Gusti Randa saat pengambilan foto dengan Beritagar.id, di salah satu cafe di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2019).
Gusti Randa saat pengambilan foto dengan Beritagar.id, di salah satu cafe di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2019). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BINCANG MINI

Gusti Randa: Saya Pelaksana Harian PSSI, bukan Iwan

Ia mengklaim ditugasi Joko Driyono sebagai Pelaksana Harian PSSI. Baginya, Jokdri adalah Ketua Umum PSSI yang sah.

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sepertinya tak pernah jauh dari prahara. Mundurnya Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum jelang tutup Januari 2019, berbuntut panjang. Terlebih, kala Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola bertugas akhir tahun lalu.

Pengganti Edy, Joko Driyono, lantas dicokok Satgas akibat kasus penghilangan barang bukti pengaturan skor. Jokdri--panggilan Joko--kemudian menugasi Gusti Randa sebagai pelaksana harian PSSI.

Namun, sejak awal bulan ini, tersiar kabar bahwa Iwan Budianto (Wakil Ketum PSSI) lah yang mengambil alih nakhoda PSSI, menggantikan Gusti lewat rapat Executive Committee (Exco) di Hotel Sultan, Kamis (28/3/2019) .

Untuk hal ini, Gusti membantah. "Iwan bukan (pengganti Jokdri)," ucapnya. Gusti mengatakan, tidak ada rapat Exco soal keputusan mengangkat Iwan mengantikan Jokdri yang dilaksanakan di Hotel Sultan. "Saya masih Pelaksana Harian."

Sebenarnya, soal siapa pucuk pimpinan tadi hanya sedikit dari prahara yang mendera PSSI. Masih banyak masalah lain yang menggelayuti federasi sepak bola tertinggi di Indonesia, seperti soal pengaturan skor dan penangkapan beberapa petingginya.

Gusti mengatakan bahwa masalah-masalah tersebut adalah individu. "PSSI sebagai organisasi, berjalan on the track," ucapnya kepada Beritagar.id, Rabu (27/3/2019) siang di salah satu cafe di FX Sudirman, Jakarta Pusat.

Hari itu, Gusti tampil perlente. Ia mengenakan jas dan celana hitam, kemeja putih berlengan panjang. Rambutnya ia sisir ke belakang dan tampak mengkilap. Saat sesi pengambilan foto, ia berucap, "(Penampilan) gue kayak mafia ini."

Untuk melengkapi tulisan, kami sempat menanyakan ulang soal posisi Pelaksana Harian PSSI saat ini lewat aplikasi pesan WhatsApp pada Jumat (5/4/2019).

Gusti Randa saat pengambilan foto dengan Beritagar.id, di salah satu cafe di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2019).
Gusti Randa saat pengambilan foto dengan Beritagar.id, di salah satu cafe di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Saat ini Iwan Budianto disebut-sebut sebagai Ketum PSSI menggantikan Jokdri. Benar demikian?
Bukan. Tidak ada rapat Exco dan tidak ada keputusan apa-apa mengenai itu. (Jadi) tidak ada simpang siur.

Posisi Anda sendiri saat ini sebagai apa di PSSI?
Saya ini Pelaksana Harian yang ditugasi oleh Ketum PSSI, Pak Jokdri.

Legalitas posisi Anda disebut tak sah karena Jokdri merupakan Pelaksana Tugas (Plt) yang tak bisa menyerahkan kuasa.
Di statuta itu tidak ada istilah Plt. Pak Jokdri adalah Ketum sah yang menggantikan pak Edy. Dan sebagai Ketum, Pak Jokdri boleh memberi surat tugas kepada siapa pun. Kebetulan saya yang dipilih.

Artinya, posisi Jokdri dalam memberi surat tugas sah?
Benar. Karena tidak ada yang dilanggar. Pak Jokdri itu sampai saat ini masih sebagai Ketum PSSI, tidak mengundurkan diri seperti Pak Edy. Dan, surat tugas itu sifatnya biasa saja. Sewaktu-waktu bisa dicabut juga.

Saat Anda diberikan surat tugas diketahui Iwan?
Saat itu ada pak Iwan juga. Namun, semua kan tergantung yang memberi surat tugas. Pak Jokdri memilih saya.

Pertimbangan Jokdri pilih Anda?
Pak Jokdri mungkin berpikir normatif. Pertama, dalam waktu dekat, yang harus dipastikan adalah liga berjalan. Kalau liga berjalan, tentu lebih dekat dengan persoalan regulasi, aturan, dan lain sebagainya.

Kedua, harus menjalankan road map Kongres Luar Biasa (KLB/Agustus 2019). KLB lebih banyak mengurus tata urutan aturan atau tahapan-tahapan. Untuk menjalankan itu, perlu anggota Exco yang membidangi hukum. Itu kan saya.

Ini dugaan atau pertimbangan sebenarnya Jokdri yang disampaikan ke Anda?
Ya kira-kira itu, karena tugas saya dua hal tersebut. Saya sudah bicarakan soal ini juga dengan pak Jokdri.

Komentar Iwan saat Anda yang dipilih?
Enggak ada. Oke-oke aja, enggak ada masalah. Karena ini kan sifatnya mengurusi. Jadi apa yang diperebutkan.

Sejumlah pihak menilai Anda tak layak duduk di pucuk PSSI.
Ukurannya apa? Itu kan like or dislike. Pernyataan yang referensinya enggak jelas, akan saya abaikan. Tugas saya hanya menyelesaikan KLB dan memastikan roda organisasi keseharian PSSI berjalan, termasuk Liga Indonesia.

"PSSI hanya seperti terkena getahnya".

Gusti Randa

Banyaknya petinggi PSSI yang tertangkap memengaruhi roda organisasi PSSI?
Sekarang kondisi normal-normal saja. Normal itu takarannya harus diliat dari putusan kongres. Sebentar lagi Liga Indonesia berjalan dan Piala Presiden akan berakhir 12 April. Semua masih on the track. PSSI ini hanya seperti terkena getahnya.

Maksudnya kena getah?
Itu kan (penangkapan) lebih kepada urusan individu, tidak melibatkan institusi. Mereka, yang kebetulan pengurus pusat, melakukan tindak pidana. Kami justru berterima kasih kepada Satgas, karena PSSI tidak bisa menjangkau pidana.

Anda tidak merasa ada yang salah dengan kepengurusan PSSI selama ini?
Saya belum bisa mengevaluasi sejauh itu.

FIFA sudah bersurat kepada PSSI mengenai kondisi ini?
FIFA ini kan mendapat informasi dari media. Tentu FIFA punya bayangan seperti apa yang terjadi di Indonesia. Untuk itu kita harus memberikan penjelasan kepada FIFA.

Penjelasan seperti apa?
Bahwa kehadiran Satgas bukanlah bentuk intervensi. Kita harus memberi masukan itu kepada FIFA.

Kapan Anda akan menyampaikan soal ini ke FIFA?
Dalam waktu dekat kita akan ke kantor FIFA, sebelum dilangsungkannya KLB.

Agenda yang akan Anda sampaikan?
Ada empat. Pertama soal Satgas tadi. Lalu, menjelaskan bahwa KLB ini adalah permintaan Exco. Ketiga minta arahan untuk KLB. Terakhir minta rekomendasi, karena ini KLB percepatan.

KLB permintaan Exco maksudnya bagaimana?
FIFA pasti akan menanyakan soal itu. Kalau dikatakan bahwa KLB adalah permintaan para pemilik suara, kita tidak mempunyai bukti itu. Selain itu, Exco juga melihat aspirasi publik yang meminta adanya pergantian kepengurusan.

Anda pribadi melihat keresahan publik?
Kalau saya melihat PSSI dari tahun ke tahun persoalannya itu.

Maksudnya?
Tim Nasional itu cerminan dari PSSI. Kalau timnasnya jelek, publik minta (pengurus PSSI) diganti. Jadi saya kira memang sudah menjadi tabiat kita seperti itu. Bayangkan 4 tahun saja sudah ganti 4 ketua umum.

Ada yang salah dengan tuntutan itu?
Tidak bisa juga disalahkan pendapat publik itu. Karena publik hanya melihat PSSI adalah timnas. Nah, memang PSSI kurang memberi pemahaman kepada publik bahwa tugas mereka banyak.

Bukan kah kualitas timnas kita juga berjalan di tempat, khususnya yang senior?
Kemarin-kemarin, kualitas kontrol timnas kita memang kurang. Ini yang harus dibenahi. PSSI tidak boleh terlena atau merasa sukses.

Sebagai pelaksana harian hingga KLB, apa yang akan Anda lakukan?
Selama ini, PSSI terkesan ekskulsif. Kalau eksklusif gitu, hujatan, cacian, atau masukkan kan nggak bisa kita rangkum. Saya ingin membuka ruang-ruang komunikasi itu. Akan saya buat pertemuan berkala dengan para stakeholder sepak bola Indonesia.

Anda akan mencalonkan diri sebagai Ketum pada KLB nanti?
Ogah.

Gusti Randa saat pengambilan foto dengan Beritagar.id, di salah satu cafe di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2019).
Gusti Randa saat pengambilan foto dengan Beritagar.id, di salah satu cafe di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR