BENCANA ALAM

Gunung Agung meletus, tapi belum serius

Asap kelabu mengepul dari dari kawah Gunung Agung di Kabupaten Gianyar, Bali, Selasa (21/11/2017),
Asap kelabu mengepul dari dari kawah Gunung Agung di Kabupaten Gianyar, Bali, Selasa (21/11/2017), | Nyoman Budhiana /Antara Foto

Ditunggu tak terjadi dan ketika perhatian masyarakat teralihkan justru peristiwanya terjadi. Itu yang ditunjukkan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali.

Gunung setinggi 3.142 mdpl itu dinyatakan meletus pada Selasa (21/11/2017) pukul 17.05 WITA. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan letusan Gunung Agung mengeluarkan asap setinggi 700 meter dari mulut kawah.

Letusan ini cukup mengejutkan karena status Gunung Agung sebenarnya turun ke Siaga (Level III) sejak 29 Oktober. Sementara status Awas disandang selama satu bulan hingga 22 Oktober lalu.

PVMBG menjelaskan bahwa letusan Gunung Agung terbaru diawali oleh gempa tremor frekuensi rendah. Adapun asapnya bertekanan sedang dengan warna kelabu tebal.

Abu letusan tertiup ke arah timur-tenggara. Sejauh ini, status gunung tetap Level III. Lantaran tanda-tandanya, ini bukan letusan yang besar meski tetap harus diwaspadai.

PVMBG pun mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat tidak mendekati gunung tersebut, termasuk dilarang mendaki. Zona Perkiraan Bahaya terletak dalam radius 6 km dari kawah dan perluasan sektoral ke arah utara-timur laut dan tenggara-selatan-barat daya sejauh 7,5 km.

Zona Perkiraan Bahaya bersifat dinamis dan terus dievaluasi sehingga bisa berubah sewaktu-waktu. Adapun wilayah terdampak antara lain:

  • Dusun Br. Belong, Pucang, dan Pengalusan (Desa Ban)
  • Dusun Br. Badeg Kelodan, Badeg Tengah, Badegdukuh, Telunbuana, Pura, Lebih dan Sogra (Desa Sebudi)
  • Dusun Br. Kesimpar, Kidulingkreteg, Putung, Temukus, Besakih dan Jugul (Desa Besakih)
  • Dusun Br. Bukitpaon dan Tanaharon (Desa Buana Giri)
  • Dusun Br. Yehkori, Untalan, Galih dan Pesagi (Desa Jungutan)
  • sebagian wilayah Desa Dukuh.
Peta keberadaan Gunung Agung di Karangasem, Bali.
Peta keberadaan Gunung Agung di Karangasem, Bali. | Google Maps

Apabila erupsi membesar, maka hujan abu lebat bisa melanda seluruh dalam dan luar wilayah Zona Perkiraan Bahaya. Sebarannya tergantung arah dan kecepatan angin.

Itu sebabnya masyarakat juga disarankan menyiapkan masker penutup hidung dan mulut serta pelindung mata sebagai upaya mengantisipasi potensi bahaya abu vulkanik yang bisa menyebabkan gangguan pernapasan akut (ISPA).

Satu hal lain yang juga penting adalah menjaga suasana di Pulau Bali tetap kondusif. "...tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya," tulis PVMBG.

BNPB menyebutkan letusan Gunung Agung kali ini adalah kategori freatik yang disebabkan oleh uap air bertekanan tinggi. Uap terbentuk oleh pemanasan air hujan yang meresap masuk ke bawah tanah dan mengalami kontak dengan magma.

Letusan freatik disertai asap, abu, dan kerikil dari dalam kawah. Namun demikian letusan freatik tak pernah bisa diprediksi.

Kelihatannya memang tidak terlalu berbabahaya. Letusan freatik bisa terjadi tanpa erupsi magmatik. Namun tidak tertutup kemungkinkan menjadi awal erupsi magmatik besar.

Ini pernah terjadi pada Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang hingga kini masih berstatus Awas. Letusan freatik Gunung Sinabung pernah berlangsung sejak 2010 hingga muncul letusan magmatik pada 2013 hingga sekarang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyatakan peristiwa baru pada Gunung Agung ini tidak memengaruhi aktivitas di Pulau Bali secara keseluruhan. Bandara Internasional Ngurah Rai tetap beroperasi normal.

Bandara Internasional Lombok di Nusa Tenggara Barat juga tidak terpengaruh alias beroperasi dengan normal. "Sampai saat ini, tidak ada dampak terhadap penerbangan di Lombok Internasional Airport (LIA)," ujar I Gusti Ngurah Ardita, General Manager Angkasa Pura I Lombok Internasional Airport, kepada Bisnis.com.

Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa, mengatakan sudah mencium bau belerang dan ada suara gemuruh di sekitar Gunung Agung (Kawasan Rawan Bencana II).

"Ada hujan abu dan bau belerang...," katanya di Karangasem, Rabu (22/11), dalam Sindonews. Sedangkan Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devi Kamil Syahbana, menjelaskan hujan abu hanya tipis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR