KETENAGAKERJAAN

Indonesia bersiap kirim 70 ribu TKI ke Jepang

Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri (kedua kiri) didampingi Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemnaker Bambang Satrio Lelono (kiri) meninjau simulasi ruang kreatif animasi usai peresmian ruang kreatif Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Cevest, di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (16/11/2018).
Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri (kedua kiri) didampingi Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemnaker Bambang Satrio Lelono (kiri) meninjau simulasi ruang kreatif animasi usai peresmian ruang kreatif Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Cevest, di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (16/11/2018). | Risky Andrianto /ANTARA FOTO

Jepang kekurangan tenaga kerja. Negeri sakura tersebut pun menjalin kerja sama dengan Indonesia guna memenuhi kebutuhannya.

Mereka membutuhkan 345.150 tenaga kerja asing, termasuk tenaga kerja Indonesia, di 14 sektor.

"Lima tahun ke depan, kami targetkan dapat mengambil sekitar 20 persen atau 70 ribu orang dari 350 ribu tenaga kerja asing yang dibutuhkan Jepang," kata Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri, Selasa (25/6).

Keempatbelas sektor yang bisa diisi tenaga kerja Indonesia termasuk perawat, manajemen kebersihan gedung, industri perhotelan, pertanian, perikanan dan akuakultur, pembuatan makanan dan minuman, dan industri makanan.

Ada pula industri penerbangan, industri komponen mesin dan perkakas, teknisi mesin industri, industri listrik, industri elektronik dan informasi, industri konstruksi pembuatan kapal dan mesin kapal, dan perbaikan dan pemeliharaan mobil.

Dari keempatbelas sektor tersebut, paling banyak dibutuhkan perawat sebanyak 60 ribu orang, industri makanan 53 ribu orang, industri konstruksi 40 ribu orang, manajemen kebersihan gedung 37 ribu orang, pertanian 36.500 orang, dan pembuatan makanan minuman 34 ribu orang.

Pemerintah menggenjot upaya memuluskan kerja sama Indonesia-Jepang di bidang penempatan tenaga kerja berketerampilan spesifik atau specified skilled worker (SSW) ini dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia lewat Balai Latihan Kerja (BLK).

Demi memenuhi target penempatan 70 ribu tenaga kerja di Jepang, pihak swasta turut dilibatkan. Caranya melalui penyelenggaraan program pelatihan kerja juga bahasa.

Kelak, ada empat kategori SSW. Pertama, new comer. Ini adalah calon pekerja migran Indonesia yang tak berpengalaman magang di Jepang dan berangkat dari Indonesia.

Ada pula Ex-TIT in Indonesia, yakni calon pekerja migran Indonesia yang punya pengalaman magang/Technical Intern Trainee (TIT) di Jepang, dan berangkat dari Indonesia.

Ketiga, Ex-TIT in Japan, yakni calon pekerja migran Indonesia yang sudah menyelesaikan program magang di Jepang dan melanjutkan bekerja di negara tersebut.

Terakhir, Student. Calon pekerja migran Indonesia yang sudah menyelesaikan pendidikan formal di Jepang dan melanjutkan bekerja di Jepang.

Menurut Dirjen Binapenta dan PKK Kemnaker, Maruli Hassoloan, pihaknya fokus pada penyaluran tenaga kerja yang pernah magang atau sekolah di Jepang. "Di Jepang kan masalah besarnya bahasanya, makanya kita fokus ke yang sekolah dan pernah magang di sana. Jadi mereka bahasa udah bagus, lalu skillnya ada, ya sudah mereka bisa mudah diterima," jelas Maruli.

Sambung Maruli, "Untuk pendaftarannya pantau saja Disnaker, atau Kemnaker, kami akan update infonya enggak lama lagi."

Kesepakatan Indonesia-Jepang dirangkum dalam Memorandum of Cooperation (MoC) yang ditandatangani Menteri Hanif dan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii.

"Kami memang juga negosiasi dengan negara lain dan Indonesia masuk salah satu pilihan teratas. Alasannya, anak muda di Indonesia memiliki potensi yang begitu besar, perekonomian Indonesia juga sedang bertumbuh," tutur Masafumi.

Maruli punya klaim lain. "Tinggi minatnya, orang Indonesia disukai (karena) pekerja keras, sopan dan santun. Program pemagangan mereka (tenaga kerja asal Indonesia) juga disukai."

Hanif juga sempat menyinggung soal gaji. "Kalau kaya nurse ya lebih tinggi dari menteri. Kisarannya bisa Rp 20 juta untuk skilled worker," imbuh Hanif.

Jepang memang sedang terdesak untuk melakukan perubahan karena kekurangan tenaga kerja. Ini akibat populasi yang menua dan tingkat kelahiran yang rendah.

Sementara Indonesia kini punya bonus demografi. Kecocokan ini membuat pemuda-pemudi Indonesia pun dilirik sebagai solusi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR