Gunung Sinabung tak henti meletus dan relokasi yang terhambat

Personel TNI dan warga berjaga di area zona merah Desa Gamber kawasan kaki Gunung Sinabung, Karo, Sumatera Utara, Rabu (18/1/2017).
Personel TNI dan warga berjaga di area zona merah Desa Gamber kawasan kaki Gunung Sinabung, Karo, Sumatera Utara, Rabu (18/1/2017). | Septianda Perdana /Antara Foto

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara seakan tak pernah berhenti memperlihatkan kekuatannya. Sejak Kamis (2/2/2017) hingga Selasa (7/2/2017), abu putih tebal keabuan membubung dari puncak dengan guguran lava yang meluncur ke beberapa arah.

Pos Pengamatan Gunung Sinabung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, mengamati erupsi disertai luncuran awan panas terus berlangsung tanpa dapat diprediksi kapan aktivitas vulkanik akan menurun. Sejak Juni 2015 hingga sekarang status Gunung Sinabung tetap Awas (level IV) dan kawasan rawan bencana terus meluas.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, melaporkan berturut-turut letusan pada 2/2/2017 sebanyak 8 kali, lalu pada 3/2/2017 meletus 12 kali, 4/2/2017 meletus lagi 12 kali, selanjutnya 5/2/2017 sudah meletus 7 kali hingga sore hari.

Sejak 6/2/2017 hingga 7/2/2017 pagi terjadi erupsi sebanyak 8 kali letusan tanpa disertai suara dentuman, kolom abu putih tebal keabuan mencapai ketinggian 1.000-2.000 meter dari puncak, condong mengarah timur. Erupsi juga disertai guguran lava meluncur sejauh 500-2000 meter ke arah selatan, tenggara, dan timur.

Larangan terhadap masyarakat terus diberlakukan. PVMBG merekomendasikan masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak boleh melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan dalam jarak 7 km untuk sektor selatan-tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor tenggara-timur, serta di dalam jarak 4 km untuk sektor utara-timur gunung Sinabung.

"Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di gunung Sinabung agar tetap waspada terhadap potensi bahaya lahar," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, Selasa (7/2/2017).

Sutopo mengatakan, dengan makin meluasnya daerah yang berbahaya maka jumlah masyarakat yang harus direlokasi juga bertambah. Pemerintah Daerah Karo kesulitan mencari lahan untuk relokasi.

Relokasi tahap I sebanyak 370 kepala keluarga sudah selesai dilakukan di kawasan Siosar sekitar 35 kilometer dari desa asalnya yaitu Desa Bekerah dan Simacem. Masyarakat mendapat bantuan rumah, lahan pertanian seluas 0,5 hektare per kepala keluarga dan bantuan lain.

Saat ini Perintah sedang menyelesaikan relokasi tahap II untuk 1.903 kepala keluarga. Sebanyak 1.655 unit rumah ditargetkan selesai pada Agustus 2017. Selanjutnya masih ada 1.050 kepala keluarga yang harus direlokasi tahap III nantinya.

Sutop mengatakan faktor penghambat utama adalah ketersediaan lahan. Lahan relokasi permukiman dan usahan tani belum tersedia sepenuhnya. Lahan tapak rumah sudah disiapkan di Siosar untuk 2.053 kepala keluarga seluas 250 hektare. "Namun tidak tersedia lahan usaha tani sehingga masyarakat tidak bersedia direlokasi," kata Sutopo.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah memberikan lahan APL (Area Penggunaan Lain) seluas 6.300 hektare yang cukup untuk permukiman dan usaha tani. Namun di lapangan lahan ini semua sudah dikuasai pihak lain. Oleh karena itu perlu pemberian izin pinjam pakai kawasan hutan seluas 750 hektare untuk menampung relokasi sejumlah 1.271 kepala keluarga.

Sutopo menegaskan relokasi akan terhambat tanpa lahan baru sehingga masyarakat akan lebih lama tinggal di pengungsian dan sulit membangun kehidupan yang lebih baik. "Kunci utama penyelesaian pengungsi Sinabung adalah penyediaan lahan untuk permukiman dan usaha tani relokasi," kata Sutopo.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR