Helmy Yahya tengah berpose untuk Beritagar.id di kantornya, Gedung TVRI di Jl. Gerbang Pemuda No.8, Gelora, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2019).
Helmy Yahya tengah berpose untuk Beritagar.id di kantornya, Gedung TVRI di Jl. Gerbang Pemuda No.8, Gelora, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2019). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BINCANG MINI

Helmy Yahya: Saya tidak percaya TVRI dapat Liga Inggris

Direktur Utama TVRI 2019-2022 menganggap Liga Inggris mampu menjadi energi utama untuk mengangkat TVRI dari keterpurukkannya.

Tak ada kata yang paling tepat selain "parah" untuk menggambarkan bagaimana kondisi Televisi Republik Indonesia (TVRI) beberapa dekade terakhir.

Saluran televisi pertama di Indonesia itu kerap diibaratkan kapal RMS Titanic, tenggelam di dasar Samudra Atlantic puluhan tahun dengan kondisi mengenaskan.

Permisalan tersebut diungkapkan bukan oleh orang sembarang. Sang nakhodanya sendiri, Helmy Yahya yang membeberkannya.

"Beberapa orang yang diminta pimpin TVRI nggak sanggup. Komplikasinya luar biasa," kata Direktur Utama TVRI periode 2019-2022 itu kepada Beritagar.id, Kamis (27/6/2019) di ruang kerjanya, Lantai 3, gedung TVRI.

Helmy tidak sedang memberi citra buruk pada institusi yang kini ia pimpin. Tengoklah catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menabalkan status disclaimer, atau Tidak Menyatakan Pendapat, sejak awal dekade ini hingga 2017.

Belum soal posisi TVRI di dunia pertelevisian tanah air. Helmy mengatakan, berdasarkan riset Nielsen, Lembaga Penyiaran Publik (LPP) itu selalu berada di posisi buncit saban waktu, entah 15 atau 16.

Waktu pun bergulir. Kini TVRI mulai membersihkan debu-debu keterpurukan. Lokomotifnya, Helmy dan lima direksi lain yang dilantik Presiden Joko Widodo pada 24 November 2017.

Kelimanya mengubah perwajahan stasiun televisi yang berdiri pada 1962--menyambut Asian Games ke-4. Mulai dari tampilan di layar kaca, etos kerja pegawainya, hingga ke hal yang mendetail, logo.

"BPK kini memberikan opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian)," ucap Helmy dengan bangga kepada Yusro M. Santoso, Yandi M. Rofiyandi, Andya Dhyaksa, serta pewarta foto, Wisnu Agung Prastyo. Pun rating Nielsen, kini merangkak naik, kadang di 10, 11, atau 12.

Soal yang terakhir ini, besar kemungkinan bakal naik lebih tinggi saat Liga Primer Inggris mulai bergulir pada pertengahan Agustus mendatang. Pasalnya, TVRI menjadi stasiun televisi pemegang hak siar kompetisi sepak bola termegah di dunia itu di Indonesia.

"Liga Inggris akan menjadi monster program kami," ucap pria yang pernah tiga kali nyalon kepala daerah, dan berujung kegagalan.

Bila dunia politik tak bersahabat dengannya, tidak demikian dengan hiburan. Tak salah bila menyebutnya sebagai Midas di dunia tersebut. Itulah alasan mengapa ia dijuluki Raja Kuis dan Raja Reality Show.

"Dunia hiburan itu butuh kreativitas," katanya. Dan kreativitas itulah yang ia bawa ke TVRI.

Rasa kreativitas itu bisa dilihat dari penampilan Helmy hari itu. Sebagai pucuk pimpinan, tampilannya kasual. Sepatu kets bermerek Kenzo bergambar macan di sisinya, dan kaca mata dengan bingkai berbeda antara satu dan lainnya, melengkapi penampilannya.

"Oh, biasa saja. Ha ha ha," kata Helmy saat kami menanyakan frame kaca matanya yang janggal itu. Berikut adalah petikan wawancara kami dengan Helmy, mulai dari membangkitkan TVRI hingga keberuntungannya mendapatkan hak siar Liga Inggris.

Helmy Yahya tengah berpose untuk Beritagar.id di kantornya, Gedung TVRI di Jl. Gerbang Pemuda No.8, Gelora, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2019).
Helmy Yahya tengah berpose untuk Beritagar.id di kantornya, Gedung TVRI di Jl. Gerbang Pemuda No.8, Gelora, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Bagaimana kondisi TVRI saat Anda pertama kali dilantik?
Parah. Saya tahu. Saya dibesarkan oleh TVRI. Bukan kali ini saja saya ditawari jadi pemimpin TVRI. Dan dulu saya bilang tidak sanggup.

Bisa lebih Anda jelaskan?
Macam-macam lah. Waktu diundang panitia seleksi saja saya menolak. Saya tahu persoalannya. Sangat kronis. Kalau Titanic, sudah terkapar di dasar laut bertahun-tahun mungkin.

Keluarga setuju Anda menangani TVRI?
Saya konsultasi dengan kakak saya, Tantowi Yahya. Dia bilang "Lo ngapain megang itu, nggak mungkin TVRI bisa diubah".

Katakanlah kronis. Namun, apa yang paling berat?
Sumber Daya Manusia. Saya tidak menyalahkan lembaganya atau orangnya. Memang ini lembaga yang tidak terlalu diopeni: mati segan hidup pun tak mau. Itu bahasa yang tepatnya mungkin.

Memang bagaimana karyawannya?
Pegawai kami, dari 4.800 karyawan, 75 persen di atas 40 tahun. Lalu, 40 persen di antaranya di atas 50 tahun. Mereka ini pensiunan-pensiunan Departemen Penerangan. Sangat tidak ideal untuk sebuah industri kreatif.

Tidak melakukan perekrutan?
Kami dimoratorium tak boleh menerima PNS selama 15 tahun. Mereka ini induknya Kemenkominfo, para pensiunan pegawai Departemen Penerangan. Menurut perhitungan kami, setidaknya membutuhkan 1.000 pegawai baru.

Kenapa akhirnya Anda masuk sebagai peserta seleksi?
Saya tersadar untuk bergerak. Ada orang yang bilang ke saya: "Anda kan sudah dapat banyak dari dunia televisi, dan itu dimulainya dari TVRI. Bantulah TVRI."

Dan ada satu tokoh berpengaruh di republik ini meminta saya untuk memperbaiki TVRI. Dia bilang, nanti akan kita bantu. Padahal saat itu saya saya sedang ditawarin menjadi CEO di lembaga besar.

Apa yang Anda lakukan untuk membenahi SDM?
Lebih kepada memberikan contoh. Saya sempat menghadap pak Jonan menanyakan resep membenahi PT KAI seminggu setelah dilantik. Dia jawab satu, leader has to be seen, pemimpin harus terlihat.

Tidak ada pertentangan dari dalam?
Banyak yang menolak, tapi tidak sedikit juga yang mendukung. Kami mulai melakukan reformasi birokrasi dengan membuat zona-zona integritas tidak boleh korupsi.

Hasilnya kini mulai tampak, TVRI kembali diminati.
Kami belum bisa mengejar industri televisi lainnya, tapi saat ini sedang kita lakukan. Berdasarkan riset (A. C.) Nielsen, kami tidak lagi di posisi buncit, 16 atau 15. Sekarang kadang 10, 11, atau 12.

Persaingannya yang ingin TVRI tuju mau ke TV berita atau hiburan?
Tidak. Kita ini TV publik. TV Publik itu konfigurasinya 40 persen berita, 30 persen pendidikan dan kebudayaan, serta sisanya 30 persen hiburan.

Kini share rating TVRI menurut Nielsen?
Dulu hanya nol koma sekian. Sekarang perlahan sudah berada di angka dua persen.

Helmy Yahya tengah berpose untuk Beritagar.id di kantornya, Gedung TVRI di Jl. Gerbang Pemuda No.8, Gelora, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2019).
Helmy Yahya tengah berpose untuk Beritagar.id di kantornya, Gedung TVRI di Jl. Gerbang Pemuda No.8, Gelora, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Ini belum termasuk TVRI bakal menyiarkan Liga Primer Inggris.
Itu kita sebut dengan Monster Program. Setiap channel harus punya monster program yang mengangkat rating. Kami percaya, Liga Inggris mampu menjadi lokomotifnya.

Efeknya sudah mulai terlihat?
Sekarang semua memperbincangkan TVRI. Selain itu untuk iklan di jam Liga Inggirs sudah penuh slotnya.

Sebagai LPP, apakah boleh TVRI mencari uang?
Di Undang-Undang boleh. Pertanyaan paling menyakitkan adalah, emang boleh TVRI menerima iklan? Boleh. Keuntungan itu akan kembali ke negara lewat jalur Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Tahun 2018, sudah ada peningkatan PNBP?
Jauh sekali. Lebih dari 100 milyar PNBP-nya. Ini yang akan kita tingkatkan terus.

Kembali ke Liga Inggris, bisa diceritakan proses mendapatkan hak siar?
Ah mau tahu aja. Ha ha ha.

Masyarakat ingin tahu.
Ini lebih pada keberkahan. Kami mengatakannya, rezeki anak soleh. Sampai sekarang saya juga tidak percaya, kok bisa TVRI dapat Liga Inggris.

Berapa anggaran untuk mendapatkan hak siar Liga Inggris?
Ini bukan soal uang. Tapi setelah kita diskusi sama pemberi hak siar, kami pada sampai kesimpulan, ada hal-hal yang tidak diperhitungkan orang. Yaitu jangkauan.

Bisa Anda jelaskan lebih detail?
TVRI kan jangkauan pemancarnya mencapai 160 juta penonton, sampai pelosok dan itu gratis. Tidak ada TV-TV di Indonesia yang jangkauannya seluas TVRI.

Katakan itu keberuntungan, tapi ada usaha-usaha. Seperti apa?
Tentu. Tidak gampang meyakinkan orang-orang dengan angka-angka yang tak memenuhi standar. Saya jelaskan, bila memberi TVRI hak siar Liga Inggris, akan kami kasih bonus jangkauan TVRI yang luar biasa.

Dalam seminggu akan ada dua siaran. Itu apakah pertandingan tim-tim besar atau tim kasta kedua lainnya?
Tergantung pertandingannya. Belum bisa dipastikan yang mana saja yang akan kami siarakan. Kalau tidak salah, gim pertama kita Chelsea atau Liverpool.

TVRI bekerja sama dengan Mola TV, pemilik hak siar Liga Inggris di Indonesia. Kami baru dengar. Bisa Anda jelaskan?
Ya, perusahaan itu memang baru. Makanya saya bilang, itu rezeki anak soleh.

Skema kerja samanya seperti apa?
Lebih kepada kerja sama, bukan soal uang. Saya tidak bisa buka nilai atau angka-angkanya. Tapi bagi kita, ini adalah rezeki masyarakat Indonesia.

Penerimaan dari iklan tadi masuk ke TVRI atau Mola TV?
Kami terima, tapi masuk ke negara. Makanya, saya bingung, ada seorang pakar bilang, TVRI selama ini rugi. TVRI tidak ada untung-rugi, karena LPP.

Jika Anda tidak mau menyebut angka, tapi bisa tahu prosesnya seperti apa?
Lebih kepada pertemanan. Itulah kenapa TVRI cepat berubah, karena persoalan jaringan.

Saya kenal banyak para pemangku kebijakan negeri ini: swasta hingga seniman. Saya kan hybrid, mantan PNS, seniman, dan tiga kali gagal pilkada ha ha ha.

Apakah saat itu ada pesaing lain yang membeli hak Liga Inggris?
Mungkin saja ada pesaing lain. Tapi, itulah yang saya bilang, pilihan itu jatuh kepada TVRI dengan pertimbangan-pertimbangan itu.

Kalau mau tanya, tanyalah kepada yang ngasih. Jangan ke saya.

Kami pernah ditawari F1. Saya jawab no, F1 bukan domainnya TV publik. Karena terlalu segmented. 

Hanya berdasarkan pertemanan tanpa syarat tertentu dari pihak Mola?

Kami dianggap lulus dari ujian-ujian sebelumnya. Kami dianggap perform, karena hampir tidak ada komplain, seperti kebocoran jaringan.

Kami dianggap teruji di liga-liga kecil pada tahun lalu, seperti English Football League Championship, Coppa Italia, dan Carabao Cup.

Selain Liga Inggris, TVRI juga menjadi "Rumah Bulu Tangkis" terlebih dahulu. Apakah ini titik balik TVRI?
Kita tidak boleh menunjuk satu program, banyak aspek lah. Namun, kenapa kami bela-belain ambil Liga Inggris dan Bulu Tangkis? Karena kami tahu, olahraga adalah hiburan rakyat. Dan olahraga yang populer di sini adalah sepak bola dan bulu tangkis.

Tidak tertarik menyiarkan olahraga lain, seperti Moto GP misalnya?
Kami pernah ditawari F1. Saya jawab no, F1 bukan domainnya TV publik. Karena terlalu segmented. Lalu bagaimana dengan NBA? Tidak. Penontonnya kecil banget sekarang.

Sekarang kami sedang negosiasi bersama PSSI untuk menyiarkan Liga 2 Indonesia.

Banyak pihak menilai logo baru TVRI mirip dengan TV Deutsche Welle (DW). Tanggapan Anda?
Siapa bilang mirip? Yang bilang seperti itu nggak ngerti. DW kan lingkarannya dua, kami satu. Lingkaran dua pun tidak bisa dibilang mirip. Jenis hurufnya beda. Saya bingung ada yang ngomong seperti itu, banyak lagi.

Jadi menurut Anda, logo baru TVRI tidak terinsiprasi dari DW?
Nggak lah. Di mana miripnya dengan DW? Tapi, secara keseluruhan, logo kami disambut baik. Logo kita dipuji orang: luar biasa, milenial, modern, dan simpel.

Anda melakukan semua ini dengan anggaran yang sama dari tahun ke tahun?
Iya sama. Anggaran kami kan tidak ditambah. Alhamdulillah tahun depan ditambah sedikit menjadi Rp1,3 triliun.

Artinya, anggaran yang kemarin-kemarin ke mana larinya?
Saya tidak mau komentar soal lalu. Kita berbicara saat ini saja.

Sudah dihubungi presiden soal keberhasilan TVRI ini?
Ha ha ha. Mau tahu saja. Ya kami dalam sebulan ini beberapa kali bertemu. Saya juga kebetulan beberapa kali dipanggil dalam sebulan ini.

Beliau menyatakan senang dengan perkembangan TVRI ini, terutama kami keluar dari status disclaimer BPK. Kami kini sudah WTP.

Sudah puas dengan capaian ini?
Kami ingin lebih baik lagi sebagai TV publik. Meski demikian, saya sendiri tidak percaya perubahan kami secepat ini. Saya merasa, ini merupakan doa dari masyarakat semua yang ingin TVRI berubah.

Helmy Yahya, TVRI dan Liga Inggris /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR