Indonesia lebih sigap hadapi WannaCry

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyampaikan keterangan pers terkait upaya penanganan serangan dan antisipasi Malware Ransomware WannaCry di Jakarta, Minggu (14/5).
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyampaikan keterangan pers terkait upaya penanganan serangan dan antisipasi Malware Ransomware WannaCry di Jakarta, Minggu (14/5).
© M Agung Rajasa /ANTARAFOTO

Indonesia dipastikan telah aman dari serangan siber dengan menggunakan virus WannaCrypt0r 2.0 (WannaCry) yang ramai sejak akhir pekan kemarin.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menyatakan, virus yang terpapar melalui jaringan data atau internet itu tidak berdampak signifikan di Indonesia lantaran langkah pencegahan segera dilakukan.

Langkah pencegahan yang dimaksud adalah adanya notifikasi pemutusan sambungan internet pada saat mengaktifkan komputer dan melakukan salinan data cadangan (backup data). Notifikasi tersebut sudah ramai dibagikan baik oleh Kemenkominfo pun warganet sejak virus ini mulai menjalar.

Rudi menyatakan, komputer yang terinfeksi WannaCry di Indonesia masih dalam jumlah puluhan, kalah jauh dengan jumlah yang terjadi di belahan dunia lain seperti Inggris, Rusia, dan Tiongkok. Bahkan, Rudi mengklaim penanganan virus di Indonesia jauh lebih baik dari negara tetangga, Malaysia.

Hanya, Rudiantara juga mengakui masih adanya kemungkinan sejumlah kecil kasus yang tidak dilaporkan. Namun, dirinya mengatakan, hal tersebut bukanlah masalah besar, karena dari segi jumlah, pengguna komputer dan internet di Indonesia ada ratusan ribu orang atau bahkan jutaan orang.

Lebih dari itu, Rudi menganjurkan, pengguna komputer yang terinfeksi di Indonesia untuk tidak membayarkan uang tebusan untuk kembali membuka datanya yang terkunci. Sebab, Rudi tak meyakini bahwa pelaku penyerangan siber ini akan memberikan decrypt (pengembalian data yang terkunci) mereka.

"Kita tahu Rumah Sakit Dharmais (kena) tapi tidak seluruhnya. Ada juga Samsat di Sulawesi, perusahaan perkebunan dan manufaktur. Tapi, hanya puluhan komputer dari mereka dan satu perusahaan mungkin tidak lebih dari 10 unit," ujar Rudi, kepada Beritagar.id, Rabu (17/5/2017).

Setidaknya ada 200 ribu komputer di 150 negara terinfeksi ransomware WannaCry. Ransomeware adalah jenis malware yang menginfeksi dan kemudian mengambil alih komputer sehingga tak bisa digunakan pemiliknya. Agar bisa dipakai kembali, pemilik mesti membayar tebusan (ransom) kepada peretas.

WanaCrypt0r 2.0, yang dikenal juga dengan nama WannaCry, Wanna Decrypt0r, WannaCryptor, dan WCry, adalah sebuah ransomware.

Pada Senin (15/5), Korea Selatan menemukan sembilan kasus ransomware. Sementara itu, pejabat Australia menyebut hanya ada tiga perusahaan berskala kecil-menengah yang mengalami gangguan karena terkuncinya sistem mereka.

Hal serupa terjadi di Selandia baru. Kementerian Bisnis Selandia Baru menyebut investigasi sedang dilakukan terhadap sejumlah kecil insiden yang belum terkonfirmasi.

Di Jepang, dua perusahaan besar, yaitu Nissan dan Hitachi melaporkan adanya infeksi virus komputer. Raksasa energi Tiongkok, PetroChina pun mengatakan para konsumen di sejumlah pom bensin tidak bisa mengakses sistem pembayaran mereka.

Hingga kini, masih belum jelas siapa pihak yang seharusnya bertanggung jawab di balik serangan ini.

CNNTech menulis, sejumlah peneliti keamanan dari Google dan Symantec sempat menemukan kesamaan pada kode "WannaCry" dengan malware yang diciptakan kelompok yang memiliki kaitan dengan Korea Utara, Lazarus. Namun, keterlibatan Lazarus ini masih sebatas dugaan.

Kelompok Lazarus pernah dikaitkan pada serangan siber yang menimpa Sony Pictures dan sejumlah bank-bank di dunia pada 2014 silam.

Namun, kemungkinan lain pelaku peretasan juga terbuka lebar. Pasalnya, serangan siber Korea Utara memiliki target yang lebih jauh dan kerap dihubungkan dengan hal-hal politis.

Contohnya, dalam kasus serangan siber kepada Sony Pictures, peretas melakukan aksi mereka untuk mencegah publikasi film "The Interview". Film yang diperankan James Franco dan Seth Roger itu memang syarat dengan celaan untuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Kim Jong-un.

Sebaliknya, WannaCry menyebarkan infeksi terhadap apa pun, tanpa pandang bulu.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.