INTERNASIONAL

Harga minyak meroket setelah kilang Saudi Aramco diserang drone

Asap terlihat membubung menyusul kebakaran di sebuah pabrik Aramco di Abqaiq, Arab Saudi, Sabtu (14/9/2019).
Asap terlihat membubung menyusul kebakaran di sebuah pabrik Aramco di Abqaiq, Arab Saudi, Sabtu (14/9/2019). | Ali Heider /EPA-EFE

Harga minyak jenis brent melonjak tinggi pasca-pesawat tanpa awak (drone) menyerang faslitas kilang milik perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, Sabtu (14/9/2019). Serangan di kawasan Abqaiq, Arab Saudi, itu membuat dua kilang terbakar dan berpengaruh pada penurunan produksi minyak dunia hingga 5 persen.

Harga minyak acuan melonjak sebanyak AS $11,73 per barel dari AS $60,22 per barel menjadi AS $71,95 per barel dalam pembukaan pasar Asia, Senin pagi (16/9/2019). Ini adalah kenaikan harga terbanyak sejak minyak dunia diperdagangkan pada tahun 1988.

Aramco kehilangan sekitar 5,7 juta barel per hari dari output produksi, setelah 10 kendaraan udara tak berawak menghantam fasilitas pemrosesan minyak mentah terbesar di dunia di Abqaiq dan ladang minyak terbesar kedua kerajaan di Khurais. Padahal Saudi Aramco punya peran besar dalam suplai minyak ke pasar global.

Bagi pasar minyak, serangan ini merupakan gangguan terburuk yang pernah ada, melampaui kasus hilangnya pasokan minyak bumi milik Kuwait dan Irak pada Agustus 1990 akibat serangan yang diperintahkan Presiden Irak ketika itu, Saddam Husein.

"Tidak peduli apakah Arab Saudi perlu lima hari atau lebih lama untuk kembali ke produksi, ada satu kesimpulan bahwa ternyata infrastruktur ini sangat rentan untuk diserang, dan membuat harga pasar terganggu," tulis Ed Morse dari Citigroup Inc. dilansir dari Bloomberg, Senin (16/9).

Mengutip Businessinsider, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, Mansour al-Turki, menjelaskan bahwa tidak ada korban jiwa dalam serangan drone tersebut.

Namun ia belum menjelaskan berapa kerugian yang dialami Saudi Aramco akibat aksi pengeboman tersebut. Saudi Aramco merupakan perusahaan minyak dan gas (migas) terbesar di dunia yang dimiliki oleh pemerintah Arab Saudi.

Ini merupakan pukulan yang cukup besar bagi perusahaan tersebut. Alasanya, Saudi Aramco berencana untuk melakukan initial public offering (IPO) atau menawarkan saham perdana dalam waktu dekat ini. Dengan lumpuhnya dua kilang ini, aset perusahaan harus dihitung ulang.

Ada dugaan, serangan ini dilakukan oleh kelompok pemberontak Houthi Yaman. Dalam laporan BBC, seorang juru bicara untuk kelompok Houthi yang berpihak kepada Iran di Yaman mengatakan pihaknya telah mengerahkan 10 drone atau pesawat tanpa awak dalam serangan itu.

Pejuang Houthi sebelumnya disalahkan atas serangan drone di fasilitas pencairan gas alam Shaybah bulan lalu. Arab Saudi dan AS menyalahkan Iran atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak pada Juni dan Juli yang dibantah pihak berwenang di Teheran.

Indonesia terdampak

Serangan drone ini diprediksi juga berdampak pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri. VP Corporate Communication Fajriyah Usman mengatakan bisa saja terjadi kenaikan beban pokok pada Pertamina apabila minyak dunia meroket. Pasalnya, Pertamina masih melakukan impor minyak mentah.

"Kalau misalnya harga minyak dunia naik signifikan, akan berdampak pada kenaikan beban pokok. Karena kita masih ada yang impor," kata Ziah saat dihubungi oleh detikcom.

Pemerintah Indonesia pun mengecam aksi terorisme tersebut.

"Indonesia mengecam serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi. Serangan tersebut membahayakan keamanan dan stabilitas kawasan serta berdampak negatif terhadap ekonomi global," demikian disampaikan Kemenlu RI lewat situs resminya, Senin (16/9).

Pemerintah RI juga menyerukan dialog untuk penyelesaian masalah di Yaman. Dialog itu menurut Kemenlu harus di bawah kepemimpinan PBB. "Indonesia serukan kembali dialog dan mendukung proses politik di Yaman, di bawah kepemimpinan PBB," lanjut Kemenlu dalam pernyataan itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR