HARGA PANGAN

Harga ayam jatuh, peternak menjerit

Pedagang ayam potong beraktivitas di pasar induk Lambaro, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Rabu (31/10/2018).
Pedagang ayam potong beraktivitas di pasar induk Lambaro, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Rabu (31/10/2018). | Ampelsa /Antara Foto

Kalangan peternak unggas yang tergabung dalam Peternak Rakyat dan Peternakan Mandiri (PRPM) meminta pemerintah untuk memperbaiki harga ayam hidup (live bird/LB) yang dalam kurun tujuh bulan terakhir terus merosot.

Ketua PRPM, Sugeng Wahyudi, mengatakan harga harga ayam hidup di tingkat peternak rakyat dan peternakan mandiri terus anjlok sejak Agustus 2018 hingga saat ini.

Bahkan menjelang minggu terakhir Maret 2019, tambahnya, harga ayam hidup menyentuh harga paling rendah yakni Rp12.000/kg, jauh sekali dari harga pokok produksi (HPP) yang mencapai Rp19.500/kg.

"Kondisi ini menyebabkan kami sebagai peternak rakyat dan peternakan mandiri terpuruk secara bisnis," katanya dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (28/3/2019).

Sugeng memaparkan, berbagai penyebab kondisi hancurnya harga ayam hidup antara lain tingginya biaya sarana produksi seperti naiknya harga bibit ayam (DOC) dan pakan, terjadinya kelebihan produksi ayam broiller sementara permintaan di tingkat konsumen melemah. Dia mengakui, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi kondisi tersebut, namun dampaknya hingga saat ini belum terlihat adanya perubahan.

"Bahkan cenderung semakin menekan harga ayam hidup pada titik terendah," ujarnya.

Untuk itu, lanjutnya, PRPM meminta pemerintah untuk melakukan perbaikan kondisi harga ayam hidup (LB) nasional menjadi Rp20.000 sesuai dengan Permendag 96 tahun 2018 berlaku paling lambat April 2019.

Harga DOC Rp5.500/ekor dengan kualitas grade 1 dan harga pakan turun kembali Rp500/kg dengan grade premium. PRPM juga meminta agar perusahaan peternakan yang memiliki penguasaan populasi besar wajib menjual ayamnya di pasar modern.

"Pasar becek hanya untuk peternak rakyat dan peternakan mandiri," ujarnya.

Berdasarkan data bulanan dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) 2019 yang diolah oleh Lokadata Beritagar.id, harga daging ayam di tingkat pasar tradisional memang menurun di 25 provinsi sejak Januari hingga Maret.

Sejak Januari penurunan signifikan terjadi di Provinsi Kalimantan Utara pada bulan Maret. Sementara, terdapat sembilan provinsi yang mengalami kenaikan harga dari bulan Februari ke Maret seperti Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Jambi.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, mengatakan Kementerian Pertanian bersama pemangku kepentingan akan terus berkoordinasi untuk merumuskan langkah-langkah strategis menyelesaikan permasalahan perunggasan ini.

Terkait harga pakan, menurut dia, sejalan dengan berlangsungnya panen raya jagung pada Februari-Maret 2019, harga pakan diharapkan berangsur-angsur turun.

Dalam budidaya ternak, pakan menempati porsi terbesar dari total biaya produksi yaitu 70 – 80 persen, sehingga pakan yang disediakan harus baik kualitasnya, cukup jumlahnya, dan harganya terjangkau.

Berdasarkan laporan dari beberapa pabrik pakan yang diterima oleh Kementerian Pertanian, pakan broiler harganya turun Rp100-300/kg, dan pakan layer turun Rp150-300/kg.

"Kisaran harga pakan broiler saat ini Rp. 6.700-7.300, sedangkan untuk pakan layer dari Rp. 5.200-6.200," katanya.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan memastikan bakal menyerap pasokan ayam hidup dengan harga pembelian tetap mengacu Peraturan Menteri Perdagangan 96 tahun 2018, yakni Rp 18.000 per kg.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Tjahya Widayanti, mengungkapkan bahwa Kemendag menggandeng Asosiasi Rumah Potong Hewan (Arphuin), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APBBI).

"Rumah potong, peritel, bersama pengelola pusat belanja sudah sepakat akan bersama-sama menyerap daging ayam yang siap jual dari rumah potong hewan," ujar Tjahya dilansir dari JPNN.com.

Menurut Tjahya, penyerapan ayam hidup Rp18.000 per kg dimulai pada 1–21 April 2019. Mengenai alasan ditetapkannya jangka waktu tersebut, Tjahya mengatakan untuk mengantisipasi sepinya permintaan.

"Karena memasuki bulan puasa (Mei), biasanya permintaan naik lagi. Sekarang dianggap bulan-bulan sepi. Jadi, permintaan dari ayam itu agak berkurang," tutur Tjahya.

Setelah harga diatasi, Kemendag siap melakukan evaluasi mengenai dinamika harga daging ayam yang kerap melonjak dan anjlok sehingga merugikan peternak. Termasuk mengevaluasi seluruh regulasi yang ada dan mekanisme penerapan regulasi pemerintah di lapangan.

"Kita akan dalami lebih lanjut supaya kondisi begini tidak berulang setiap tahun. Kita sepakat dan komitmen untuk bantu mereka," tuturnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR