ATURAN LALU LINTAS

GPS mengundang tilang, Kemenhub cari celah luang

| Antyo /Beritagar.id

Bagi Mahkamah Konstitusi (MK), fitur global positioning system (GPS) berbasis satelit dan aplikasi peta dalam ponsel itu mengganggu konsentrasi pengemudi. Penggunaan saat menyetir melanggar hukum. Demikian putusan pada akhir Januari lalu sebagai tolakan terhadap upaya uji materi Pasal 106 ayat 1 UU LLAJ.

Dalam UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, keluaran 2009, menurut penjelasan pasal tadi, penggunaan telepon, serta menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan itu "memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan Kendaraan".

Bagi MK dalam putusan MK No. 23/PUU-XVI/2018, hal itu berkait dengan keselamatan dan keamanan di jalan.

Pokok utama masalah adalah ponsel. Bukan GPS. Kalau peranti GPS sih tak soal. Padahal pengemudi mobil, termasuk sopir taksi daring, membutuhkan peta dalam layar ponsel. Begitu pula tukang ojek daring atau ojol (ojek online).

Maka Maret tahun lalu, advokat Ade Manansyah selaku kuasa hukum dari Sanjaya Putra dan Aldi Zen (Toyota Soluna Community), serta Victor Santoso Tandiasa selaku kuasa hukum Irvan (pengumdi taksi daring), mengajukan uji materi ke MK agar penggunaan GPS dalam telepon dikecualikan.

Pada bulan itu Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra menegaskan, "Apapun itu, tidak hanya aplikasi, kalau dia menggunakan handphone saat berkendara itu tidak boleh." (h/t detikcom)

Akan tetapi secara terpisah Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto meluruskan di media yang sama, "Jadi kalau dia sambil mengemudi, buka GPS, keliling sambil motor dipegang tangan satu, kan tidak boleh. Di Malaysia sudah ditangkapin itu."

Menanggapi putusan MK itu Daniel Victor, anggota Paguyuban Pengemudi Online Jogja (PPOJ) Yogyakarta, mengakui GPS penting bagi pengemudi taksi. Kepada Tempo.co pekan lalu dia bilang, "Kami sadari bermain handphone sambil berkendara memang berbahaya, tapi tentu kami kan tidak akan seperti itu."

Dua hari lalu (13//2/2019), Direktur Jenderal Perhubungan Darat di Kementerian Perhubungan, Budi Setiadi, berujar, "Kami kerja sama dengan pakar transportasi dan psikolog untuk melihat apa GPS itu mengganggu konsentrasi."

Pernyataan itu, dalam kutipan Katadata.co.id, disertai buntut, "Memang debatable, tapi sementara jangan digunakan (ketika berkendara) dulu."

Maksud Budi, jangan gunakan dulu GPS dalam ponsel.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR