MITIGASI BENCANA

Hampir separuh Jakarta berpotensi likuefaksi sedang

Kawasan permukiman Perumahan Balaroa di Palu, Sulawesi Tengah, yang porak poranda setahun setelah bencana gempa dan likuefaksi di sana, Jumat (27/9/2019).
Kawasan permukiman Perumahan Balaroa di Palu, Sulawesi Tengah, yang porak poranda setahun setelah bencana gempa dan likuefaksi di sana, Jumat (27/9/2019). | Mohamad Hamzah

Hampir separuh wilayah DKI Jakarta berpotensi likuefaksi sedang. Sebarannya meliputi Jakarta Utara, Barat, dan Pusat, yang mencakup seperti Grogol dan Gambir.

Kecamatan Penjaringan tergolong berpotensi rendah. Sementara daerah tetangganya yang berada di tepi laut Kecamatan Pademangan justru punya kerentanan tinggi.

Begitu pula di pesisir Cilincing, Jakarta Utara. Bercak magenta menandakan zona kerentanan likuefaksi tinggi. Adapun warna kuning berarti kerentanannya sedang, sementara hijau tergolong rendah.

Itu lah gambaran dari Atlas Zona Likuefaksi yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2019. Likuefaksi merupakan salah satu bahaya ikutan gempa, seperti terjadi di Palu (Sulawesi Tengah), setahun silam. Fenomena itu muncul karena lapisan tanah kehilangan kekuatan akibat beban guncangan gempa berkekuatan besar.

Adapun atlas termaksud berisi lokasi yang berpotensi terjadi likuefaksi dari Aceh sampai Papua. Pada peta edisi perdana itu Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam sambutan tertulisnya menyatakan atlas ini berusaha memberikan informasi yang mudah dipahami tentang kondisi kerentanan likuefaksi di Indonesia.

Atlas ini disusun para ahli kebumian di Badan Geologi. Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar pada sambutan tertulisnya menyatakan penelitian dan penyelidikan likuefaksi di lembaganya sudah berlangsung sejak 1990 dan hingga kini terus berlanjut.

"Latar belakang pembuatan atlas ini adalah karena kejadian yang menyebabkan banyak korban jiwa di Palu dengan tipe likuefaksi aliran nan langka terjadi di Indonesia," kata anggota tim penulis atlas, Taufiq Wira Buana, di Bandung, Sabtu (12/10/19).

Sewaktu Palu diguncang gempa dan dilanda tsunami pada 28 September 2018, daerah seperti Petobo, Balaroa, dan Jono Oge mengalami likuefaksi. Fenomena alam itu punya ragam jenis.

Pada atlas, warna magenta yang menandakan zona kerentanan tinggi, likuefaksi dapat terjadi secara merata. Struktur tanah umumnya menjadi rusak parah hingga hancur. Tipe kerusakan struktur tanah yang terjadi berupa likuefaksi aliran, pergeseran lateral, penurunan tanah, atau berupa semburan pasir.

Sementara di zona kuning yang kerentanannya sedang, likuefaksi bisa terjadi secara tidak merata dan struktur tanah umumnya rusak. Tipe kerusakan tanah yang terjadi berupa pergeseran lateral, penurunan tanah, dan semburan pasir.

Di zona hijau adalah kerentanan rendah, likuefaksi tergolong jarang terjadi. Umumnya likuefaksi yang terjadi berupa titik-titik semburan pasir dan sedikit menimbulkan kerusakan pada struktur tanah.

Adapun warna abu menandakan wilayah di peta tidak rentan likuefaksi. Metrodologi pembuatan atlas zona kerentanan likuefaksi ini berdasarkan faktor kegempaan dan faktor geologi atau batuan suatu daerah.

Dari faktor kegempaan, tim menggunakan nilai percepatan tanah puncak saat terjadi gempa sebesar 0,1 g atau lebih pada periode ulang likuefaksi 500 tahun. Sementara dari faktor geologi, tim menggunakan rekam data Badan Geologi soal riwayat likuefaksi di Indonesia dan referensi lain.

Berdasarkan laporan kejadian likuefaksi di Indonesia, lokasinya bisa terjadi di dataran tinggi hingga lereng landai. Jenis litologi berupa material sedimen urai, dan jenuh air.

Kedalaman muka air tanah penyebab likuefaksi di Indonesia umumnya kurang dari 10 meter. Beberapa fenomena likuefaksi misalnya saat Gempa Tarutung di Sumatera Utara pada 27 April 1987 bermagnitudo 6,6.

Kemudian Gempa Alor, Nusa Tenggara Timur, pada 7 April 1991 bermagnitudo 6,9. Lalu pada Gempa Liwa, Lampung, 15 Februari 1994 bermagnitudo 7. Sementara Gempa Bantul, Yogyakarta 27 Mei 2006 bermagnitudo 6,2 menimbulkan likuefaksi di Bantul, Sleman, dan Klaten.

Skala peta likuefaksi ini masih belum detail yaitu 1:100.000. Namun ini sudah memadai karena selain memberi indikasi awal kejadian likuefaksi, atlas tersebut bisa dipakai sebagai informasi awal untuk perencanaan regional seperti pemilihan lokasi untuk pengembangan kawasan.

Misalnya untuk industri, perkotaan, perdagangan atau jasa. Dari atlas itu kebanyakan zona likuefaksi berada di daerah dekat laut. Sebagian kecil tersebar di pedalaman pulau. Adapun publik bisa mengunduh atau mendapatkannya secara gratis di laman ESDM; https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-atlas-zona-likuefaksi-indonesia.pdf.

"Rencana akan kita sebar (atlas) ke pemerintah daerah, tapi ini baru launching dan sebenarnya semua sudah bisa akses di website," kata Taufiq di Bandung.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR