asal pencarian berdasar kota --di Indonesia sampai provinsi.

Hal senada juga ditulis Newsweek. "Tiap kata yang kita ketik di kotak pencarian nan berbinar milik Google, bisa menunjukkan 'siapa kita' sebagai pribadi dan kolektif."

Dalam beberapa kasus, data Google Trends juga bisa saja menjadi basis prediksi perihal kemungkinan-kemungkinan pada masa mendatang.

Untuk menyebut contoh, kita bisa menengok pencapaian Jokowi. Pada 2012 dan 2013, Jokowi memuncaki tren pencarian Google untuk kategori "Tokoh" --kala itu masih bertajuk Google Zeitgeist.

Pencapaian Jokowi sekaligus menunjukkan bahwa khalayak internet Indonesia punya minat atau bersimpati kepadanya. Pun data itu boleh saja dilihat sebagai pertanda awal bahwa Jokowi punya masa depan cerah sebagai seorang tokoh.

Setahun berselang pertanda itu terbukti. Jokowi menang dalam Pilpres 2014. Pada tahun yang sama, "Jokowi" juga jadi kata kunci paling dicari khalayak internet Indonesia. Tepat di bawah Jokowi, menguntit Prabowo Subianto, pesaingnya dalam Pilpres.

Lantas, bagaimana dengan Ahok, yang jadi tokoh paling dicari warga internet Indonesia sepanjang 2016? Akankah masa depan karir politiknya cerah atau sebaliknya? Lebih-lebih, mengingat statusnya sebagai kandidat dalam Pilkada DKI Jakarta.

Sebagai catatan, pada hari-hari terakhir, publik mencari Ahok di internet karena kasus dugaan penodaan agama. Mengingat pro dan kontra dalam kasus itu, seseorang yang mengetik "Ahok" di kolom pencarian bisa berasal dari dua belah pihak: pendukung dan penentang.

Ringkasnya, pencarian Ahok bisa dilatari simpati atau ketidak-sukaan --bahkan kebencian. Hal itu berbeda dengan Jokowi. Sebab, pada 2012 dan 2013, orang-orang ingin mengenal (baca: mencari) Jokowi karena pencapaiannya memimpin Kota Solo dan DKI Jakarta.

Menimbang hal-hal di muka, agaknya masih sulit menebak masa depan Ahok sebagai tokoh politik. Namun, merujuk grafik pencarian atas Ahok (2016), boleh saja mengambil sebuah kesimpulan dini.

Perjalanan politik pria berusia 50 itu bergantung pada perjalanan kasus dugaan penodaan agama --topik yang mengundang orang-orang mengetik "Ahok" di kolom pencarian Google.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR