FLUKTUASI RUPIAH

Indikator ekonomi membaik, efek Jokowi atau global?

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (12/3/2019).
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (12/3/2019). | Indrianto Eko Suwarso /AntaraFoto

Laju nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terpantau energik satu hari usai pemungutan suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Kamis (18/1/2019), rupiah dibuka pada posisi 14.002 dari penutupan sebelumnya, 14.085.

Geliat sama juga terpantau untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perbandingan waktu yang sama, IHSG dibuka di posisi hijau, 6,568.84, naik 87 poin dari penutupan yang berada pada posisi 6,481.54.

Sejumlah pengamat sepakat menyatakan faktor pemilu menjadi mesin penggerak geliat ini, utamanya dari hasil penghitungan suara cepat yang menunjukkan pasangan calon petahana unggul.

Kepala Riset Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih dalam rilisnya mengatakan, penguatan mata uang garuda dan IHSG pada dua hari belakangan memang dipicu kuat dari hasil penghitungan cepat pemilu yang mencatat kemenangan bagi kubu 01.

“Kemenangan ini menjadi faktor pasar, pelaku pun akan merespons positif kemenangan ini walau hanya sesaat,” ujarnya.

Dari prediksinya, ada potensi Rupiah bergerak hingga kisaran 13.950 sampai dengan 14.000 sepanjang pekan ini.

Analisis berbeda datang dari Bhima Yudhistira Adhinegara. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini menuturkan kepada Beritagar.id (Kamis, 18/4/2019), bahwa pelaku pasar pada dasarnya tidak melihat sosok calon presidennya, melainkan stabilitas keamanan yang terjadi sepanjang momen ini.

“Tidak ada ribut-ribut, tidak ada kekerasan yang sistemik dan sebagainya. Meski memang bisa juga berkaitan dengan terpilihnya kembali Jokowi. Ada pelaku yang berharap stabilitas atas kebijakan seperti infrastruktur dan inflasi yang akan berlanjut,” tutur Bhima.

Kendati demikian, Bhima menekankan geliat IHSG dan Rupiah saat ini sebenarnya telah terjadi sejak awal tahun yang banyak disokong dari faktor global. Ada dua poin dari faktor itu, pertama kondisi ekonomi Tiongkok dan kedua ketidakpastian politik di Inggris.

Pertama, Indonesia menerima dampak yang cukup besar dari rilis pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 6,4 persen, lebih tinggi dari prediksi 6,2 persen yang diungkap banyak pihak.

“Tiongkok masuk masa bounce back. Pertumbuhan ekonominya cukup baik di tengah perang dagang. Artinya, efek perang dagang mereda sehingga investor jadi yakin negara berkembang tidak separah itu,” kata Bhima.

Kedua, Indonesia menarik untung yang cukup baik dari polemik British Exit (Brexit) di Inggris. Ketidakpastian kondisi politik di Negeri Ratu Elizabeth itu membuat banyak investor di negara maju mengalihkan investasinya ke Indonesia.

“Kalau kita lihat, sebulan terakhir atau year-to-date (ytd) Januari sampai hari ini, dana asing ke pasar modal kita (net buy) mencapai Rp14 triliun. Itu banyak sekali. Jadi memang kita saat ini tengah dibanjiri dana asing yang cukup melimpah,” jelasnya.

Di sisi lain, Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto menganalisis, efek IHSG dan Rupiah yang muncul setiap kali Jokowi terpilih—Pilpres 2014 dan 2019 (versi penghitungan cepat)—tak selalu baik.

Pada 2014, IHSG memang sempat mengalami rally sepekan sebelum penyelenggaraan pilpres dilakukan. Pasca-pilpres, pergerakannya cenderung menjadi stagnan.

Rudi mengira, meski pemungutan sudah rampung, namun gugatan yang masuk ke Mahkamah Konstitusi masih berkelanjutan. Di samping itu, koalisi pendukung pemerintah juga belum menunjukkan kesolidannya.

“Hal ini menunjukkan bahwa selain presiden dan wakil presiden, kestabilan politik juga ditunjukkan dari dukungan legislatif terhadap pemerintahan yang terbentuk,” tukas Rudi.

Pendukung pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin mengikuti Konser Putih Bersatu dalam rangka Kampanye Akbar pasangan capres-cawapres tersebut di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (13/4/2019).
Pendukung pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin mengikuti Konser Putih Bersatu dalam rangka Kampanye Akbar pasangan capres-cawapres tersebut di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (13/4/2019). | Nova Wahyudi /AntaraFoto

Menanti Oktober

Bhima Yudhistira Adinegara mengingatkan, sentimen positif ini kemungkinan hanya akan berlangsung satu hingga dua pekan ke depan. Sebab, pemerintah dan seluruh pelaku pasar masih harus mewaspadai kinerja ekspor yang masih negatif.

“Kita mesti waspada, kondisi ini bisa membuat rupiah melemah, volatilitas terjadi lagi,” kata Bhima.

Saat ini, pelaku pasar lebih banyak wait and see hingga Oktober 2019. Mengapa? Karena saat itu pemerintahan diprediksi sudah terbentuk. Kabinet kementerian sudah terpilih dan dilantik.

“Seberapa profesional dan apakah sudah sesuai ekspektasi pasar (jajaran kementerian). Ada yang bilang bahwa bulan Oktober masih lebih menentukan dari April,” tegasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beranggapan berbeda. Menurutnya, sikap wait and see dari investor kepada Indonesia saat ini cenderung tak ada.

Namun memang, Sri Mulyani juga sepakat menyatakan bahwa pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi gerbang utama dalam mengarahkan kebijakan khususnya dalam bidang ekonomi.

“Saat ini kita sedang melaksanakan APBN 2019, namun di sisi lain, kita juga sedang menyiapkan untuk 2020. Jadi, kerangka-kerangka untuk pemulihan itu yang akan dilihat,” tandas Sri Mulyani di Kompleks Istana Negara, Kamis (18/4/2019).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR