BENCANA ALAM

Gunung Agung erupsi selama 4 menit, status siaga

Gunung Agung mengeluarkan abu vulkanik panas ke udara seperti yang terlihat dari Desa Kubu di Karangasem, Bali, Indonesia, 29 Juni 2018
Gunung Agung mengeluarkan abu vulkanik panas ke udara seperti yang terlihat dari Desa Kubu di Karangasem, Bali, Indonesia, 29 Juni 2018 | Made Nagi /EPA-EFE

Gunung Agung (3142 mdpl) yang terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, kembali erupsi pada Kamis (10/1/2019). Tidak ada korban dalam letusan itu, aktivitas penerbangan juga tidak terganggu.

Berdasarkan catatan yang terekam di Pos Pemantauan Gunung Agung di Desa Rendang, erupsi terekam seismograf dengan durasi kurang lebih 4 menit. Amplitudo maksimum 22 mm. Sementara kolom abu sulit terlihat karena tertutup kabut tebal.

Erupsi terjadi pada pukul pukul 19.55 WITA dan berlangsung selama 4 menit 26 detik. Hingga saat ini, status Gunung Agung masih berada di level III atau siaga.

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy K Syahbana, mengatakan bahwa berdasarkan laporan pantauan satelit yang diterima PVMBG dari Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, ketinggian abu erupsi Gunung Agung mencapai 2.000 meter dari puncak.

“Kami baru mendapat estimasi satelit dari VAAC Darwin, ketinggian erupsi sekitar 5.400 meter di atas permukaan laut, atau sekitar 2.000 meter di atas puncak Gunung Agung,” katanya pada Tempo.co (11/1).

Erupsi tersebut juga mengakibatkan gempa beberapa kali mengguncang Pulau Dewata.

"Melalui rekaman seismograf tanggal 10 Januari 2019 tercatat satu kali gempa letusan, satu kali gempa vulkanik dalam, enam kali gempa vulkanik dangkal, tujuh kali gempa embusan, dan dua kali gempa tektonik jauh," dikutip dari situs ESDM (11/1).

PVMBG ESDM juga mengimbau kepada para wisatawan, masyarakat, maupun pendaki untuk tidak melakukan segala macam aktivitas pada Zona Perkiraan Bahaya, yaitu di seluruh area dalam radius 4 km dari kawah Puncak Gunung Agung karena ditakutkan Gunung Agung akan kembali mengeluarkan abu vulkanik.

Zona Perkiraan Bahaya bersifat dinamis dan terus dievaluasi. Artinya, status zona dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual.

Kemudian, masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai berhulu di Gunung Agung diminta mewaspadai potensi ancaman lahar hujan.

Kondisi ini dapat terjadi terutama pada musim hujan, dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di gunung tersebut.

Paparan abu vulkanik Gunung Agung dilaporkan Okezone (11/1) sudah menyambangi Kabupaten Buleleng.

Beberapa warga menemukan sebaran abu dengan intensitas tipis di sejumlah benda. Kebanyakan ditemukan di atas jok sepeda motor atau kaca dan sebagian pada bodi mobil yang diparkir di halaman rumah. Devy menyampaikan lontaran material yang keluar dari erupsi ini berupa kerikil, abu, dan pasir.

Perihal tersebut juga sudah dikonfirmasi oleh Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Ketut Susila. Dari laporan yang masuk ke BPBD, wilayah perkotaan dan desa-desa di Buleleng timur termasuk yang terpapar abu vulkanik itu.

“Laporan yang masuk wilayah kota dan Buleleng timur, terutama desa-desa yang lokasinya agak ke selatan yang ditemukan paparan debu vulkanik,” katanya.

Erupsi yang terjadi semalam merupakan letusan kedua setelah pertama terjadi pada 30 Desember 2018 yang terjadi selama 3 menit 8 detik. Sebelum itu, Gunung Agung sempat "tertidur" selama lima bulan selama berlangsungnya rangkaian Gempa Lombok.

"Ini balik lagi ke fase erupsi Gunung Agung sebelum Gempa Lombok," pungkas Devy K Syahbana.

Pada 22 November 2017 Gunung Agung sempat meletus, mengeluarkan asap setinggi 700 meter dari mulut kawah. Itu adalah letusan kesembilan dalam dua abad terakhir.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR