EKONOMI KREATIF

Indonesia butuh konglomerat baru

Staf Khusus Kementerian Komunikasi dan Informatika Lis Sutjiati (kedua kanan), Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra (kelima kanan) dan sejumlah pengusaha mengepalkan tangan dalam pembukaan Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital di Denpasar, Bali, Sabtu (7/9/2019).
Staf Khusus Kementerian Komunikasi dan Informatika Lis Sutjiati (kedua kanan), Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra (kelima kanan) dan sejumlah pengusaha mengepalkan tangan dalam pembukaan Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital di Denpasar, Bali, Sabtu (7/9/2019). | Nyoman Hendra Wibowo /AntaraFoto

Peluang Indonesia untuk menjadi negara dengan tingkat konsumsi tinggi terbuka lebar. Maka dari itu, kesempatan bagi tiap individu untuk mengembangkan bisnis pada masa depan bakal semakin banyak.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengatakan Indonesia bisa menghasilkan lebih banyak konglomerat dari potensi ini.

“Kita perlu konglomerat-konglomerat baru di negara kita, sebab peluang itu sangat besar sekali,” kata Jokowi saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) ke-XIV Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (16/9/2019).

Jokowi optimistis pada tahun 2020, Indonesia bakal mengalami yang namanya revolusi konsumen. Sebab pada masa itu, bakal ada 141 juta penduduk yang statusnya naik menjadi middle class (kelas menengah) dan fluent consumers (konsumen aktif).

Sementara, jika dibandingkan dengan tahun pertama Jokowi menjabat, jumlah konsumen Indonesia yang tercatat hanya berkisar 70 juta orang.

Selain kenaikan jumlah, sebaran geografis konsumen Indonesia juga diprediksi lebih merata. Jika pada lima tahun lalu sebaran konsumen umumnya berada di 25 kabupaten/kota, pada tahun depan diprediksi menyebar hingga ke 54 kabupaten/kota.

“Ini besar sekali. Inilah bukti adanya revolusi konsumen di Indonesia,” kata Jokowi.

Jokowi memberi catatan, kenaikan konsumen bisa membuat Indonesia makin atraktif bagi dunia bisnis. Potensi kedatangan investor asing ke dalam negeri makin besar.

Namun kondisi ini bisa berbahaya jika peluang yang ada justru dimanfaatkan asing. “Apalagi dalam situasi perang dagang dan ancaman resesi, magnet konsumen kita akan semakin kuat. Sekali lagi hati-hati,” kata Jokowi.

Pemerintah pun berjanji untuk membantu pelaku usaha memanfaatkan peluang ini. Salah satunya dengan melakukan reformasi birokrasi juga deregulasi perizinan.

Demi menggenjot penciptaan inovasi dan pemanfaatan teknologi, pemerintah bakal memperkuat riset dan teknologi supaya bisa menjadi mitra strategis bagi investor-investor global dalam industri modern saat ini.

Terkait deregulasi, Jokowi mengaku pihaknya bakal mengajukan sekitar 74 revisi undang-undang (RUU) tentang investasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2019-2024.

“Nanti kita akan mintakan omnibus law. Sehingga kecepatan itu betul-betul ada di daya saing ekonomi kita,” katanya.

Merujuk Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode 2005-2017 angka pengusaha trennya menurun. Angka pengusaha di semester pertama 2005 mencapai 39,3 persen dari total angkatan kerja. Kemudian turun menjadi 35,2 persen di semester kedua 2017. Rerata turun 0,16 poin per semester.

Buruh/karyawan/pegawai pada periode tersebut perkembangannya terus naik. Dari 24,3 persen pada semester pertama 2005, naik menjadi 37,5 persen pada semester kedua 2017. Rerata naik 0,5 poin tiap semester.

Angka pekerja keluarga/tak dibayar cukup besar. Periode 2005-2017 rerata 15,2 persen dari angkatan kerja adalah pekerja keluarga/tak dibayar. Meski lambat trennya turun, rerata turun 0,2 poin per semester.

Pekerja lepas perkembangannya naik lambat, rerata naik 0,1 poin per semester. pekerja lepas pada semester kedua 2017 sebesar 10,2 persen, naik 1,5 poin dari semester sebelumnya.

Tingkat pengangguran terbuka trennya turun, rerata turun 0,19 poin per semester. Pada semester kedua 2017 tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,5 persen, naik 0,14 poin dari semester sebelumnya. Turun 0,14 poin dari semester yang sama tahun sebelumnya.

Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran.

Pengusaha terdiri dari angkatan kerja yang berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar, berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar. Pekerja lepas terdiri dari pekerja bebas di pertanian dan pekerja bebas di non-pertanian.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR