HARGA PANGAN

Harga garam anjlok menjelang panen raya

Petani melakukan panen garam di Desa Konang, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (7/8/2018).
Petani melakukan panen garam di Desa Konang, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (7/8/2018). | Saiful Bahri /Antara Foto

Menjelang panen raya, harga garam di tingkat petani di sejumlah daerah makin anjlok. Penurunan harga bahkan bisa terjadi separuh dari harga semula.

Salah seorang petani garam di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Robedi, menyebutkan bahwa harga garam di tingkat petani saat ini mencapai Rp700 per kilogram. Padahal saat awal musim panen pada awal Juli 2018, harga garam di tingkat petani berkisar antara Rp1.500 – Rp1.600 per kilogram.

"Iya, harga sekarang sudah turun jauh," ujar Robedi kepada Republika.co.id, Senin (20/8/2018).

Robedi mengakui, harga tersebut berlaku untuk garam dengan kualitas tiga (KW III). Sedangkan garam dengan kualitas bagus dan menggunakan sistem membran/terpal, harganya masih di atas Rp1.000 per kilogram.

Robedi menjelaskan, anjloknya harga garam di tingkat petani saat ini disebabkan makin banyaknya lahan garam yang memasuki masa panen. Meski demikian, saat ini belum masuk pada puncak panen raya yang diperkirakan baru akan terjadi pada akhir Agustus 2018.

Meski begitu, harga garam di tingkat petani menurut Robedi bisa lebih turun lagi ketika puncak panen raya. Karena itu, dia berharap ada upaya dari pemerintah untuk menjaga harga garam petani agar tidak sampai jatuh.

Robedi menjelaskan walau harga garam saat ini anjlok, petani garam masih tertolong produksi yang cukup tinggi. Hal itu terjadi karena dukungan kondisi cuaca yang bagus.

Petani garam lainnya dari Desa Dorokandang Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Gushawab, menyebutkan bahwa harga garam pada awal musim kemarau berkisar Rp1.600 per kilogram, tapi saat ini anjlok pada Rp800 per kilogram.

"Ya benar ini panen raya, tapi ya itu, harganya turun malah kalau dihitung itu kan separuhnya ya. Ya mungkin karena stok yang amat melimpah," terangnya kepada detikcom, Kamis (16/8).

Ia mengakui harga tersebut dirasa kurang menguntungkan para petani garam. Terlebih saat ini kualitas garam tergolong baik bahkan super sehingga layak untuk mendapatkan harga yang seimbang.

Petani garam di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, juga mengeluhkan rendahnya harga jual garam di tingkat petani yang menjadi Rp760 per kilogram dari sebelumnya Rp2.000 per kilogram. Padahal biaya produksi cenderung meningkat.

Dikutip dari Antaranews, petani garam di Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Adi, mengatakan harga jual garam saat ini hanya berkisar Rp65.000 per tombong atau keranjang anyaman bambu dengan kapasitas 85 kilogram.

"Artinya, setiap kilogramnya hanya berkisar Rp760. Pada awal mulai panen pada Juli 2018 harganya masih tinggi karena mencapai Rp2.000 per kilogramnya atau Rp175.000 per tombong," ujar Adi, dikutip Selasa (21/8).

Selain harga jual garam yang mengalami penurunan tajam, kata dia, harga sewa lahan justru meningkat. Saat ini, lanjut Adi, lahan yang dikelolanya mengalami kenaikan tarif hingga Rp14 juta per tahun. Padahal tahun sebelumnya tidak mencapai belasan juta.

Lebih lanjut, ia menjelaskan untuk bersaing di pasaran, produsen garam juga dituntut untuk menggunakan geomembran. Kewajiban penggunaan geomembran ini membebani para petani dengan biaya pembelian geomembran yang harganya mencapai Rp4,1 juta per 100 meter.

Anjloknya harga garam memaksa Adi mengerjakan lahan tambak garam pribadinya, karena mempekerjakan buruh akan membuat pengeluaran semakin banyak.

Suyanto, petani garam lainnya, mengakui penurunan harga jual garam saat ini di Rembang. Sebelumnya harga sempat mencapai Rp170.000 per tombong, tapi saat ini hanya laku antara Rp70.000 hingga Rp75.000 per tombong.

Meskipun demikian, dia mengaku masih bersyukur karena harga jual garam tidak sampai turun tajam seperti tahun-tahun sebelumnya karena per tombong hanya dihargai Rp30.000.

Namun, karena saat ini biaya produksinya semakin tinggi, dia berharap pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga jual garam agar petani tidak sampai merugi.

"Minimal tidak ada garam impor di pasaran saat petani tengah panen garam. Jika ada garam impor dipastikan harga jual garam lokal akan jatuh dan berpotensi merugikan petani," ujar Suyanto.

Kehadiran teknologi produksi garam menggunakan geomembran, kata dia, memang sangat membantu--terutama dalam hal produktivitas semakin meningkat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR