KEKERASAN TERHADAP ANAK

Ibu jadi pelaku kekerasan anak terbanyak sepanjang 2018

Ilustrasi kekerasan terhadap anak
Ilustrasi kekerasan terhadap anak | Goran Horvat /Pixabay

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat telah terjadi 16 kasus kekerasan yang menyebabkan anak meninggal dunia dalam kurun Januari-Maret 2018. Ironisnya, pelaku kekerasan terbanyak adalah ibu.

Dalam kurun tiga bulan ini, terdapat 23 kasus kekerasan terhadap anak dengan berbagai tindakan. Di antaranya kekerasan fisik, dipukul berulang, disekap, diseterika, dipasung, disulut rokok, ditanam hidup-hidup, bersama-sama menjatuhkan diri, hingga diracun.

Sejumlah kasus kekerasan yang menyebabkan anak meninggal dilakukan oleh orang tua dan orang dekat. Ibu, menempati pelaku kekerasan tertinggi yaitu 44 persen, ibu dan ayah tiri 22 persen, ayah 18 persen, pengasuh 8 persen, dan pengasuh pengganti (tante, ayah tiri) 8 persen.

"Maka dari itu perlu perhatian khusus, terlebih Maret ini saja belum selesai dan kasus yang tercatat itu belum termasuk yang tidak dilaporkan," kata Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati, di Jakarta, yang dilansir LKBN Antara (h/t Republika), Senin (26/3/2018).

Kasus kekerasan orang tua terhadap anak, menurut KPAI, banyak dilatarbelakangi oleh ketidakharmonisan keluarga, faktor ekonomi, kurangnya pengetahuan tentang pengasuhan anak, dan persoalan pribadi yang mengarah pada kesehatan mental.

Latar belakang pendidikan tidak menjadi faktor penentu terjadinya kekerasan terhadap anak. KPAI pun mengingatkan bahwa ketika anak merengek, menangis--apalagi masih balita--adalah bagian dari ekspresi perasaannya.

"Tidak ada anak 'nakal' sebagaimana persepsi orang dewasa karena sesungguhnya anak sedang belajar mengekspresikan perasannya, meminta sesuatu atau belajar tingkah laku yang baik," tutur Rita.

Dalam catatan KPAI yang dipublikasikan di situsnya, anak yang menjadi korban kekerasan fisik seperti penganiayaan, pada periode 2011-2016 mencapai 920 kasus. Kasus terbanyak terjadi pada 2014, mencapai 273 kasus. Sedangkan anak yang menjadi korban pembunuhan selama enam tahun itu tercatat totalnya 358 kasus.

Salah satu kasus yang kini tengah menjadi perhatian adalah kematian bayi Calista (15 bulan) di Karawang, Jawa Barat. Calista dinyatakan meninggal dunia setelah koma selama 15 hari di RSUD Karawang. Ia menjalani perawatan sejak 10 Maret 2018.

Balita perempuan itu masuk ke rumah sakit dalam kondisi luka di kelopak mata kanan dan kiri, di bagian atas dan bawah. Calista bahkan sempat berhenti bernafas, sehingga petugas medis harus memasang alat bantu pernafasan.

Humas RSUD Karawang, Rohimin, mengatakan balita malang itu mengalami encephalitis atau peradangan otak hingga infeksi. Belakangan diketahui peradangan otak itu tersebab benturan amat keras, demikian laporan Sindonews, Minggu (25/3).

Tersangka penganiayaan Calista, tak lain adalah ibu kandungnya sendiri, Sinta (27). Sempat mengaku melihat pacarnya, D, menggigit dada Sang Putri, ibu tunggal itu akhirnya mengakui perbuatannya.

"Penetapan ini dilakukan setelah diperoleh sejumlah alat bukti visum luka fisik akibat kekerasan secara berkelanjutan dan kesesuaian dengan saksi-saksi. Bahkan tersangka mengakui perbuatannya," ujar Kapolres Karawang, AKBP Hendy Febrianto Kurniawan, di Mapolsek Karawang Kota, Kamis (22/3/2018), dalam Kompas.com.

Menurut keterangan tersangka, motif penganiayaan itu karena yang bersangkutan tertekan secara ekonomi. Saat kesal, dia melampiaskannya kepada si anak.

Sempat diberitakan bahwa polisi mempertimbangkan opsi restorative justice yang merupakan langkah penyelesaian di luar pengadilan. Alasannya, kondisi psikologis pelaku dan seorang anak lainnya yang masih perlu pengasuhan.

Namun, menurut Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto, kasus Sinta yang kini masih ditahan di Mapolres Karawang, akan tetap dilanjutkan. "Masih dilanjutkan penyidikan, nanti akan dilihat perkembangannya," kata dia, Senin (26/3), dikutip Liputan6.com.

Jenderal bintang dua ini menuturkan, keputusan tersebut diambil setelah polisi berdiskusi dengan sejumlah pakar. Selain itu, mempertimbangkan alat bukti dan fakta-fakta yang dikumpulkan penyidik terkait kasus kekerasan tersebut.

Menanggapi proses hukum Sinta, KPAI mengimbau polisi mengkaji lebih dalam kasus tersebut. Bila pelaku yang merupakan ibu kandung korban dinilai memiliki gangguan psikologis, polisi dapat melakukan rehabilitasi supaya prosesnya tetap berjalan.

KPAI menekankan pada efek jera dalam kasus kekerasan terhadap anak. Penganiayaan yang dilakukan oleh orang terdekat seperti orang tua atau guru, semestinya mendapat hukuman tambahan 1/3 dari ancaman hukuman normal.

"Ini harus dikaji. Saya harap polisi tidak terlalu cepat untuk mengambil tindakan dan menilai ini layak dilakukan diskresi atau diselesaikan di luar jalur hukum, karena ini akan berimbas terhadap kasus-kasus kejahatan yang ada di Indonesia...," ujar Komisioner KPAI, Putu Elvina, dalam Detikcom.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR