Indeks Integritas dalam UN pengaruhi reputasi sekolah

Sejumlah siswa mengikuti uji coba ulang Ujian Nasional Computer Based Test (UN CBT) di SMK Negeri 1 Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (7/4/2015)
Sejumlah siswa mengikuti uji coba ulang Ujian Nasional Computer Based Test (UN CBT) di SMK Negeri 1 Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (7/4/2015) | Destyan Sujarwoko/Antara

Pada masa lalu, Ujian Nasional (UN) selalu diramaikan dengan isu kecurangan, terutama dalam bentuk bocoran soal dan jawaban. UN kali ini, yang pertama di bawah kepemimpinan Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan, menjanjikan perbaikan.

Ujian Nasional (UN) 2015 dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada pekan kedua April, dan pekan pertama Mei 2015. Untuk siswa SMA, MA atau SMK, akan dilaksanakan pada Senin (13/4) hingga Rabu (15/4). Sedangkan UN untuk siswa SMP, dijadwalkan pada Senin (4/5) sampai Kamis (7/5).

Kekhawatiran terhadap kecurangan dalam UN, telah menjadi perhatian Menteri Anies sejak persiapan UN berlangsung. Kementerian akan mengantisipasi kecurangan, antara lain dengan Computer Based Test (CBT) saat UN.

"Penggunaan CBT tahun ini akan mempermudah pelacakan kebocoran soal dan kecurangan," kata Menteri Anies di depan Komisi X DPR RI, Senin (6/4), dilansir Gresnews.

CBT UN atau UN Berbasis Komputer ini akan dilaksanakan di 585 sekolah di 26 provinsi. Awalnya terdapat 720 sekolah yang mengajukan diri, namun seleksi menyisakan 585 sekolah yang mempunyai kriteria perlengkapan komputer dengan rasio satu komputer untuk tiga peserta UN.

Terobosan lainnya yang menarik, Menteri Anies akan meluncurkan indeks integritas sekolah. “Indeks integritas sekolah dalam melaksanakan UN akan diberikan kepada sekolah dan Pemda, serta khusus untuk SMA sederajat disampaikan ke PTN,” kata Anies, Senin (6/4), dikutip laman Kemdikbud RI.

Semakin besar indeks integritas, tingkat kejujuran di sekolah tersebut dinilai semakin tinggi. “Otomatis, nilai UN tinggi jadi tak bermakna jika sekolahnya tidak memiliki indeks integritas tinggi. Sebaliknya, indeks integritas tinggi justru akan menaikkan nilai atau bobot angka UN-nya,” imbuhnya. Sekolah pun didorong untuk menanamkan kejujuran, tidak hanya saat UN.

Pakar pendidikan Itje Chodidjah kepada Harian Kompas pun memperingatkan, kejujuran yang dapat dinilai dari UN hanya proses administratif. "Kejujuran harus terintegrasi di dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Kuncinya ada pada guru dan orang-orang dewasa untuk memberi teladan perilaku baik kepada anak-anak," katanya, Selasa (7/4).

Selain itu, UN juga tak lagi menjadi penentu kelulusan. Siswa yang belum memenuhi standar nilai kompetensi dapat melakukan ujian perbaikan atau ujian ulangan pada tahun berikutnya.

Kombinasi ini, diharapkan mengikis budaya guru dan orangtua yang nekat menghalalkan segala cara untuk membantu siswa meraih nilai UN setinggi-tingginya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR