Gunung Agung mulai ''awas''

Siluet Gunung Agung di pulau Bali terlihat dari pinggiran pantai Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (21/9/2017). Status aktivitas Gunung Agung kini menjadi "awas".
Siluet Gunung Agung di pulau Bali terlihat dari pinggiran pantai Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (21/9/2017). Status aktivitas Gunung Agung kini menjadi "awas". | Ahmad Subaidi /Antara Foto

Situasi Gunung Agung di Karangasem, Bali, kian serius. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun meningkatkan statusnya dari "siaga" ke "awas" pada Jumat (22/9/2017) malam WITA.

Selain menaikkan status ke level IV, PVBMG juga memperluas daerah aman. Bila pada Selasa (19/9) lalu radius aman adalah 7,5 km dari puncak, kini makin menjauh hingga 9 km dari puncak. Sementara perluasan sektoral menjadi 12 Km arah utara - timur laut, tenggara, dan selatan - barat daya.

Jadi, demikian siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tak boleh ada aktivitas masyarakat atau wisatawan di area tersebut. Artinya, kompleks Pura Besakih yang terletak di sebelah selatan-barat daya pun harus steril.

Data VSI ESDM menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Agung meningkat drastis sejak berstatus "siaga". Gempa vulkanik dangkal terekam 113 kali berdurasi 5 - 14 detik.

Lalu tercatat pula 1947 kali gempa vulkanik dangkal selama 7 - 36 detik. Berikutnya ada 85 kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 5 - 8 mm selama 29 - 78 detik.

Kemudian ada 1 kali gempa tektonik dengan amplitudo 8 mm dan durasi 66 detik dan 2 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 2 - 9 mm serta berdurasi 62 - 147 detik.

Seluruh gempa ini dirasa semakin sering oleh para penduduk dan petugas di Pos Pengamatan Gunung Agung di Rendang. Terlihat pula kemunculan asap solfatara di kawah Gunung Agung setinggi 200 meter dari bibir kawan dengan intensitas putih tipis sampai sedang dengan tekanan lemah.

"Ini indikasi bahwa pergerakan magma yang terakumulasi di bawah permukaan menjadi semakin besar," demikian VSI ESDM seraya menambahkan bahwa aktivitas giat gunung setinggi 3.031 meter itu belum akan berhenti dalam waktu dekat.

VSI ESDM juga memperkirakan dan berusaha mengantisipasi bila Gunung Agung meletus. Skenario dampak bencana dengan potensi sebaran abu vulkanik bisa tersebar hingga arah barat laut Gunung Agung.

Artinya, aktivitas penerbangan dari timur Jawa seperti Surabaya dan Banyuwangi ke Bali dan sebaliknya bisa terganggu atau bahkan dihentikan sementara. Namun potensi itu juga bergantung pada arah dan kecepatan angin.

Namun perlu dicatat bahwa hingga Sabtu (23/9) pagi WIB, Gunung Agung belum meletus dan tetap belum ada hujan abu. Tentu saja aktivitas gunung tersebut membuat warga di sekitarnya harus mengungsi.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, melalui kicauan di Twitter sudah ada 11 ribu pengungsi mandiri. Bahkan mereka mengungsi saat status gunung masih "siaga".

Dalam siaran persnya, Sutopo menjelaskan bahwa para pengungsi tersebar di Kabupaten Karangasem (40 titik), Kabupaten Klungkung (2 titik), dan Kabupaten Buleleng (8 titik). Para pengungsi pun dipastikan terus bertambah dengan memenuhi gedung olahraga, balai desa, balai banjar, atau tinggal di rumah kerabatnya.

Yang jelas, lanjut Sutopo, BNPB dan pihak terkait terus menyalurkan bantuan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, sanitasi, MCK, selimut, matras, dan obat-obatan. Bila masyarakat luas ingin mencari tahu informasi detail atau hendak mengirim bantuan bisa menghubungi Posko darurat Gunung Agung dengan nomor telepon 081353965324.

"Masyarakat diimbau untuk tenang. Jangan terpancing pada isu-isu yang menyesatkan. Hingga saat ini Gunung Agung belum meletus," pungkas Sutopo.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR