Hilangnya Fan Bingbing dan dugaan penggelapan pajak

Fan Bingbing saat menghadiri penutupan festival film Cannes di Prancis (28/5/2017).
Fan Bingbing saat menghadiri penutupan festival film Cannes di Prancis (28/5/2017). | Andrea Raffin /Shutterstock

Aktris Hollywood asal Tiongkok, Fan Bingbing, sedang hangat diperbincangkan. Kali ini bukan karena aktingnya atau lagu terbarunya. Namanya mewarnai berbagai media karena kasus penggelapan pajak yang dituduhkan kepadanya.

Dugaan ini mengekor hilangnya pemeran Blink di X‑Men: Days of Future Past (2014) ini. Ia sudah tak terlihat di hadapan umum sejak 1 Juli 2018.

Media sosial seperti Twitter dan Instagramnya pun tak aktif sejak akhir Mei 2018, sedangkan akun Weibonya membisu sejak 23 Juli 2018. Begitu pun dengan milik Li Chen, sang tunangan.

Padahal sebelumnya, pemeran Jin Suo dalam serial TV Putri Huan Zhu ini termasuk yang gemar membagikan setiap aktivitasnya melalui dua media sosial tersebut.

Menghilangnya Fan Bingbing diawali oleh kabar keterlibatannya dalam kasus penggelapan pajak terungkap setelah Cui Yongyuan, seorang mantan pembawa acara TV yang dmiliki China Central Television, membocorkan dokumen milik seorang aktris besar yang telah menandatangani kontrak "yin-yang" untuk film terbarunya.

Kontrak yin-yang merupakan praktik surat perjanjian kerja yang dibuat ganda. Pada surat pertama akan dituliskan penghasilan riil seorang aktor, dan pada surat yang lain rinciannya memuat angka yang lebih rendah. Surat dengan data penghasilan yang lebih rendah itulah yang biasanya diserahkan kepada otoritas pajak.

Dalam dokumen itu tertera bayaran sebesar $1,56 juta AS atau senilai Rp23,2 miliar untuk empat hari kerja. Namun secara diam-diam, aktris tersebut menerima jauh lebih banyak, yakni $7,8 juta atau Rp116,2 miliar. Kontrak ini pun disebutnya hanya merupakan puncak dari gunung es yang telah ditimbun sang aktris.

Cui Yongyuan tak menyebutkan nama sang aktris, tapi tak berapa lama nama Fan Bingbing beredar sebagai oknum yang dimaksud.

Pekan lalu, beberapa media Tiongkok seperti Taiwan News dan surat kabar keuangan Securities Daily pun menulis bahwa Bingbing sedang dalam pengawasan pihak berwenang Tiongkok dan akan segera menerima keputusan legal. Ada juga yang menuliskan Bingbing telah ditahan polisi.

The Economic Observer pun menuliskan, pada 26 Juli beberapa staf Bingbing juga tengah diperiksa oleh polisi.

Namun tak lama setelah diterbitkan, semua artikel itu ditarik dan dihapus dari situs media yang memuatnya. Beberapa laporan terkait Bingbing juga disensor.

Hal ini menimbulkan dugaan lain bahwa pemerintah Tiongkok mengunci rapat informasi seputar Bingbing dan kasusnya.

Saat dimintai keterangan pihak rumah produksi Fan Bingbing sempat menepis kabar itu. Mereka mengatakan bahwa tak ada masalah atau kesalahan yang dilakukan.

Peringkat 0 persen

Kendati demikian, masyarakat langsung mencium adanya kejanggalan, terutama karena nama Fan Bingbing mendapat rating 0 persen dalam Laporan Pertanggungjawaban Sosial Film dan Televisi Bintang Tiongkok 2017-2018.

Laporan ini memang disiarkan secara luas oleh media pemerintah Tiongkok. Data yang terdapat di dalamnya menempatkan peringkat selebritas Tiongkok menurut tiga kriteria: kerja profesional, tindakan amal dan integritas pribadi.

Data dan peringkat ini bisa membuat para pesohor menuai pujian atas prestasinya yang dipantau langsung. Namun, di sisi lain, mereka yang tersangkut kasus dan dianggap memberikan dampat negatif bagi masyarakat juga akan disorot.

Ini sebabnya, pesohor yang terjerat suatu kasus biasanya sulit untuk kembali eksis di dunia hiburan Tiongkok.

Laporan ini sempat mempelajari kebiasaan dari 100 aktor, penyanyi, dan pesohor Tiongkok untuk mengetahui rasa tanggung jawab sosial mereka. Hanya sembilan yang berhasil melampaui skor 60 persen yang ditetapkan untuk dapat lolos dari penilaian.

Pemerintah pun mengimbau agar para pesohor dapat lebih mempromosikan energi positif dan menghindari aktivitas yang dapat memberikan dampak negatif ke masyarakat.

"Kami ingin dapat melakukan evaluasi menyeluruh bagi para selebritas," sebut Zhang Honghong, pimpinan proyek tersebut, seperti dikutip Sixth Tone (h/t BBC).

Bayaran yang luar biasa besar diikuti dengan gaya hidup ala Hollywood mungkin hal yang lumrah terjadi di industri hiburan Amerika Serikat. Namun di Tiongkok, pemerintahnya berusaha membatasi pendapatan para aktor selama bertahun-tahun.

Hal ini dilakukan sebab pendapatan yang tinggi akan mendistorsi industri film lokal. Sedangkan gaya hidup mewah ditakutkan akan memberikan dampak buruk bagi generasi muda. Pemerintah khawatir anak muda akan lebih mendewakan uang ketimbang menghargai nilai-nilai sosial.

BACA JUGA