HARI ANAK NASIONAL

Indonesia lebih baik dari Inggris dalam pemenuhan hak anak

Sejumlah anak-anak mengikuti lomba 'engrang' batok kelapa di Medan, Sumatera Utara, Minggu (23/7/2017)
Sejumlah anak-anak mengikuti lomba 'engrang' batok kelapa di Medan, Sumatera Utara, Minggu (23/7/2017) | Septianda Perdana /Antara Foto

Indonesia menduduki peringkat 101 dari 165 negara dalam hal pemenuhan hak anak menurut versi KidsRights Index. Ranking Indonesia itu lebih baik dari negara maju sekelas Inggris, yang tahun ini menduduki ranking ke-156.

KidsRights Foundation bersama Universitas Erasmus Rotterdam: Erasmus School of Economics dan International Institute of Social Studies, rutin membuat ranking tahunan soal pemenuhan hak anak. Ranking ini berdasarkan data UNICEF dan Konvensi Hak Anak PBB (CRC), yang diratifikasi oleh 165 negara--kecuali Amerika Serikat.

Penilaian tersebut untuk mengindentifikasi tren global dalam hal pemenuhan dan perlindungan hak anak. Isinya menggambarkan implementasi setiap negara, terhadap prinsip-prinsip umum hak anak yang dilahirkan CRC, khususnya dalam hal kebijakan pemerintah seputar hak anak.

KidsRights Foundation percaya, setiap anak memiliki bakat. Setiap anak memiliki mimpi. Inilah tugas yang diemban bersama, tugas para orang tua, orang dewasa, dan negara, untuk memoles bakat-bakat yang mereka miliki. Mengarahkan dan membantu mereka menggapai mimpi-mimpinya.

Di manapun anak berada seharusnya memiliki akses yang sama dengan anak seusia mereka. Dengan akses dan fasilitas yang mereka dapatkan, anak-anak tanpa terkecuali punya potensi dan bisa memberikan kontribusi pada dunia, dalam bentuk apapun.

Alasan dan keyakinan tersebut menggerakkan KidsRights Foundation menyusun Indeks Hak Anak (Kids Right) setiap tahun sejak 2013. Lembaga inisiator Nobel Perdamaian Anak Internasional ini, merilis Indeks Hak Anak 2017 pada 10 Juni lalu.

Ada lima hak mendasar yang dijadikan acuan dalam menyusun Indeks, yaitu (1) hak atas kehidupan; (2) kesehatan; (3) pendidikan, (4) perlindungan, dan (5) lingkungan yang mendukung dalam pemenuhan hak anak.

Dari lima acuan dasar tersebut, penilaian mencakup 23 indikator yang terdiri dari 16 indikator kuantitatif dan 7 indikator kualitiatif. Di antaranya indikator bidang pendidikan, yang meliputi tingkat partisipasi pendidikan dasar; partisipasi pendidikan menengah; rasio pendaftaran sekolah dasar; partisipasi pendidikan menengah; persentase yang menyelesaikan pendidikan hingga tamat; tingkat kehadiran total dalam sekolah dasar.

Untuk peringkat Indonesia dari lima katerori utama, klik atau sentuh bagian grafik interaktif. Juga bandingkan dengan negara Asean atau negara Asia lainnya dalam peta.

Posisi Indonesia dalam Indeks Hak Anak 2017

Dari keseluruhan penilaian itu, Indonesia patut bangga karena masuk dalam kategori penilaian yang tinggi meski berada di peringkat 101 dari 165 negara. Adapun negara dengan nilai total tertinggi dalam pemenuhan hak anak adalah: Portugal, Norwegia, Swis, Islandia, Spanyol, Prancis, Swedia, Thailand, Tunisia, dan Finlandia.

Seperti Indonesia, terdapat 109 negara yang dianggap memiliki skor tinggi dari keseluruhan acuan dasar yang digunakan. Berikutnya, 28 negara dengan nilai cukup, dimulai dari peringkat 110-138.

Kemudian 23 negara dengan nilai rendah dalam peringkat 139-162. Sedangkan negara dengan skor kurang dalam pemenuhan hak anak berada di peringkat 163-165. Tiga negara dalam kategori itu adalah, Sierra Leone, Afganistan, dan Afrika Tengah.

Inggris jadi sorotan, karena rankingnya merosot tajam dari posisi 11 ke 156. Penyebab utamanya adalah diskriminasi terhadap anak-anak muslim lantaran isu terorisme, kalangan gipsi, serta anak-anak pengungsi dari wilayah konflik.

Sistem penilaian yang tak menghitung rata-rata capaian dari lima kategori, membuat ranking Inggris terjun bebas. Meski dalam empat kategori capaian mereka cukup baik, namun negeri itu gagal dalam menjaga lingkungan yang ramah dengan pemenuhan hak anak--mencegah peningkatan diskriminasi terhadap anak.

Isu diskriminasi terhadap minoritas juga jadi sorotan utama dalam laporan Kids Rights Index tahun ini, khususnya di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Anak-anak rentan dan terpinggirkan--termasuk pengungsi dan anak jalanan--menjadi korban diskriminasi.

Marc Dullaert, pendiri sekaligus pemimpin KidsRights Foundation, menyerukan kepada 165 negara yang masuk dalam daftar ini agar membuat kebijakan yang tak diskriminatif. Kondisi tersebut, menurutnya, akan menghambat anak menggapai potensinya.

Laporan Kids Right Index 2017 juga menunjukkan bahwa negara makmur tak menjamin kebijakannya pro hak anak. Dalam kasus Inggris dan Selandia Baru, misalnya, kedua negara sama-sama berada di posisi 10 terbawah. Sedangkan Thailand dan Tunisia, berhasil masuk dalam 10 besar negara dengan penilaian terbaik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR