HARGA BBM

Harga BBM bisa naik karena OPEC pangkas produksi

Presiden OPEC yang juga Menteri Energi Uni Emirat Arab, Suhail Mohammed Al Mazrouei, saat menghadiri konferensi OPEC di Wina, Austria (6/12/2018).
Presiden OPEC yang juga Menteri Energi Uni Emirat Arab, Suhail Mohammed Al Mazrouei, saat menghadiri konferensi OPEC di Wina, Austria (6/12/2018). | Christian Bruna /EPA-EFE

Organisasi negara-negara eksportir minyak, OPEC, akhirnya sepakat memutuskan untuk memangkas produksi minyak mereka hingga 1,2 juta barel per hari. Keputusan ini bisa berdampak pada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri tahun depan.

Selain anggota tetap OPEC, Rusia, juga sepakat untuk memangkas produksi mereka, keputusan ini diambil di Wina, Austria, Jumat (7/12/2018) waktu setempat. Keputusan ini diambil di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar OPEC terus menambah produksi minyak mentah.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan, OPEC akhirnya sepakat memangkas 1,2 juta barel per hari untuk enam bulan pertama pada 2019. Rincinya adalah 15 negara OPEC sepakat memangkas 800 ribu barel per hari (bph), dan Rusia serta produsen minyak sekutu lainnya mengurangi produksi minyak mereka hingga 400 ribu bph.

Pemangkasan produksi adalah langkah yang sejalan dengan ekspektasi pasar menjelang pertemuan negara-negara OPEC. Para analis pasar komoditas memperkirakan negara-negara OPEC akan menyepakati pemotongan produksi antara 1 juta hingga 1,4 juta bph.

Tak lama setelah keputusan disepakati, harga minyak mentah Brent meroket 4,9 persen jadi $63 AS per barel, demikian juga dengan WTI yang terdongkrak 4,3 persen jadi $53,69.

Kesepakatan baru tersebut muncul pada saat pasar komoditas minyak mendekati titik harga terburuknya sejak krisis finansial 2008. Harga minyak telah tumbang 30 persen terhitung sejak Oktober, ditekan oleh kekhawatiran kelebihan pasokan serta pelemahan pasar global.

Perusahaan riset energi, Wood Mackenzie, memproyeksikan pemangkasan produksi akan mengetatkan pasar pada tiga bulan pertama tahun 2019 dan menyebabkan minyak Brent naik kembali di atas harga $70 AS per barel.

"Ini akan menolong produsen (minyak) bersaing dengan pertumbuhan suplai minyak AS yang kuat pada 2019 ketika kami perkirakan kenaikan produksi secara tahunan sebesar 2,4 juta barel per hari negara non OPEC karena suplai USA terus naik secara signifikan," kata Ann Louise Hittle, Analis pada Wood Mackenzie dilansir Reuters.

Produksi minyak AS diperkirakan melonjak ke level tertinggi sebesar 11,7 juta barel per hari, mengacu kepada perkiraan yang dirilis pemerintahan Trump. Sedangkan produksi minyak Rusia diproyeksikan naik ke level 11,4 juta barel per hari. Produksi minyak Arab Saudi naik ke level rekor 11,1 juta barel per hari per November tahun ini.

Belakangan, Arab Saudi telah mengindikasikan agar OPEC dan sekutu-sekutunya dapat mengekang produksi setidaknya 1,3 juta barel per hari (bph) atau 1,3 persen dari produksi global.

Untuk mencapai keinginan itu, menurut sumber Reuters yang berasal dari OPEC dan non-OPEC, Arab Saudi ingin Rusia bisa berkontribusi setidaknya 250.000-300.000 bph untuk pemangkasan minyak. Namun, Rusia bersikeras memangkas hanya setengah dari jumlah tersebut.

Sementara itu, Presiden Amerika Donald Trump meminta OPEC untuk tidak memangkas produksinya. Ini disampaikan Trump melalui cuitan di akun Twitter, Rabu (5/12).

“Semoga OPEC akan menjaga aliran minyak seperti ini, tidak dibatasi. Dunia tidak ingin melihat atau membutuhkan harga minyak yang lebih tinggi," kata dia.

Dampaknya bagi Indonesia

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani memperkirakan keputusan OPEC untuk memotong angka produksi ini akan berdampak pada kenaikan harga minyak dunia.

Dengan begitu, harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri di tahun depan diperkirakan juga akan naik melebihi asumsi harga minyak di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yakni $70 per barel.

"Kalau lihat secara makro dampaknya itu (OPEC) akan menaikkan harga minyak. Maka kalau itu terjadi di tahun depan, target harga minyak kita bisa lebih dari target APBN 2019," kata Askolani saat dihubungi Beritagar.id, Sabtu (8/12).

Meski begitu, dia menilai kenaikan harga minyak ini tidak akan berpengaruh pada subsidi BBM. Mengingat, pemerintah hanya memberikan subsidi untuk solar, dan menghapus subsidi untuk minyak tanah dan premium.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai harga minyak mentah dunia masih belum stabil, sehingga sulit untuk diperhitungkan. Lantaran itu, fluktuasi harga minyak yang belum menentu terang dia perlu diwaspadai pada tahun 2019.

"Harga minyak yang naik dan turun dan kita harus waspadai volatilitas harga minyak dunia. Karena ini sulit untuk diperhitungkan dan bisa mempengaruhi dari target yang kita tentukan dalam APBN 2019," ujar Sri Mulyani dikutip Sindonews.

Lebih lanjut, terang dia, pergerakan harga minyak dunia masih akan dipengaruhi oleh kebijakan dari OPEC serta keluarnya Qatar dari keanggotaan OPEC.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR