TERORISME

Hukuman mati buat Aman Abdurrahman

Terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman menjalani sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (22/6/2018).
Terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman menjalani sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (22/6/2018). | Galih Pradipta /Antara Foto

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menghukum mati terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman, Jumat (22/6/2018). Ketua Majelis Hakim, Akhmad Jaini menilai Aman terbukti melakukan tindak pidana terorisme.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Oman Rochman alias Aman Abdurrahman alias Abu Sulaiman dengan pidana mati," kata Akhmad seperti dikutip dari Kompas.com.

Majelis hakim menilai Aman terbukti melanggar Pasal 14 juncto Pasal 6 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, seperti tertuang dalam dakwaan pertama primer.

Aman juga dinilai melanggar Pasal 14 juncto Pasal 7 undang-undang yang sama sebagaimana dakwaan kedua primer.

Atas vonis ini, pengacara Aman menyatakan akan menimbang langkah selanjutnya. "(Kami) Pikir-pikir," jawab Asludin Hatjani, kuasa hukum Aman Abdurrahman usai pembacaan vonis, seperti dikutip dari Suara.com.

Sebelum vonis dibacakan, pengacaranya juga sudah membantah jika Aman terlibat dalam kasus terorisme.

"Yang jelas, beliau tidak terima terlibat dalam kasus bom Thamrin dan lainnya. Kalau dihukum karena percaya khilafah dan menyuruh orang ke Suriah berjuang membantu khilafah beliau mengakui," kata Asludin seperti dipetik dari detikcom.

Vonis ini sama dengan tuntutan jaksa dua pekan lalu. Pada sidang Jumat (18/5/2018), jaksa menuntut Aman dihukum mati.

"Menuntut majelis hakim menjatuhkan tuntutan pidana hukuman mati kepada terdakwa Aman Abdurrahman," kata jaksa penuntut Anita, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, seperti ditulis Antaranews.

Jaksa meyakini Aman merupakan dalang berbagai serangan teror di Indonesia. Antara lain bom Thamrin, Jakarta (Januari 2016), dan bom Gereja Oikumene Samarinda (November 2016), bom Kampung Melayu (Mei 2017), serta penusukan polisi di Sumatra Utara (Juni 2017), dan penembakan polisi di Bima (September 2017).

Menurut Jaksa, Aman Abdurrahman membentuk Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dalam sebuah pertemuan di Malang, Jawa Timur, pada November 2014. Dalam pertemuan itu, menurut jaksa, Aman memerintahkan pembentukan struktur wilayah di Kalimantan, Ambon, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jabodetabek, dan Sulawesi.

"Dia aktor intelektual di semua teror itu peristiwa yang mengakibatkan korban meninggal," kata jaksa Anita, Kamis (15/2/2018), seperti dikutip dari BBC Indonesia.

Dalam dakwaan, jaksa menyebut ceramah dan 'kajian' keagamaan Aman Abdurrahman mempengaruhi sejumlah orang yang kemudian menjadi para pelaku teror yang menjadikan polisi dan tentara sebagai sasaran serangan.

Jejak Aman dalam kasus-kasus terorisme terentang sejak 14 tahun lalu. Pada Maret tahun 2004, dia ditangkap karena bom rakitan yang meledak di rumah kontrakannya di Kampung Sindang Rasa, Kelurahan Suka Maju, Cimanggis, Atas kasus ini, dia divonis penjara 7 tahun.

Usai bebas, ia kesandung kasus lagi. Pada Februari 2010 ia terlibat kasus pelatihan militer di Jalin Jantho, Aceh Besar, Dalam kasus ini, hubungan Aman dan Afif alias Sunakim, salah satu pelaku serangan bom Thamrin, mulai terjalin

Afif, yang ikut dalam pelatihan ini, divonis 7 tahun. Oman yang terbukti ikut membiayai pelatihan militer ini, lantas dihukum 9 tahun. Mereka lalu mendekam di LP Cipinang, Jakarta.

Hukuman itu harusnya habis usai dia terima remisi Agustus tahun lalu. Tapi polisi kembali mencokoknya dan menggulirkan kasusnya ke pengadilan hingga vonis mati ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR