DAYA BELI

Harbolnas dan mitos daya beli

Logo Harbolnas.
Logo Harbolnas. | Istimewa /Harbolnas.com

Antusiasme belanja online tumbuh berlipat-lipat. Sekitar 200 pelaku industri meramaikan Hari Belanja Nasional (Harbolnas) tahun ini. Transaksinya ditaksir melampaui target.

Adrian Panggabean, Chief Economist CIMB Niaga mengatakan, omset Harbolnas sudah menembus target Rp4 triliun, lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

"Transaksinya terus meningkat mencapai 4 kali dalam 3 tahun, bahkan mencapai (hampir) 60 kali dalam 5 tahun," tulisnya dalam pesan yang diterima Bisnis.com, Rabu (13/12/2017).

Dalam rentang lima tahun, omset Harbolnas berlipat 5.900 persen. Pada 2012, saat Harbolnas pertama digelar, omsetnya mencapai Rp67,5 miliar. Tahun ini tembus Rp4 triliun.

Zalora, salah satu e-commerce yang beroperasi di Indonesia lewat siaran pers menyatakan, pendapatan mereka meningkat 15 kali lipat dibanding hari biasanya.

Demikian Blibli dan Lazada. Blibli, dalam waktu 13 jam target penjualannya sudah mencapai 75 persen. Lazada, tumbuh berlipat 10 kali dari hari biasa.

Padahal, Harbolnas belum sepenuhnya selesai. Dimulai Selasa kemarin, Harbolnas akan tuntas Jumat besok.

Kenaikan hasrat belanja ini setidaknya membuktikan, daya beli masyarakat Indonesia tak sepenuhnya ambruk.

Menurut Adrian, data peningkatan omset Harbolnas menunjukkan daya beli tak turun. "Tetapi perubahan channel (belanja)," ujar Adrian.

Menurut Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati, yang terjadi bukan pelemahan daya beli.

Sabtu pekan lalu Sri menjelaskan, daya beli adalah kemampuan untuk membeli. Jika seseorang punya uang lebih dan memilih untuk berinvestasi ketimbang membeli sesuatu, maka tidak bisa dibilang daya belinya turun. Yang turun tingkat konsumsinya, bukan daya belinya.

"Kalau yang dikaitkan di daya beli hanya yang dikonsumsi kan berarti seolah-olah orang yang tidak membeli, saya punya duit mau ditabung, kok dianggap tidak punya daya beli," kata Sri, Sabtu (9/12/2017).

Sepanjang triwulan I-III 2017, saat daya beli turun, boleh jadi karena kalangan menengah-atas menahan belanja dan menabungnya. Hal ini bisa dilihat dari naiknya porsi pendapatan yang ditabung.

Persentase tabungan kalangan menengah dibanding pendapatan.
Persentase tabungan kalangan menengah dibanding pendapatan. | Istimewa /BPS

Sehingga, saat situs belanja online ramai-ramai mengobral diskon, bisa jadi mereka membongkar tabungannya untuk belanja.

Tapi belanja online belum mampu mengalihkan pola belanja offline, apalagi membuat tutupnya ritel-ritel besar.

Sri menjelaskan, tutupnya beberapa gerai ritel offline bukan karena banyak yang beralih ke belanja online.

Menurut BPS, perubahan (shifting) dari belanja offline ke belanja online masih sangat kecil. "Share belanja online terhadap total konsumsi rumah tangga enggak sampai 1 persen, 0,89 persen. Jadi, masih sangat sedikit," kata Sri.

Yang berpengaruh justru pergeseran pola perilaku konsumen. Belanja kebutuhan sehari-hari justru menurun. Justru belanja untuk rekreasi (leissure), seperti makan di restoran, menginap di hotel, serta menikmati hal-hal bermuatan budaya.

Grafik perubahan pola belanja konsumen.
Grafik perubahan pola belanja konsumen. | Istimewa /BPS

Pertumbuhan belanja sektor leissure mencapai 6,21 persen. Sedangkan belanja sektor nonleissure hanya 4,74 persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR