KONTROVERSI VAKSIN

Indonesia anggap vaksin penting, Prancis skeptis

Petugas Puskesmas (kiri) saat meneteskan vaksin Polio kepada anak di Posyandu Tut Wuri Kota Sorong, Papua Barat, Selasa (2/4/2019).
Petugas Puskesmas (kiri) saat meneteskan vaksin Polio kepada anak di Posyandu Tut Wuri Kota Sorong, Papua Barat, Selasa (2/4/2019). | Olha Mulalinda /ANTARA FOTO

Secara global, 79 persen orang percaya vaksin aman. Namun, pandangan orang tentang vaksin sangat bervariasi antar-negara.

Saat Prancis terbukti paling skeptis soal produk medis paling efektif di dunia ini, Indonesia justru menganggapnya penting. Fakta ini terungkap lewat survei global yang memberi gambaran rinci soal sikap populasi dunia akan vaksinasi.

Survei ini digagas Wellcome Trust, badan riset amal medis di London. Mereka menyurvei lebih dari 140 ribu orang di lebih dari 140 negara di dunia.

Banyak temuan menarik dari survei ini, misal 8 dari 10 orang (79 persen) sangat setuju bahwa vaksin aman. Hanya 7 persen yang menyatakan tak setuju vaksin itu aman.

"Vaksin adalah salah satu unsur kesehatan publik yang paling kuat, dan kita butuh masyarakat untuk memercayainya jika ingin vaksin jadi efektif," tegas Jeremy Farrar, direktur Wellcome trust.

Bangladesh dan Rwanda adalah dua negara yang paling yakin akan kekuatan vaksin. Uniknya, ketidakyakinan terhadap vaksin justru terjadi di negara-negara kaya.

Di Prancis, satu dari tiga orang tak setuju vaksin itu aman. Persentase orang Prancis yang tak yakin pada keamanan vaksin adalah yang paling tinggi di seluruh dunia.

Apa yang melatari ketidakpercayaan tersebut?

"Kami pikir ada masalah kepercayaan pada pemerintah, khususnya pada otoritas kesehatan," kata Pierre Verger, epidemiologis yang menelaah keengganan akan vaksin di institut riset biomedis INSERM di Marseille.

Ternyata ada beberapa skandal kesehatan di Prancis. Pada 2009, Prancis menarik izin Mediator, obat diabetes berbasis amfetamin yang dikaitkan dengan ratusan kematian. Padahal negara-negara lain sudah melakukannya lebih dulu.

Orang Prancis juga merasa terbebani biaya kesehatan yang mahal. Seperti vaksinasi massal untuk flu babi pada 2009. "Prancis adalah salah satu dari sedikit negara di mana (kontroversi semacam itu) begitu sering terjadi," kata Verger.

Di negeri Presiden Macron, ketidakyakinan orang akan vaksin adalah hal lumrah. Namun, para ilmuwan bergeming soal fakta ini.

Selain Prancis, Ukraina juga termasuk negara yang tak yakin akan vaksin. Hanya setengah dari populasi yang percaya kekuatan vaksin.

Kedua negara ini tercatat terdampak wabah campak. Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Duni), Prancis mengalami 2.913 kasus campak pada 2018, tahun ini jumlahnya sudah 964 kasus.

Sementara di Ukraina tercatat 42.874 kasus per April 2019. Tahun lalu, angka penduduk terdampak campak lebih tinggi lagi, 53.218.

Dalam survei Wellcome Global Monitor 2018, Indonesia masuk ke dalam daftar negara yang menganggap vaksin penting diberikan kepada anak-anak.

Rata-rata 90 negara di dunia yang menganggap vaksin penting di atas 90 persen. Bahkan, terdapat empat negara yang mutlak menilai vaksinasi penting, yakni Mesir, Etiopia, Nikaragua, dan Siprus Utara.

Meski menganggap vaksin penting, Indonesia adalah satu dari 24 negara yang laporan vaksinasinya ke-11 paling rendah.

Sebanyak 88 persen melaporkan telah memvaksin anak, 10 persen tidak melaporkan, dan satu persen tidak tahu atau menolak melaporkan.

Dalam survei pelaporan vaksinasi anak untuk pencegahan difteri, polio atau tetanus, negara yang melaporkan vaksinasi anak-anak paling tinggi adalah Armenia, Azerbaijan, Belarus, Chad, Ghana, Kazakhstan, Kirgistan, Senegal, dan Taiwan masing-masing 89 persen.

Di negara-negara seperti Prancis, Swiss, dan Austria, terlihat polarisasi antara mereka yang setuju vaksin aman dan efektif, dan mereka yang tidak setuju.

Tetapi di Ukraina, Belarus, dan negara-negara Eropa Timur lain yang ragu-ragu dengan vaksin, tampaknya masalah utamanya adalah sejumlah besar orang yang tidak yakin harus percaya yang mana.

Memang, hanya 7 persen yang menyatakan tak setuju vaksin itu aman. Masalahnya, untuk menciptakan "herd immunity"--kondisi di mana ada cukup populasi yang terilndungi dari penyakit untuk meminimalkan penularan--bergantung pada cakupan vaksinasi.

Menurut WHO, sering kali pada tingkat di atas 90 persen. Sebagai contoh, kunci untuk memberantas campak di suatu daerah adalah membuat cakupan vaksinasi di wilayah itu mencapai setidaknya 95 persen.

Selama seabad terakhir, vaksin telah menjauhkan populasi dunia dari berbagai penyakit menular yang mengerikan. "Sangat menenangkan bahwa hampir semua orang tua di seluruh dunia memvaksinasi anak-anak mereka. Namun, masih ada kepercayaan yang lebih rendah terhadap vaksin di seluruh dunia," kata Charlie Weller, kepala vaksin Wellcome Trust, yang ikut memimpin survei.

Dalam survei yang dihelat Wellcome Trust bersama perusahaan survei Gallup ini, masih ada 188 juta orang tua di penjuru dunia yang menyatakan anak-anak mereka tidak divaksin. Jumlah ini setara dengan enam persen.

Total terbesar dari mereka ada di Tiongkok (9 persen), Austria (8 persen), dan Jepang (7 persen).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR