PENDIDIKAN TINGGI

Ide memajukan UTBK menuai protes publik

Peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) menjawab soal pada pelaksaan ujian gelombang pertama, di kampus USU, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (13/4/2019).  Kemenristekdikti akan memajukan UTBK untuk masa kuliah mulai 2020.
Peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) menjawab soal pada pelaksaan ujian gelombang pertama, di kampus USU, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (13/4/2019). Kemenristekdikti akan memajukan UTBK untuk masa kuliah mulai 2020. | Irsan Mulyadi /Antara Foto

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bakal memajukan tes masuk perguruan tinggi negeri (PTN) 2020 menjadi pada akhir 2019. Rencana itu bakal diberlakukan pada segmen Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Tapi publik memprotes rencana ini.

Menurut Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Naim, pelaksanaan UTBK akan dilaksanakan sekitar semester 5, tapi belum ditentukan kapan tanggal tepatnya. "Sehingga siswa SMA yang sudah kelas 3 itu sudah mulai ikut seleksi," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/8/2019).

Senin lalu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menaksir pelaksanaan UTBK mungkin akan digelar pada November-Desember 2019. Sehingga pada awal 2020, para siswa diharapkan sudah mengetahui dirinya diterima di perguruan tinggi dan prodi tertentu.

“Kami ambil sekitar November-Desember. Jadi Januari sudah ada kepastian diterima perguruan tinggi di Indonesia, jadi siswa tinggal kejar Ujian Nasional (UN) mereka,” kata Nasir kepada Medcom.id di Jakarta, Senin (12/8/2019).

Dengan UTBK yang dimajukan, harapannya murid memiliki waktu lebih panjang mempersiapkan Ujian Nasional (UN), tanpa harus memikirkan UTBK yang sudah mereka lewat di semester lima.

Sebelumnya, UTBK digelar setelah UN. Sehingga, habis selesai UN, para siswa langsung lanjut memikirkan UTBK.

Menurut Ainun, proses ujian masuk perguruan tinggi sebelum murid SMA lulus telah dilakukan di berbagai negara. Misalnya, Australia, Singapura, dan Amerika Serikat.

Selain itu, ia juga menyebut akan ada kemungkinan jumlah gelombang pada tes UTBK akan ditambah. Sehingga siswa-siswi bisa mendapatkan kesempatan lebih banyak agar dapat diterima di perguruan tinggi yang diharapkan. "Jadi tujuannya untuk memperluas kesempatan," kata Ainun.

Selama ini, pelaksanaan UTBK digelar setelah siswa SMA menyelesaikan semester 6. Pada 2019, UTBK digelar dua gelombang. Gelombang I dihelat pada 13 April – 04 Mei 2019. Sedangkan gelombang II dilaksanakan 11 Mei – 26 Mei 2019.

Untuk materi UTBK, secara terpisah Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Ismunandar mengatakan, Tes Potensi Akademik yang bakal dimasukkan dalam tidak akan berpengaruh terhadap kompetensi murid. "Kalau jadi maju pasti TPA-nya sampai (materi) materi kelas 2," ujarnya.

Rencana pemerintah ini mendapat tentangan publik. Di laman petisi online change.org, warga daring menolak rencana pemajuan UTBK. saat berita ini ditulis, sudah ada 73 ribu yang menolak ide Menteri Nasir.

Menurut pencetus petisi, pemajuan UTBK ke akhir semester 5 bukannya akan meningkatkan hasil UTBK dan UN, tetapi justru berpotensi menjatuhkan keduanya.

Ada empat alasan kenapa mereka menolak. Pertama, waktu belajar sangat singkat. Saat ini sudah pertengahan Agustus. Jika jadi digelar November, hanya ada waktu sekitar 2 bulan buat belajar.

Kedua, infrastruktur belum tentu siap. Berkaca pada UTBK 2019, masalah teknis, seperti akses website, masih banyak dikeluhkan. Ketiga, materi UTBK akan bertabrakan dengan materi UN. Sebab, masa itu para siswa sedang mempersiapkan materi UN.

Keempat, tak ada prioritas bagi UN. Mereka mafhum, UN hanya formalitas dan tak menentukan kelulusan, apalagi menentukan penerimaan di PTN. "Jika memang pemerintah ingin mengubah sistem menjadi seperti ini, ...kenapa tidak UN saja yang dimajukan ke semester 5?"

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR