GEGER HOAKS

Hoax selalu mengiringi erupsi Merapi

Erupsi freatik Gunung Merapi terlihat dari dari Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (1/6/2018).
Erupsi freatik Gunung Merapi terlihat dari dari Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (1/6/2018). | Mohammad Ayudha /Antara Foto

Letusan terbaru Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Jumat (1/6/2018), bukan cuma mengancam aktivitas penerbangan atau kegiatan masyarakat di radius 3 kilometer (km). Peristiwa alam seperti erupsi gunung berapi juga kerap diiringi kabar dusta alias hoax.

Tak terkecuali pada erupsi terbaru ini. Setidaknya ada satu video yang menunjukkan kondisi kawah sebuah gunung berapi. Dalam kapsi menyebut Gunung Merapi.

Namun, Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui Twitter menyatakan video itu bukan dari Gunung Merapi, melainkan Gunung Ambtym di Vanuatu.

Sutopo pun mengimbau agar masyarakat tidak ikut menyebarkan video hoax tersebut. Menyebarkannya bisa memicu keresahan masyarakat. "Gunung Merapi tidak memiliki penampakan seperti ini. Ayo stop hoax!" tulisnya.

Hoax juga bukan berisi video atau foto gunung yang sedang meletus. Hoax seringkali juga menampilkan foto pascaletusan.

Ini adalah hoax kesekian yang berhubungan dengan erupsi Merapi, bukan hoax pertama. Saat gunung setinggi 2.968 meter dpl itu mengeluarkan letusan freatik pada 21 Mei silam, video hoax pun muncul dan Sutopo pula yang mengklarifikasi.

Dan kemunculan hoax saat ada peristiwa alam bukan cuma ketika Merapi erupsi. Apapun jenis peritiswanya dan objeknya, termasuk gempa bumi, hoax pun terbit.

Dalam kaitan dengan Merapi, masyarakat pun terus diimbau untuk tidak memercayai informasi apapun yang tidak datang dari lembaga berwenang. Selain BNPB; lembaga berwenang lain adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian, TNI, atau pemerintah daerah.

Masyarakat juga bisa menanyakan perkembangan melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz. Atau mendatangi kantor Badan Geologi Kementerian ESDM (BPPTKG) di Jalan Cendana No.15 Yogyakarta.

Masyarakat juga bisa menghubungi nomor kontak (0274) 514180 dan 5141926. Bila memiliki akses internet, masyarakat juga bisa memantau aktivitas Merapi melalui laman http://merapi.geologi.esdm.go.id.

Di sisi lain, perkembangan terbaru dari erupsi Merapi belum membuat status gunung berubah. Status masih tetap Waspada (Level II).

Adapun menurut laporan terbaru BPBD Kabupaten Sleman yang diterbitkan hari ini (2/6) pukul 08.00 WIB, masyarakat di dua desa terpaksa diungsikan karena lokasinya masuk dalam radius 3 km.

Dari tiga dusun di Desa Glgagaharjo ada 98 jiwa yang diungsikan ke Balai Desa setempat. Hingga pagi ini tersisa 13 orang lansia dan seorang balita yang masih berada di pengungsian.

Sementara dari Desa Purwobinangun, 28 warga dari dua dusun mengungsi ke SD Sanjaya Tritis. Namun, hingga pagi ini, seluruh pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing.

Masyarakat di lereng Merapi di wilayah Boyolali juga sempat mengungsi. Dilaporkan detikcom, 544 orang dari 4 dusun di Desa Tlogolele harus meninggalkan kediaman masing-masing. Namun, sebagian besar kini sudah kembali ke rumah.

Menurut Widodo, Kepala Desa Tlogolele, masyarakat tidak mengkhawatirkan hujan abu. Terutama warga Dukuh Stabelan yang jaraknya sekitar 3 km dari puncak Merapi.

"Letusan tadi (Jumat) tidak memunculkan awan panas, ancamannya (dampak letusan) untuk warga (Stabelan, Tlogolele) kan hujan abu. Tetapi yang ditakutkan warga itu kalau tebing dari Merapi ada yang longsor...," imbuhnya.

Radius 3 km dari puncak Merapi tetap terlarang bagi aktivitas penduduk. Bahkan kegiatan mencari rumput demi makanan ternak pun tak boleh dilakukan, apalagi aktivitas pendakian.

Masyarakat pun diimbau tetap waspada. Dua erupsi freatik terbaru membuat hujan abu tak bisa dihindari sehingga masyarakat diminta mengenakan pelindung diri ketika berada di luar rumah. Misalnya dengan mengenakan masker dan penutup kepala.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR