TRANSPORTASI MASSAL

Indonesia dan Jepang segera sepakati proyek kereta semi cepat Jakarta-Surabaya

Foto ilustrasi. Pengunjung melihat miniatur kereta cepat pada pameran Indo Trans Expo 2019 di JCC, Jakarta, Sabtu (14/9/2019).
Foto ilustrasi. Pengunjung melihat miniatur kereta cepat pada pameran Indo Trans Expo 2019 di JCC, Jakarta, Sabtu (14/9/2019). | Muhammad Adimaja /Antara Foto

Dalam waktu dekat, pemerintah Indonesia akan meneken nota kesepakatan atau MoU pembangunan kereta semi-cepat Jakarta-Surabaya dengan Jepang. Menurut Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, paling telat MoU itu ditandatangani minggu depan.

"Mungkin minggu ini atau minggu depan kami akan tanda tangan MoU-nya," kata Budi Karya di Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu (15/9/2019), seperti dilansir Katadata.

Kesepakatan ini merupakan langkah maju dari proyek yang sudah lama direncanakan tersebut. Maklum, rencana pengadaan kereta semi-cepat ini bukan hal baru--kerap disebut-sebut akhir 2016 hingga awal 2017. Namun, saat itu, salah satu persoalannya adalah siapa peminat proyek masih sulit didapat.

Kini, semua semakin jelas. Pun, penandatanganan ini mengakhiri kemungkinan Tiongkok untuk masuk dalam proyek kereta semi-cepat Jakarta-Surabaya. "Tidak ada kerja sama dengan Tiongkok," kata Budi.

Sejauh ini, Budi belum tahu persis berapa biaya yang dibutuhkan Jepang dalam proyek tersebut. Namun, pihak Kemenhub menginginkan anggaran proyek berada di sekitar Rp60 triliun.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri. Hingga akhir 2018, Zulfikri mengatakan, draft Pra-Studi Kelayakan proyek tengah dibuat Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).

Pada saat itulah, pemerintah Indonesia bersikukuh anggaran berada di angka Rp60 triliun. "kami minta Rp60 triliun-lah. Nanti akan kami lihat lebih detail lagi," ucap Zulfikri dalam Liputan6.

Soal jumlah anggaran ini, pihak JICA tak mau gegabah dengan menyetujui permintaan Indonesia. Berdasarkan keterangan Chief Representative of JICA Indonesia Office Shinichi Yamanaka, anggaran baru akan diketahui setelah Studi Kelayakan (FS) rampung dilaksanakan.

"Baru akan dipertimbangkan setelah keluar hasil FS-nya," kata Shinichi dalam Kontan.co.id, pertengahan tahun ini. Bila demikian, angka pasti untuk proyek ini bisa jadi baru diketahui pertengahan tahun depan.

"FS kita akan selesaikan sampai pertengahan tahun depan," kata Budi Karya. Yang pasti, menurutnya, anggaran berasal dari JICA dan pembebasan lahan di tangan pemerintah.

Dengan rampungnya FS pada pertengahan tahun depan, artinya, proses konstruksi akan dimulai pada 2020. Nantinya, menurut Zulfikri, pengerjaan konstruksi kereta semi cepat itu diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun.

Adapun jalur KA baru sebagian layang (elevated), yaitu untuk jalur yang melintasi perkotaan padat penduduk sepanjang 56 kilometer.

"56 kilometer tadi akan dibangun 'elevated' karena melintasi kota-kota. Sementara untuk di luar kota kita buat jalur biasa agar efisien," katanya dalam Tempo.co.

Zulfikri mengatakan, rencana awal, kereta semi-cepat akan memakai jalur yang sama dengan jalur yang ada saat ini. Namun, selama pembangunan jalur kereta semi-cepat Jakarta-Surabaya, operasional KA yang ada tidak boleh berhenti.

Itu sebabnya ditawarkan solusi membangun jalur sementara (temporary track) agar tidak mengganggu pengoperasian KA jarak jauh Jakarta-Surabaya. Dengan konstruksi demikian, Zulfikri mengatakan, bisa menghilangkan 1.992 perlintasan sebidang di sepanjang jalur KA Jakarta-Surabaya baik resmi maupun tidak resmi.

"Sebanyak 400 jalan layang akan dibangun sepanjang jalur kereta Jakarta-Surabaya," katanya. Bila sesuai rencana, proyek ini bakal rampung 2023.

Belajar dari MRT

Ditunjuknya Jepang sebagai pemenang tender proyek kereta semi-cepat Jakarta-Surabaya tak lepas dari sudah panjangnya kerja sama kedua negara. Salah satunya adalah pembangunan Mass Rapid Transportation (MRT) di Jakarta.

Dengan panjanganya umur kerja sama ini, Menteri Koordinasi Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan bahwa proyek kereta semi-cepat nanti harus terbuka untuk transfer teknologi dan banyak memakai komponen asli Indonesia.

"Ya jangan seperti MRT yang dikunci. Harus ada konten lokal, transfer teknologi, seperti itu lah," ucap Luhut.

Penggunakan konten lokal ini, bisa jadi hal yang akan pelik dalam negosiasi. Setidaknya, itu yang dikatakan Budi Karya. "Jadi memang perdebatannya tidak mudah, kalau dulu konsep lokal kontennya 70:30, kita sedang tingkatkan 60:40," kata Budi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR