PEREDARAN NARKOBA

Gorontalo masuk zona merah peredaran narkoba

Kepala BNN Provinsi Gorontalo Brigjen Pol Oneng Subroto (tengah) menjelaskan kepada awak media mengenai penangkapan lima orang tersangka pengedar narkoba, pada konferensi pers, Selasa (23/4/2019). Kelima tersangka itu ditangkap di area perbatasan Gorontalo-Sulawesi Tengah, di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato Gorontalo, Kamis (11/4/2019).
Kepala BNN Provinsi Gorontalo Brigjen Pol Oneng Subroto (tengah) menjelaskan kepada awak media mengenai penangkapan lima orang tersangka pengedar narkoba, pada konferensi pers, Selasa (23/4/2019). Kelima tersangka itu ditangkap di area perbatasan Gorontalo-Sulawesi Tengah, di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato Gorontalo, Kamis (11/4/2019). | Franco Dengo /Beritagar.id

Provinsi Gorontalo termasuk salah satu daerah yang merupakan zona merah peredaran narkoba di Indonesia. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, peredaran narkoba di wilayah yang terletak di bagian utara Sulawesi ini, meningkat secara signifikan.

Terkini, Kamis (11/4/2019), Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Gorontalo berhasil menangkap 5 orang yang diduga merupakan bandar, pengedar, sekaligus pemakai dengan barang bukti narkoba jenis sabu seberat sekitar 21 gram yang terdiri dari 33 paket.

Kelima orang yang merupakan warga Sulawesi Tengah itu, digerebek di Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato, area perbatasan Gorontalo-Sulteng.

Dalam konferensi pers, Selasa (23/4/2019), Kepala BNNP Gorontalo, Brigjen Pol. Oneng Subroto, mengatakan bahwa dalam pengggerebekan yang dilakukan dini hari sekitar pukul 02:30 WITA tersebut, awalnya ditangkap dua orang pelaku yang berinisial TI dan EA.

Kemudian, setelah melakukan pengembangan, dua orang lainnya A dan PH ditangkap di wilayah Parigi-Moutong, Sulawesi Tengah. Sisanya, S, menyerahkan diri dua hari setelah penangkapan teman-teman yang termasuk dalam jaringannya.

"Semua paket itu berasal dari pria berinisial (I), yang saat ini masih mendekam di Lembaga Pemasayarakatan (Lapas) Palu, Sulawesi Tengah. Kami fokus di wilayah Pohuwat, perbatasan Gorontalo-Sulawesi Tengah, karena sejak tahun 2018 kemarin, ada banyak kasus yang diungkap di wilayah itu," kata Oneng.

"Selain karena area tersebut berbatasan langsung dengan Sulawesi Tengah, alasan lainnya karena di Pohuwato belum memiliki Badan Narkotika Nasional Kabupaten."

Sejak tahun 2015, peredaran Narkoba di Gorontalo terbilang masif. Dari data yang dimiliki BNN Provinsi Gorontalo, ada 10 laporan kasus narkotika (LKN) yang ditangani, dengan total 11 orang tersangka serta barang bukti 22,7 gram narkoba jenis shabu.

Statistiknya terus meningkat setiap tahun. Hingga pada tahun 2018 lalu, sebanyak 13 LKN yang ditangani, 23 tersangka dan total barang bukti seberat 39,42 gram. Bahkan, pada awal tahun 2019 ini, BNN sudah menangkap 5 orang tersangka dengan barang bukti 21 gram narkoba jenis shabu.

Tidak jauh berbeda dengan data yang dikeluarkan BNN Provinsi Gorontalo, data yang dikeluarkan Polda Gorontalo juga menunjukkan bahwa kasus peredaran narkoba meningkat dari tahun ke tahun.

Bahkan, Laporan Kasus Narkotika (LKN) yang ditangani Polda Gorontalo meningkat drastis dari angka 39 kasus di tahun 2016, menjadi 79 kasus pada tahun 2018. Sebanyak total 220 tersangka ditahan dan barang bukti seberat 5.390,946 gram dari berbagai jenis narkoba telah disita.

Dari data-data tersebut, tidak mengherankan jika Gorontalo termasuk dalam salah satu daerah zona merah peredaran barang haram tersebut.

Saat diwawancarai Beritagar.id, Kamis (25/4/2019), Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Gorontalo, AKP. Leonardo Widharta, mengungkapkan bahwa hampir 100 persen narkoba yang beredar di Gorontalo berasal dari Sulawesi Tengah.

"Yang selama ini kami ungkap, semuanya melalui jalur darat. Dengan berbagai modus, kebanyakan dengan menggunakan supir taksi antar provinsi. Gorontalo juga menjadi jalur alternatif sebagai tempat transit pengantaran narkoba yang akan menuju Manado, Sulawesi Utara," kata Leonardo.

Polres Gorontalo merupakan jajaran Polda Gorontalo yang paling dominan dalam menangani kasus peredaran narkoba. Sejak tahun 2017, rata-rata lebih dari 10 kasus yang berhasil diungkap, per tiap tahun-nya.

Leonardo menambahkan, kondisi yang terjadi di Gorontalo ini adalah imbas dari ekstremnya peredaran narkoba di Palu, Sulawesi Tengah.

Baru-baru ini BNNP Sulawesi Tengah telah membongkar jaringan pengedar narkoba internasional yang beroperasi di kawasan tersebut, serta mengidentifikasi tiga kampung di Palu yang diduga menjadi pusat peredaran narkoba.

Dua pengedar sabu asal Toli-Toli, menurut Kepala BNNP Sulteng, Brigjen Pol. Suyono dalam Kumparan (24/6), ditangkap di Palu pada 10 Maret 2019. Setelah diperiksa, mereka adalah bagian dari sebuah jaringan pengedar internasional asal Malaysia.

Sementara, tiga kampung pusat peredaran narkoba di Palu, menurut Suyono dalam Tribun-Timur.com (26/4), ialah Kelurahan Tavanjuka di Kecamatan Tatanga; Jl Anoa 1, Kelurahan Tatura Utara di Kecamatan Palu Selatan; dan Kayumalue di Kecamatan Palu Utara.

Indonesia termasuk dalam segitiga emas peredaran narkoba di dunia. Apalagi, menurut BNN (h/t detikcom), ada 3,5 juta orang Indonesia yang menyalahgunakan obat-obatan terlarang pada tahun 2017. Sekitar 1,4 juta di antaranya adalah pengguna biasa dan hampir 1 juta orang telah menjadi pecandu narkoba.

Perdagangan narkoba di Indonesia, menurut data Havoscope--sebuah lembaga yang meneliti pasar gelap di seluruh dunia--juga bernilai besar. Angkanya mencapai sekitar 4 miliar dolar AS (Rp56,7 triliun), terbesar kedua di Asia Tenggara.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR