KELUARGA BERENCANA

Ibu muda pilih suntikan, lelaki milenial pilih kondom

Mural program Keluarga Berencana (KB) di Kampung KB, RW 11, Kelurahan pasir Jaya, Bogor, Jawa Barat.
Mural program Keluarga Berencana (KB) di Kampung KB, RW 11, Kelurahan pasir Jaya, Bogor, Jawa Barat. | Arif Firmansyah /Antara Foto

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 39 tahun 2014, menetapkan tanggal 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat terhadap pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan dalam membangun bangsa dan negara.

Undang-undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga mengamanatkan; Pembangunan keluarga adalah mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat; dan Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas.

Undang-undang ini mendukung Program KB sebagai upaya untuk mewujudkan keluarga sehat dan berkualitas. Pengaturan kehamilan dalam Program KB dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi.

Pemerintah menggulirkan program Keluarga Berencana (KB) sejak 29 juni 1970. Program KB di Indonesia sebenarnya dimulai sejak tahun 1957, sebagai upaya menekan pertumbuhan jumlah penduduk serta meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

Pengendalian penduduk melalui upaya penurunan Total Fertility Rate (TFR) atau jumlah anak yang dimiliki oleh seorang wanita pada masa reproduksi juga termaktub dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Target TFR dalam RPJMN 2015-2019 tersebut 2,8. Upaya untuk menurunkan TFR dilakukan dengan meningkatkan penggunaan alat kontrasepsi.

Lalu, alat kontrasepsi apa yang banyak digunakan para peserta Program KB?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), yang diolah tim Lokadata Beritagar.id, metode suntikan menjadi tren dari sekitar 28,7 juta ibu berusia 15-49 tahun pengguna kontrasepsi di Indonesia. Dari tahun 2014 hingga 2018 mencapai 50 persen lebih.

Tren metode kontrasepsi keluarga berencana, tahun 2014-2018 dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS).
Tren metode kontrasepsi keluarga berencana, tahun 2014-2018 dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS). | Lokadata /Beritagar.id

Menyambut Harganas XXVI Tahun 2019, Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengingatkan pentingnya keluarga terutama orang tua dalam mencegah terjadinya perkawinan anak usia dini yang belakangan ini marak terjadi.

"Seringkali terutama bagi para perempuan yang menikah dini, ketika di bawah usia yang diperbolehkan dalam perkawinan karena orang tua. Orang tua ingin melepaskan yang bersangkutan kepada seseorang yang secara kapital secara modal lebih baik. Itu tidak boleh terjadi lagi," ungkap Pramono dalam keterangan yang dikutip, Sabtu, (29/6/2019).

Menurutnya, ketika menikah dini tidak ada tanggungan atau proteksi kepada anak yang bersangkutan.

Presiden Joko "Jokowi" Widodo meyakini, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat jika keluarga-keluarga di Indonesia juga kuat dan sejahtera. Sejalan dengan itu, Jokowi mengajak semua bergerak, sama-sama bergotong-royong membangun keluarga Indonesia yang berkualitas.

Program KB juga dianggap berperan besar untuk mencapai pengurangan angka kematian ini melalui perencanaan keluarga dengan mengatur kehamilan yang aman, sehat, dan diinginkan.

Program keluarga berencana dianggap memiliki makna yang sangat strategis, komprehensif, dan fundamental dalam mewujudkan manusia Indonesia yang sehat dan sejahtera.

Berdasarkan ketentuan Pasal 56 ayat (2) Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 dan ketentuan lampiran huruf (n) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, tugas pemerintahan di bidang pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana dilaksanakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

BKKBN merupakan LPNK (Lembaga Pemerintahan Non Kementerian) yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Selain meningkatkan pengguna alat kontrasepsi pada kaum ibu, BKKBN juga berupaya meningkatkan partisipasi kaum lelaki untuk pemakaian kontrasepsi.

Penggunaan kondom meningkat

Dari data BPS, terjadi pergeseran penggunaan alat kontrasepsi "Kondom Pria" di tahun 2018. Padahal tahun sebelumnya rata-rata penggunaan kondom hanya 1 persen, meningkat menjadi 7 persen pada tahun 2018.

Tren penggunaan alat kontrasepsi kondom terjadi pada "Generasi Millennial", yang menyumbang penggunaan alat kontrasepsi di tahun 2018 menjadi 6,12 persen. Padahal tahun sebelumnya (2017), hanya 0,13 persen.

Kemudian "Generasi Z" naik 1,77 persen dari tahun 2017 ke 2018, sedangkan "Generasi X" tidak terlalu tinggi kenaikannya hanya 0,66 persen dari tahun 2017 ke 2018.

Tren pengguna kontrasepsi kondom pria berdasarkan kelompok usia, 2017-2018.
Tren pengguna kontrasepsi kondom pria berdasarkan kelompok usia, 2017-2018. | Lokadata /Beritagar.id

Karakteristik generasi rentang usia mengacu pada Pew Research di mana pembagian rentang usianya adalah:

  1. Generasi Z: Usia 15 - 22 tahun.

  2. Millennial: Usia 23 - 38 tahun.

  3. Generasi X: Usia 39 - 49 tahun.

Jika dipetakan, tren penggunaan kondom menurut provinsi, Kepulauan Riau menjadi provinsi dengan kenaikan penggunaan alat kontrasepsi paling tinggi. Pada tahun 2017 sebesar 1,08 persen menjadi 14,83 persen di tahun 2018.

Kemudian disusul Sumatera Utara di tahun 2017 sebesar 1,68 persen menjadi 14,43 persen di tahun 2018, lalu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di tahun 2017 hanya 7,65 persen meningkat jadi 13,84 persen di tahun 2018.

Dari hasil olah data, semua provinsi rata-rata mengalami kenaikan dalam penggunaan alat kontrasepsi "kondom lelaki" tersebut, kecuali provinsi Gorontalo, Papua Barat dan Kepulauan Bangka Belitung.

Tren penggunaan kontrasepsi kondom pria berdasarkan wilayah, 2017-2018.
Tren penggunaan kontrasepsi kondom pria berdasarkan wilayah, 2017-2018. | Lokadata /Beritagar.id

Menilik Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) BKKBN tahun 2018, realisasi pemakaian kontrasepsi modern mencapai 57 persen dengan target capaian 61,1 persen, artinya persentase tercapai hingga 93,29 persen.

Kontrasepsi cara modern menurut BKKBN diterapkan pada pasangan usia subur (PUS) yang sedang menggunakan alat/cara KB modern berupa sterilisasi wanita (MOW), sterilisasi pria (MOP), Pil, IUD, Suntik, Susuk KB (Implant), dan kondom.

Sebagai alat kontrasepsi modern, kondom juga dapat mencegah infeksi menular seksual (IMS), yang ditularkan melalui hubungan seksual. Beberapa penyakit IMS yang bisa dikurangi risikonya, seperti klamidia, gonore, hingga HIV.

Selain dapat mencegah penyakit seksual menular, kondom juga bisa menjaga kesehatan dan meningkatkan kehidupan seksual karena higienis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR