PENCEMARAN LINGKUNGAN

Gubernur Jabar jamin nelayan Karawang segera dapat ganti rugi

Petugas mengumpulkan tumpahan minyak mentah yang tercecer di Pesisir Pantai Tanjungsari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/8/2019).
Petugas mengumpulkan tumpahan minyak mentah yang tercecer di Pesisir Pantai Tanjungsari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/8/2019). | M Ibnu Chazar /Antara Foto

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, meminta agar para nelayan di perairan utara Karawang tetap tenang walau lautan masih dicemari oleh minyak yang keluar dari pipa milik Pertamina yang bocor. Dia menjamin warga bakal mendapat ganti rugi yang layak.

Emil, sapaan akrab sang gubernur, juga meminta agar para nelayan tidak menjual ikan hasil tangkapan yang telah tercemar minyak.

"Ini kan nantinya akan diganti rugi. Jadi saya mengimbau jangan melakukan tindakan yang nanti akan merugikan (mereka) yang tidak tahu, dengan menjual ikan yang terkena oleh limbah minyak," tegasnya saat berdialog dengan warga di Kantor Desa Cemarajaya, Cibuaya, Karawang, Rabu (7/8/2019), dikutip Antaranews.com.

Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Karawang menghitung ada setidaknya 8.000 nelayan dan pengepul ikan, serta 900 petani tambak di 10 desa, dengan luas lahan sekitar 5.000 hektare, yang dirugikan. Mereka kehilangan mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Selain itu, menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Karawang, Hendro Subroto, kepada Merdeka.com, Jumat (9/8), ada sekitar 108,2 hektare tambak garam milik 64 petambak di tiga desa yang berhenti beroperasi. Akibatnya, 726,28 ton produksi garam terancam.

"Petani garam secara langsung terdampak karena bahan bakunya sudah terkontaminasi tumpahan limbah B3," jelas Hendro.

Hingga berita ini ditulis, Pertamina masih menghitung jumlah kompensasi yang akan dibayarkan kepada warga terdampak. Gubernur Jabar juga telah memerintahkan Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana, untuk juga menghitung kerugian yang diderita warga seobjektif mungkin.

Emil meminta Pertamina bisa menyelesaikan ganti rugi dalam 10 hari ke depan. "Saya berharap Pertamina tidak hanya ganti rugi tetapi juga memberi ekstra karena ada dampak psikologis (terhadap masyarakat)," tegasnya.

Direktur Utama Pertamina Hulu Energi, Meidawati, menyatakan, sembari menunggu penghitungan ganti rugi, pihaknya "memberdayakan" nelayan yang tak bisa melaut dengan menjadi relawan untuk mengangkut oli yang menggenang di laut.

Meski statusnya relawan, menurut Meidawati, mereka akan diberi upah, minimal Rp120.000 per hari, agar para nelayan itu masih mendapat penghasilan harian.

"Jadi ada biaya penggantian itu kami sepakati. Mereka yang mengumpulkan spill-spill oil (tumpahan minyak) di laut (dapat) Rp100 ribu per hari, dengan uang makan Rp20 ribu. Terus kami angkut ada tonasi per kilo, sekitar per 3-5 kilogram itu Rp20 ribu-an," jelasnya, dinukil CNNIndonesia.com (8/8).

"Kemudian, dari titik kumpul mereka ke truk untuk kami angkut. Itu ada biaya Rp120 ribu per tonasi tadi ditambah uang makan."

Pembersihan ditargetkan selesai 2020

Seorang anak berada di samping tumpukan karung berisi ceceran minyak mentah di Pantai Mekarjaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/8/2019).
Seorang anak berada di samping tumpukan karung berisi ceceran minyak mentah di Pantai Mekarjaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/8/2019). | Sigid Kurniawan /Antara Foto

Sampai saat ini, jelas Meidawati, sudah 3.965,71 barel tumpahan minyak yang berhasil diangkat dari lepas pantai. Untuk mengangkut tumpahan minyak tersebut, mereka menggunakan 1.047.386 karung yang total beratnya mencapai 4.900 ton.

Satu karung beratnya 4,6 kg yang isinya antara lain 10 persen tumpahan minyak, selebihnya berisi pasir dan batu.

Pertamina mengklaim volume tumpahan minyak mentah yang tercecer saat ini tinggal 10 persen jika dibandingkan dari volume awal yang tumpahannya ditaksir mencapai 3.000 barel per hari.

Meidawati mengatakan, penanggulangan tumpahan minyak tersebut dilakukan dalam jangka waktu panjang. Tahap penanggulangan dilakukan Juni-September 2019.

"Dalam tahap ini kami menanggulangi dampak langsung dari tumpahan minyak, berkomunikasi dengan masyarakat, menyediakan sarana prasarana kesehatan, pengerahan sukarelawan, dan sebagainya," ujarnya.

Sementara tahap pemulihan akan dilakukan Oktober 2019-Maret 2020. Tahap itu di antaranya meliputi pemulihan dampak lingkungan dan sosial seperti rehabilitasi dan pemeliharaan pascainsiden, serta penataan dan pembangunan ulang sarana umum.

Selanjutnya merupakan tahap pascapemulihan dengan menjalankan program CSR. "Dilanjutkan dengan program rutin yang berlangsung hingga akhir 2020,"tambahnya.

Pengeboran sumur baru

Pada Kamis (8/8), PT Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ) mengklaim berhasil mempercepat pengeboran sumur baru relief well (RW) YYA-1RW, yang berfungsi menutup sumur YYA-1.

VP Relations Pertamina Hulu Energi, Ifki Sukarya menyatakan, hingga saat ini, PHE ONWJ telah melakukan pengeboran sumur baru YYA-1RW mencapai kedalaman sekitar 624 meter dari target 2.765 meter.

"Kami akan mengontrol sumur YYA-1 melalui sumur baru YYA-1RW ini, sehingga nanti bisa secepatnya menutup sumur agar tidak lagi menumpahkan minyak," ujar Ifki, dalam siaran pers.

Sumur baru tersebut dibor secara miring menuju lokasi lubang sumur YYA-1 hingga mencapai titik kedalaman tanah tertentu untuk menutup sumur YYA-1. Pengeboran sumur baru itu telah dimulai sejak Kamis (1/8) pukul 14.00 WIB atau dua hari lebih cepat dari jadwal semula.

Pengeboran sumur relief well YYA-1RW merupakan upaya PHE ONWJ untuk menghentikan gelembung gas di sumur YYA-1 setelah selama satu minggu terakhir melakukan survei untuk menentukan titik sumur dan penempatan menara bor (rig).

PHE ONWJ memakai perusahaan well control kelas dunia untuk mematikan sumur YYA-1 itu, yakni Boots & Coots. Perusahaan asal AS itu berpengalaman menghentikan insiden serupa di Teluk Meksiko pada 2010.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR