PERSAINGAN USAHA

Halangi pesaing, Aqua didenda Rp20 miliar

Ilustrasi palu pengadilan. Aqua dan distributornya didenda KPPU karena terbukti menghalangi pesaingnya.
Ilustrasi palu pengadilan. Aqua dan distributornya didenda KPPU karena terbukti menghalangi pesaingnya. | Activedia /Pixabay

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai produsen air minum kemasan merek Aqua, PT Tirta Investama (TIV) dan distributornya, PT Balina Agung Perkasa (BAP) bersalah melakukan praktik monopoli dan persaingan usaha yang tak sehat.

Majelis sidang KPPU dalam pertimbangannya menyatakan, kedua perusahaan memenuhi seluruh unsur pelanggaran larangan praktik monopoli.

Keduanya terbukti melanggar Pasal 15 ayat (3) huruf b dan Pasal 19 huruf a dan b Undang-Undang nomor 5 tahun 1999 tentang tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat.

Ketua Majelis Komisi Kurnia Sya'ranie mengatakan TIV dan BAP terbukti menghalangi pelaku usaha lain untuk menjual produknya.

"Berdasarkan fakta-fakta yang ada, terlapor I dan II terbukti secara sah melanggar Pasal 15 ayat (3) huruf b dan Pasal 19 huruf a dan b," ujarnya dalam amar putusan yang dibacakan, Selasa (19/12/2017) seperti dikutip dari Bisnis.com.

Pasal 15 ayat (3) huruf a dan b itu melarang pelaku usaha membuat perjanjian mengenai harga yang memuat syarat:

a. harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok; atau

b. tidak akan membeli barang dan atau jasa yang sama atau sejenis dari pelaku usaha lain yang menjadi pesaing dari pelaku usaha pemasok.

Sedangkan pasal 19 melarang pelaku usaha,

a. menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan; atau

b. mematikan usaha pesaingnya di pasar bersangkutan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

Karena praktik ini, KPPU menilai akses konsumen untuk memilih produk air minum dalam kemasan (AMDK) jadi terbatas.

Akibatnya, Komisi menjatuhkan denda administrasi kepada kedua perusahaan ini. Kepada PT TIV diwajibkan membayar denda senilai Rp13,84 miliar, sedangkan PT BAP membayar Rp6,29 miliar kepada kas negara. Total dendanya Rp20,13 miliar.

Kuasa Hukum PT TIV, Farid Nasution menyatakan pikir-pikir atas keputusan ini. "Karena perlu berkomunikasi lebih lanjut dengan klien," ujar Farid usai sidang di Gedung KPPU, Selasa (19/12/2017) seperti dikutip dari Kontan.co.id.

Farid kecewa atas putusan KPPU. Sebab menurutnya ada beberapa fakta persidangan yang tidak dipertimbangkan oleh majelis komisi. Salah satunya soal data pertumbuhan pangsa pasar Le Minerale.

"Apalagi, berdasarkan data yang kami sajikan di persidangan terlihat usaha AMDK masih terus menawarkan produk yang beragam bagi konsumen kok," tambahnya.

Kasus ini berawal dari somasi yang dilayangkan PT Tirta Fresindo Jaya, produsen AMDK merek Le Minerale, Oktober 2016.

Menurut temuan Le Minerale, Aqua dan distributornya bekerja sama melarang sejumlah toko menjual Le Minerale.

Aqua dan distributornya diduga mengancam akan menurunkan status dan fasilitas bagi toko yang menjual Le Mineralle, dari semula star outlet (SO) menjadi wholeseller (WO). Penurunan status ini membuat toko harus membayar 3 persen lebih mahal atas produk Aqua yang mereka jual.

Misalnya, untuk mendapatkan Aqua ukuran 600 ml per karton, toko SO hanya dikenai harga Rp37.000. Sedangkan bagi toko WO, dihargai Rp39.350.

Namun menurut Farid, keputusan penurunan status toko dari SO ke WO itu bukan keputusan perusahaan, melainkan individu masing-masing karyawan. Belum lagi soal denda, menurut Aqua, majelis tidak jelas perhitungannya seperti apa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR