KEANEKARAGAMAN HAYATI

Indonesia bahas sumber daya genetik dengan anggota PBB di Mesir

Sejumlah kapal nelayan berada di Teluk Buo, Bungus, Padang, Sumatera Barat, Jumat (16/11/2018). Teluk Buo adalah salah satu lokasi keindahaan alam hayati Indonesia.
Sejumlah kapal nelayan berada di Teluk Buo, Bungus, Padang, Sumatera Barat, Jumat (16/11/2018). Teluk Buo adalah salah satu lokasi keindahaan alam hayati Indonesia. | Iggoy el Fitra /Antara Foto

Indonesia adalah salah satu negara yang menandatangani kesepakatan Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB. Konferensi tingkat tinggi ini dimulai pada 1994 dan berlangsung dalam dua tahun sekali.

Untuk edisi 2018, Konferensi Keanekaragaman Hayati digelar di Sharm El Sheikh, Mesir, pada 14-29 November. Pertemuan terbatas ini memiliki strategi dan rencana aksi untuk panduan negara-negara yang menandatangani kesepakatan UN Biodiversity (CBD) and Conference of the Parties (COP14).

Kesepakatan itu untuk melindungi dan mengurangi hilangnya keanekaragaman hayati dunia. Ini juga mendukung Protokol Nagoya sebagai perjanjian internasional yang berisi aturan untuk mengakses dan berbagi penggunaan sumber daya genetik antarnegara.

Delegasi Indonesia dalam konferensi ini diwakili Hagi Yulia Sugeha dari Pusat Penelitian Oceanografi (P2O) LIPI. Yulia mengemukakan Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki potensi SDA melimpah, terutama biodiversitas laut terbesar di dunia.

Kekayaan itu, menurut Yulia, disebabkan letak Indonesia yang berada di segitiga terumbu karang. "Dari coastal segitiga terumbu karang itu Indonesia merupakan penyumbang paling besar untuk biodiversitas laut dunia," ujar Yulia saat disambangi Beritagar.id di Hall Convention International, Sharm El Sheikh, Mesir, Sabtu (17/11/2018).

Yulia mengemukakan, kehadiran delegasi Indonesia dalam UN Biological on Diversity adalah untuk mendukung target kekayaan keanekaragaman hayati. Dan prioritas Indonesia adalah terumbu karang (coral reef) karena terkait dengan keamanan genetika perairan tanah air.

"Untuk sumber daya genetik ini, kalau kita kaitkan dengan Convention Biodiversity maka terdapat tiga prioritas utama; yaitu gen, spesies, dan ekosistem. Ekosistem yang dimaksud adalah terutama terumbu karang, serta ekosistem yang ada di sekelilingnya.

"Di situ ada seagrass dan mangrove. Kalau yang ke arah laut ya pelagik (laut terbuka) itu sendiri. Jadi ekosistem pelagik itu yang paling banyak digarap di Indonesia dan itu adalah coral reef," ujar dia.

Yulia mengatakan lebih dari 300 spesies coral yang diteliti terdiri dari hard coral dan soff coral. Indonesia pun menjadi walidata untuk seagrass dan mangrove. Inilah yang disampaikan dalam konferensi tersebut.

"Yang menyangkut dengan tutupan mangrove berapa dan seagrass berapa. Untuk mangrove, kami bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Kehutanan. Karena mangrove sebagian masih dianggap hutan," katanya.

Konferensi tersebut juga membahas sumber daya genetik dari laut. Pembahasan dimulai dari gen, spesies, sampai ekosistem.

"Semuanya terkait dan kami dari Indonesia diminta untuk menginformasikan kondisi terkini dengan kegiatan sumber daya genetik itu. Kami ditanya soal digital sequence information (DSI)," lanjut dia.

Mengarah ke bisnis obat dan kosmetik

Yulia mengemukakan, dalam pemahaman CBD, spesies dan ekosistem yang akan dikaji biodiversitasnya itu mengarah sumber daya genetik. Ini menjadi perhatian lantaran pemanfaatan nilai dan manfaatnya demi manusia di bumi.

Sedangkan ekosistem dan spesies yang disampaikan akan fokus pada masalah konservasi lingkungan. Meski begitu, Indonesia akan tetap berhati-hati dengan informasi yang disampaikan dalam konferensi ini.

"Sebab belakangan mereka meminta lewat digital sequence information, Indonesia diminta berbagi dengan mereka tentang sumber daya genetik. Nah, di sini Indonesia akan lebih hati-hati karena kita tahu punya sumber daya paling tinggi di dunia dan itu potensial untuk obat-obatan dan kosmetik," katanya.

Menurut Yulia, andai ada upaya pemanfaatan, maka Indonesia akan mempertimbangkan Akses Benefit Sharing (ABS). Indonesia pun akan memperjuangkan itu.

"Kalau memang terjalin kerjasama ya kita harus lihat, negara-negara di luar itu seperti apa posisinya dan pendapatnya. Kalau menguntungkan Indonesia ya kita support, kalau itu merugikan ya kita akan intervensi. Jadi itu saja yang kita coba persiapkan," tegasnya.

Benefit sharing yang diinginkan Indonesia dalam konferensi ini adalah berbagi informasi. Jadi, Indonesia berbagi data dan negara lain membagi ilmu pengetahuan dan teknologi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR