PEMINDAHAN IBU KOTA

Ibu kota baru butuh infrastruktur listrik

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sambera milik PLN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Juli 2018
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sambera milik PLN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Juli 2018 | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Bakal ibu kota baru di Kalimantan Timur (Kaltim) dipastikan membutuhkan jaringan listrik tambahan. Pasalnya bakal lokasi ibu kota baru yang masuk wilayah Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU), masih kekurangan listrik, termasuk di Mentawir yang akan menjadi wilayah inti pemerintahan.

"Persoalan infrastruktur listrik di Mentawir belum maksimal," kata Plt Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) PPU Yunita Liliyana D, Selasa (15/10/2019).

Sepaku, sesuai keputusan Presiden Joko "Jokowi" Widodo menjadi bakal lokasi ibu kota baru bersama daerah Samboja di Kutai Kartanegara (Kukar), direncanakan menjadi lokasi inti yang memuat istana negara, instansi kementerian, BUMN, dan kantor diplomat negara asing.

PPU saat ini masih terkendala minimnya elektrifikasi wilayah yang berbatasan dengan Kukar. Jaringan listrik sejauh ini baru dinikmati warga perkotaan PPU.

"Tiga kecamatan PPU yang memadai jaringan listriknya; Penajam, Waru dan Babulu. Sedangkan Sepaku mayoritas belum maksimal jaringan listriknya," ungkap Nita.

Kecamatan Sepaku termasuk remote area bagi Kabupaten PPU. Konsentrasi sebaran penduduknya kian memperlebar senjang elektrifikasi penduduk kota dan desa.

"Sebaran penduduk menjadi masalah dalam pembangunan infrastruktur Sepaku. Meski begitu percepatan pembangunan harus dilakukan di sini," ujar Nita.

Oleh karena itu, pemerintah daerah mendorong pembangunan perekonomian di kecamatan berpenghuni 31 ribu jiwa itu. Sementara Kabupaten PPU sudah mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur jalan Rp15 miliar per tahun.

"Setiap tahun ada anggaran Rp 15 miliar sehingga 40 persen infrastruktur jalan sudah terbangun. Sehingga tetap membutuhkan pembangunan percepatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat," papar Nita.

Adanya infrastruktur jalan diharap kian memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat Sepaku. Demikian pula pembangunan jaringan listrik.

"Kalau infrastruktur jaringan listrik menjadi urusan PLN. Kami menyediakan akses jalan saja," ungkap Nita.

Pemkab PPU mengusulkan pembangunan jaringan listrik di sejumlah titik di Sepaku. Usulan disampaikan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Area Kalimantan Timur Utara (Kaltimra).

Di luar Sistem Mahakam Barito

Di sisi lain, PLN Kaltimra mengklaim mayoritas masyarakat di kota/kabupaten Kaltim sudah menikmati aliran jaringan listrik yang memadai. Persentasi elektrifikasi provinsi ini bahkan hampir mencapai 100 persen.

"Sudah hampir 100 persen elektrifikasi Kaltim, termasuk pula Penajam,” kata Kepala Humas PLN Kaltimra Zulkarnaen.

Tetapi persoalan jaringan listrik diakui masih terjadi di Kabupaten Mahakam Ulu yang berbatasan dengan Malaysia. Soal itu, kata Zulkarnaen, PLN Kaltimra terbentur topografi Mahakam Ulu yang berkarakter perbukitan, sungai, dan hutan liar Kalimantan.

Kendati begitu, PLN sudah membangun jaringan terisolasi untuk warga Mahakam Ulu. Namun, jaringan listrik pedalaman ini belum tergabung dengan jaringan besar Sistem Interkoneksi Mahakam Barito berdaya 1.600 MW meliputi Kaltim, Kalsel, dan Kalteng.

"Sehingga area di sini menggunakan jaringan listrik terisolasi sendiri, belum tersambung dengan jaringan Sistem Mahakam Barito," ungkap Zulkarnaen.

Sedangkan kota/kabupaten lain di Kaltim, lanjut Zulkarnaen, dipastikan tersambung Sistem Mahakam Barito. Termasuk di antaranya PPU yang sebagian wilayahnya menjadi bakal ibu kota baru negara.

Apalagi dalam waktu dekat ini, PLN berencana menambah daya listrik Sistem Mahakam Barito lewat aktifikasi pembangkit listrik di Bontang. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) ini mampu memproduksi 2 x 200 MW daya listrik.

“Sehingga daya listrik Sistem Mahakam Barito pun melonjak menjadi 2.000 MW. Surplus daya listrik Kaltim meningkat menjadi 700 MW," tutur Zulkarnaen.

Sedangkan area khusus ibu kota nanti akan memperoleh perlakuan khusus karena berada di luar jaringan Sistem Mahakam Barito. PLN Kaltimra akan membangun jaringan listrik bawah tanah berkapasitas daya 1.500 MW.

"Ibu kota negara mengusung konsep green city dan kualitas listriknya juga harus zero down time. Untuk itu butuh tambahan daya listrik baru sebesar 1.500 MW," tuturnya.

Sementara ini, PLN masih menunggu lampu hijau dari Kementerian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tentang lokasi persisnya ibu kota. Rencana kelistrikan ini akan diselaraskan dengan rencana induk pembangunan yang ditetapkan pemerintah.

"Berisi tentang kebutuhan daya, pembangkit, dan lainnya. Kalau sudah ada kepastian akan disesuaikan dengan perencanaan Bappenas," papar Zulkarnaen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR