INDUSTRI PARIWISATA

Indonesia dan Malaysia, tujuan wisata halal terbaik

Wisatawan berswafoto di lokasi wisata terapung Pantai Lhokseudu, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Rabu (13/2/2019).
Wisatawan berswafoto di lokasi wisata terapung Pantai Lhokseudu, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Rabu (13/2/2019). | ANTARA FOTO /ANTARA FOTO

Indonesia ada di peringkat satu dalam daftar wisata halal terbaik dunia, Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019. Tidak sendiri, Indonesia berbagi tempat bersama Malaysia yang telah bercokol di nomor satu sejak 2011.

Indonesia dan Malaysia sama-sama berada di nomor satu dengan skor 78. Itu saja sudah menggembirakan untuk Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

“Kami gembira karena bisa menjadi peringkat 1 GMTI 2019. Status terbaik dunia sangat penting. Sebab, menjadi representasi kualitas wisata halal dan berbagai usaha perbaikan yang dilakukan selama ini. Hasil ini menjadi bukti solidnya stakeholder pariwisata di Indonesia,” kata Arief Yahya, Selasa (9/4).

Bagaimanapun, Indonesia memang mengalami kemajuan dalam peringkat GMTI. Pada 2015 di peringkat 6 dengan skor 67,5, naik ke peringkat 4 dengan skor 70,6 pada 2016. Pada 2017, Indonesia mendapat peringkat 3 dengan skor 72,6, lalu naik ke peringkat 2 pada 2018 dengan skor 72,8.

“Indonesia satu-satunya negara yang paling progresif dalam mengembangkan destinasi halal tourism,” kata Fazal Bahardeen, CEO Crescent Rating.

Sejak 2011, CrescentRating telah menganalisis pasar perjalanan Halal. Laporan mereka awalnya disebut "CrescentRating Annual Ranking", pada Maret 2015 berubah menjadi GMTI. GMTI 2019 adalah edisi ke-5 dari laporan tersebut.

Laporan ini mencakup 130 negara destinasi secara global. Daftar ranking GMTI dibagi menjadi dua, negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan negara non-Organisasi Kerja Sama Islam (Non-OKI).

Peringkat dalam GMTI disusun berdasarkan penilaian terhadap kriteria ACES (access, communication, environment, dan services) yang terdiri dari empat faktor utama. Termasuk kemudahan akses ke tujuan, komunikasi internal dan eksternal oleh destinasi, lingkungan di tempat tujuan, dan layanan yang disediakan oleh destinasi.

Masing-masing faktor dinilai menggunakan pengukuran kuantitatif di beberapa kriteria. Setiap skor kriteria punya turunan beberapa sub-kriteria.

Model ACES pun memiliki bobot nilai yang berbeda. Paling besar ada dalam faktor pelayanan. Total, ada lebih dari 40 set data yang digunakan dalam menyusun skor GMTI menurut model ACES.

Indikator akses terdiri dari persyaratan visa, konektivitas, dan infrastruktur transportasi. Untuk ketiga aspek dalam indikator ini, Indonesia unggul tipis dari Malaysia dalam hal persyaratan visa.

Indikator komunikasi terdiri dari outreach, kemudahan komunikasi, dan kehadiran digital. Indonesia unggul dalam aspek outreach yang nyaris sempurna dengan skor 98.

"Akses Indonesia tumbuh besar, dari segi komunikasi juga. Lalu Indonesia juga memiliki berbagai atraksi," imbuh Arief.

Indikator ketiga yakni lingkungan, terdiri dari keamanan, batasan beribadah, ekonomi dalam negeri, dan iklim. Indonesia dan Malaysia sama kuatnya dalam hal keamanan, dan kebebasan beribadah. Namun, Indonesia kalah dalam dua aspek lain.

Terakhir, indikator layanan yang terdiri dari restoran, tempat beribadah, bandara, pengalaman unik, dan hotel. Indonesia unggul jauh dalam hal pengalaman unik, sama baiknya dalam aspek restoran, tempat beribadah, dan bandara. Namun kalah untuk urusan hotel.

Menurut Ketua Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan, pemerintah sudah menetapkan branding halal untuk mendorong pengembangan industri pariwisata domestik sejak 2015.

PPHI mencatat, wisatawan mancanegara (wisman) Muslim ke Indonesia rata-rata mengeluarkan uang hingga $1.100 per orang per kunjungan. Khusus wisatawan asal Arab Saudi, rata-rata pengeluaran bahkan berkisar $2.000 hingga $2.200 per orang per kunjungan.

Karena itu, masuk akal jika pemerintah menjadikan wisata halal sebagai pasar utama dalam industri pariwisata nasional.

Menurut laporan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2019, pemerintah melalui tim pengembangan wisata halal mendaftar 10 daerah yang jadi target. Termasuk Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatra Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jama Timur, Sulawesi Selatan, dan Lombok.

Saat ini, Lombok ada di ranking pertama IMTI 2019. Disusul Aceh, dan Riau serta Kepulauan Riau di nomor dua dan tiga.

Indonesia pasang target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2019. Untuk itu, pemerintah menggalakkan promosi pariwisata di 10 destinasi berjuluk 'Bali Baru'.

Termasuk Danau Toba di Sumatra Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Tanjung Lesung di Banten, dan Pulau Seribu di DKI Jakarta. Selain itu ada Borobudur di Jawa Tengah, Bromo-Tengger-Semeru di Jawa Timur, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, dan Morotai di Maluku.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR