Hani yang pikunan, dan Jessica yang doyan kopi tahanan

Jessica Kusuma Wongso berada di dalam mobil usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (19/1/2016). Jessica diperiksa sebagai saksi terkait dengan kasus kematian Mirna di Olivier Cafe, West Mall Grand Indonesia.
Jessica Kusuma Wongso berada di dalam mobil usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (19/1/2016). Jessica diperiksa sebagai saksi terkait dengan kasus kematian Mirna di Olivier Cafe, West Mall Grand Indonesia. | M. Iqbal Ichsan /TEMPO

Jessica Kumala Wongso ogah mencicip es kopi Vietnam yang diminum Wayan Mirna Salihin karena sakit mag. Namun, sebulan lewat sejak kematian Mirna, Jessica justru rutin minum kopi.

"Dia (Jessica) yang minta kopinya," kata Direktur Perawatan Tahanan dan Barang Bukti Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Barnabas, Rabu (3/2/2016).

Selama tiga hari di sel sebagai tersangka pembunuh Mirna, Jessica beberapa kali minta dibelikan kopi ke penjaga. Biasanya, kata Barnabas, perempuan lulusan Billy Blue Collage, Australia itu memesan kopi pada sore dan malam. "Kita kasihan, akhirnya diberikan," katanya.

Di ruang penyidik, Rabu (3/2/2016), teman mendiang Mirna yang lain, Hani, diperiksa sebagai saksi selama 12 jam. Hani pernah menyatakan ikut mencoba es kopi Vietnam yang menewaskan Mirna. Tapi hal itu dibantah Edi Dharmawan Salihin, ayah Mirna. "Dia (Hani) bohong," kata Dharmawan.

Dharmawan sempat meminta Hani diperiksa dokter Rumah Sakit Abdi Waluyo. Hasilnya, "Hani sehat dan baik-baik saja," ujarnya.

Pemeriksaan Hani berlangsung hingga 00:05 WIB, Kamis (4/2/2016) sejak Rabu siang sekira pukul 13.00 WIB. Ia dicecar 47 pertanyaan. "Saya lelah sekali," ujar Hani, memakai baju biru dengan selendang bermotif polkadot .

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti mengatakan ada hal baru dari pemeriksaan yang ke lima ini, meski Hani banyak lupa. "Seperti biasa, dia masih lupa, kami bantu ingatkan," ujar Krishna, enggan membeberkan fakta baru yang didapat.

Keterangan lengkap Hani dianggapnya penting karena akan disesuaikan hasil penyidikan di tempat kejadian dan hasil pemeriksaan ahli atas alat bukti. "Soal fakta apa yang kami dapat, itu nanti di pengadilan," kata Krishna.

Penyidikan polisi memang masih jauh dari kata selesai. Hampir saban hari, kata Barnabas, Jessica dibon (istilah polisi). Dibon artinya di bawa keluar dari tahanan untuk diperiksa. Hal itu membuat Jessica tidak bisa bergaul dengan penghuni tahanan lain.

Tidak bergaulnya Jessica mungkin juga karena polisi memberi ruangan terpisah dari tahanan lain, yang di dalamnya ada kamar mandi dan tempat tidur.

Barbanas juga mengungkap Jessica tidak cocok dengan makanan tahanan, berupa sayur bening, tahu atau tempe, dan sedikit nasi. "Ada jatah buat Jessica, tapi dia tak makan itu," tuturnya.

Di beberapa kesempatan, Imelda Wongso, ibu Jessica, dan Yudi Wibowo, kuasa hukum Jessica, kerap membawakan nasi Padang dan mi ayam. Malahan polisi menyediakan sate dan donat untuk Jessica. "Itu pelayanan kami kepada siapapun, tak hanya tersangka J," kata Barbanas.

Tapi makanan yang dilahap Jessica tidak sembarang bisa masuk tahanan. Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehat-an Polda Metro Jaya Komisaris Besar Musyafak selalu melakukan pemeriksaan.

"Makanan jangan berpotensi mengganggu kesehatan Jessica," kata Musyafak. "Supaya tak ada alasan sakit juga," ujarnya.

Jessica dijerat Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman penjara selama 20 tahun, atau hukuman mati sebagai vonis terberat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR