KARHUTLA

Hutan terbakar karena ulah pemburu landak

TERBAKAR | Ilustrasi: Satgas Karhutla Riau berusaha memadamkan api di lahan gambut di Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (24/9/2019).
TERBAKAR | Ilustrasi: Satgas Karhutla Riau berusaha memadamkan api di lahan gambut di Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (24/9/2019). | Rony Muharrman /Antara Foto

Seperti biasanya, Sumiin (34), Tarmat (50), dan Subiyanto (30), membakar liang landak jawa (Hystrix javanica) di hutan pinus itu. Mereka memang pemburu landak di Gunung Slamet.

Akan tetapi dalam perburuan Ahad lalu (6/10/2019), pembakaran liang tak menjadikan landak keluar. Malah api membesar lalu merembet lebih luas.

Petak 4 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pekalongan Barat, di Desa Kalibakung, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, itu dijalari api mulai pukul sebelas siang.

Siang itu para penyadap getah pinus berusaha memadamkan api dengan kayu-kayu basah. Tak berhasil. Angin kering nan kencang terus membesarkan api. Damkar, BPBD, Perhutani, TNI dan Polri serta relawan harus bekerja keras. Akhirnya api padam pukul sembilan malam.

Terbakar 21,7 hektare

Kawasan hutan terbakar itu adalah hutan produksi. Pinus ditanam sejak 1992.

Menurut Wakil Administrator KPH Pekalongan Barat, Hartanto, dari luas baku 33 ha, bagian yang terdampak kebakaran mencapai 21,7 ha.

Jenis tanaman yang terbakar adalah pohon pinus, ilalang, dan perdu kirinyu (Chromolaena odorata; bahan obat herbal).

Taksiran kerugian sementara, menurut Hartanto, Rp 81,3 juta. Jumlah tersebut belum termasuk nilai kerugian getah pinus yang ikut terbakar (→ Kompas.id).

Dua tertangkap

Dari ketiga pemburu landak tadi, dua orang, yakni Suiimin dan Tarmat, sudah tertangkap. Polres Tegal masih memburu Subiyanto.

"Yang menangkap pelaku adalah petugas Perhutani. Ditangkap di rumah masing masing kemudian dibawa ke rumah dinas KRPH Kalibakung dan diserahkan ke Polsek Balapulang," ujar Hartanto, Senin (7/10/2019; detikcom).

Mereka bertiga disangkakan dengan Pasal 50 dan 78 Undang-Undang Perhutanan Nomor 41 tahun 1999. Ancaman hukuman maksimum lima tahun penjara dan denda Rp500 juta.

Demi mustika landak

Salah satu pendorong perburuan landak, menurut Mongabay, adalah batu mustika (geliga) dalam tubuh landak, yang dipercaya dapat mengobati aneka penyakit, termasuk diabetes.

Harga mustikanya pada 2015 Rp500.000 - Rp1 juta per gram. Mongabay mengkhawatirkan perburuan landak meningkat.

Salah satu di antarnya adalah Hystrix brachyura, yang statusnya tak lagi dilindungi, sehingga di Aceh terus diburu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR