BISNIS RITEL

Hero tutup 26 gerai, 532 karyawan kena imbas

Sejumlah karyawan dan bekas karyawan Hero dan Giant Supermarket yang tergabung dalam Serikat Pekerja Hero Supermarket dari berbagai daerah di Indonesia melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Pusat PT Hero Supermarket di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (11/1/2019).
Sejumlah karyawan dan bekas karyawan Hero dan Giant Supermarket yang tergabung dalam Serikat Pekerja Hero Supermarket dari berbagai daerah di Indonesia melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Pusat PT Hero Supermarket di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (11/1/2019). | Muhammad Iqbal /Antara Foto

Sebanyak 532 karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja ( PHK) menyusul penutupan 26 gerai PT Hero Supermarket Tbk.

Adapun penutupan yang diputuskan pada Kamis (10/1/2019) tersebut dilakukan sebagai salah satu satu implementasi strategi untuk mendukung keberlanjutan bisnis. Hero juga akan memaksimalkan produktivitas kerja melalui proses efisiensi.

Sebagian besar karyawan yang kena PHK juga dikabarkan telah menerima dan sepakat untuk mengakhiri hubungan kerja. PT Hero Supermarket Tbk juga telah memberikan hak sesuai dengan UU Kementerian Tenaga Kerja RI No 13 tahun 2003.

"26 toko telah ditutup dan dari 532 karyawan yang terdampak dari kebijakan efisiensi tersebut, 92 persen karyawan telah menerima dan menyepakati untuk mengakhiri hubungan kerja," jelas Tony Mampuk, Corporate Affairs General Manager PT Hero Supermarket Tbk, dikutip Kontan.co.id, Minggu (13/1).

Namun, tak demikian dengan 75 karyawan lainnya dari 19 gerai di seluruh Indonesia. Mereka menilai Hero telah melakukan PHK sepihak sehingga mereka melawan melalui aksi unjuk rasa.

Demonstrasi tak hanya dilakukan oleh mereka yang terdampak. Ribuan pekerja berseragam merah yang berasal dari sejumlah daerah ini menyampaikan aspirasinya di depan Giant Supermarket Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan, pada Jumat (11/1).

Dalam orasinya, Presiden Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia, Mirah Sumirat, menuntut pihak manajemen Hero untuk dapat memenuhi beberapa hal mengenai ketenagakerjaan.

"Yang pertama, pekerja yang di-PHK untuk dipekerjakan kembali, yang kedua pecat oknum supermarket yang mencoba memecah belah SPHS, yang ketiga jika ada sesuatu harus berunding dengan SPHS," katanya di hadapan ribuan massa aksi seperti dilansir merdeka.com, Jumat (11/1).

Penutupan hanya pada bisnis makanan

Penutupan 26 gerai Hero sebenarnya hanya pada toko ritel modern yang tidak menghasilkan keuntungan. Bahkan gerai-gerai tersebut menyumbang beban operasional yang sangat tinggi.

Lebih spesifik, penutupan terjadi pada bisnis makanan. Penjualannya lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

Sektor penjualan makanan oleh perusahaan yang berdiri sejak 1971 itu turun hingga 6 persen dari angka Rp8,34 triliun. Hingga September 2018, pendapatan bersih yang dibukukan dari segmen makanan "hanya" mencapai Rp7,84 triliun.

Akibatnya, perusahaan menanggung kerugian hingga Rp163 miliar pada kuartal ketiga tahun ini atau lebih dari dua kali lipat kerugian kuartal III 2017, yakni Rp79 miliar.

"Sejak tiga tahun terakhir memang kondisi ritel secara umum dalam tekanan. Kalau tidak melakukan penutupan 26 toko ini, maka beban operasional akan semakin tinggi dan kerugian akan semakin besar," ujar Tony dalam CNNIndonesia.com, Minggu (13/1).

Kendati demikian, bisnis non-makanan masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Karenanya, perusahaan meyakini bahwa keputusan penutupan tersebut merupakan hal paling baik dalam menjaga laju bisnis berkelanjutan.

Hingga 30 September 2018, Hero memilliki 448 gerai. Masing-masing terdiri dari 59 Giant Ekstra, 96 Giant Ekspres, 31 Hero Supermarket, 3 Giant Mart, 258 Guardian Health & Beauty, dan satu toko IKEA.

Hero bukan ritel pertama yang menutup gerainya. Pada pertengahan 2017, ada 7-Eleven dan Ramayana. Lalu diikuti dengan penutupan dua gerai Lotus pada Oktober 2018.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR