MITIGASI BENCANA

Halmahera Selatan lanjutkan tanggap darurat sampai 28 Juli

Selimut dan berbagai barang kebutuhan pengungsi masih menumpuk di Posko Induk Tanggap Darurat Bencana, Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan, Pulau Bacan, Minggu (21/7/2019) dinihari WIT.
Selimut dan berbagai barang kebutuhan pengungsi masih menumpuk di Posko Induk Tanggap Darurat Bencana, Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan, Pulau Bacan, Minggu (21/7/2019) dinihari WIT. | Hairil Abdul Rahim /Beritagar.id

Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, memperpanjang masa tanggap darurat bencana gempa bumi selama tujuh hari dari 22 Juli hingga 28 Juli 2019. Keputusan itu diambil lantaran masih ada logistik yang perlu disalurkan dan pendataan kerusakan bangunan akibat gempa magnitudo 7,2 masih berlangsung.

Wakil Bupati Halmahera Selatan Iswan Hasjim mengatakan daerah tanggap darurat bencana gempa bumi yang terjadi pada Minggu (14/7/2019) itu meliputi 10 kecamatan. Masing-masing tujuh kecamatan dari wilayah Gane di Pulau Halmahera, dan sisanya dari wilayah Pulau Bacan.

Menurut Iswan, sampai saat ini sudah 70 persen warga korban gempa yang menerima bantuan. Sedangkan sisanya 30 persen dalam proses penyaluran logistik.

"Kendala yang kami alami selama penyaluran bantuan untuk warga korban gempa ini karena akses jalan dan gelombang laut yang tinggi. Kami kesulitan, tapi alhamdulillah hingga saat ini sudah banyak bantuan yang diterima oleh warga," kata Iswan ketika disambangi Beritagar.id di aula Posko Utama Tanggap Darurat Bencana di Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan, Pulau Bacan, Minggu (21/7) dinihari.

Iswan menyatakan, kerugian materi akibat gempa termaksud masih dalam pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Selatan. "Nanti kalau sudah selesai pendataan baru akan disampaikan ke teman-teman media," sambung Iswan.

Bupati enggan berkomentar

Di sisi lain, penanganan korban gempa belum relatif sesuai harapan. Bahkan Akmal Ibrahim, anggota DPRD Halmahera Selatan, geram pada sikap pemda Halmahera Selatan karena membiarkan seorang korban patah tulang pulang ke desanya.

Novitri, pasien patah tulang pinggul bagian kanan, tiba di lokasi pengungsian Desa Gane Dalam usai kembali dari RSU Labuha, Jumat (19/17/2019).
Novitri, pasien patah tulang pinggul bagian kanan, tiba di lokasi pengungsian Desa Gane Dalam usai kembali dari RSU Labuha, Jumat (19/17/2019). | Hairil Abdul Rahim /Beritagar.id

Korban bernama Novitri pulang ke lokasi pengungsian di Desa Gane Dalam, Kecamatan Gane Barat Selatan, meski tulang pinggul bagian kanan masih patah.

"Dibiarkannya Novitri kembali ke lokasi pengungsian di Desa Gane Dalam itu berarti pemda Halmahera Selatan melepas tanggungjawab atas rakyatnya yang terkena musibah. Apalagi kondisi Novitri (korban patah tulang di bagian kanan pinggul) ini belum layak untuk pulang atau kembali ke desanya,” kata Akmal kepada Beritagar.id melalui telepon, Minggu (21/7).

Akmal menyatakan seharusnya semua pasien dan para korban bencana ini diurus dengan baik dan layak. Padahal gempa ini adalah musibah yang bisa menggunakan semua anggaran untuk kebutuhan korban bencana Halmahera.

"Bagi saya, pemda atau RSU harus bertanggungjawab, masa pasien masih butuh pengobatan tapi dibiarkan balik ke tenda pengungsian. Instansi teknis yang menangani masalah ini memang tidak becus, seharusnya semua pasien korban bencana itu diurus dengan benar sampai dipulangkan dalam keadaan sehat," lanjutnya.

Akmal meminta Bupati Halmahera Selatan Bahrain Kasuba untuk menjadikan masalah ini sebagai catatan bagi satuan dinasnya yang mengurusi persoalan tanggap darurat bencana. “Ini harus menjadi catatan, warga masih banyak yang diabaikan ketika dirujuk ke RSU Labuha. Sehingga bupati harus evaluasi instansi teknis yang menangani ini," tambahnya.

Sementara Bahrain Kasuba saat dikonfirmasi terpisah menolak berkomentar. “(Soal masalah ini) saya belum dapat informasi. Nanti saya tanyakan dulu ke staf dan instansi yang bertanggung jawab soal ini,” kata Bahrain di Pondok Taman Hutan Karet, Bacan, Minggu (21/7) siang.

Novitri sempat ditangani tim medis di RSU Labuha dan dinyatakan membaik sehingga diizinkan rawat jalan. Novitri kemudian dipulangkan ke Desa Gane Dalam menggunakan jalur laut.

Novitri (15 tahun) menderita patah tulang pinggul karena ketiban reruntuhan bangunan rumah, sementara sang adik berusia 8 tahun tertusuk besi beton usai gempa terjadi. Pihak keluarga terpaksa mengobati Novitri di Desa Gane Dalam karena selama di Pulau Bacan, lokasi rumah sakit, tidak ada jaminan tempat tinggal dan biaya hidup.

"Keluarga memilih pulang karena selama berobat di Pulau Bacan sama saja," ucap seorang perwakilan keluarga yang tak mau dikutip namanya, Sabtu (20/7).

Direktur RSU Labuha, Aisia Hasjim, ketika dikonfirmasi menyatakan Novitri memang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter tapi harus kontrol setiap saat. "Kondisinya sudah bisa pulang namun harus kontrol terus, bagaimana kong sudah balik ke Desa Gane Dalam," ujar Aisia dengan gamang.

Namun keluarga korban menyatakan, kondisi Novitri saat balik ke Desa Gane Dalam masih dalam keadaan lemas. Bahkan saat turun dari speedboat pun, korban harus ditandu warga dan keluarga. "Karena korban ini tidak bisa berdiri maupun berjalan," katanya.

M Jusmin, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Halmahera Selatan menyatakan, pihak pemkab sudah berusaha memfasilitasi tempat tinggal korban dan keluarganya selama berada di Pulau Bacan.

"Kami (Pemda Halmahera Selatan) ini tidak punya rumah singgah untuk pasien, dan memang saya sudah sempat berpikir akan menempatkan korban di kos-kosan, namun semua kamar penuh," paparnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR