ILOC 2019

Indonesia minim budaya arsip musik

Dari kiri ke kanan, David Tarigan, Trisnia Anchali Kardia, Danny Oei, dan moderator. Indonesia masih minim dalam pengarsipan karya musik.
Dari kiri ke kanan, David Tarigan, Trisnia Anchali Kardia, Danny Oei, dan moderator. Indonesia masih minim dalam pengarsipan karya musik. | Dadang Hermanto /Beritagar.id

Masyarakat Indonesia memiliki budaya arsip yang sangat minim. Menurut David Tarigan, Direktur Eksekutif Irama Nusantara, hal ini menyebabkan ketersediaan data menjadi kendala dasar dalam upaya pengarsipan musik.

"Kita ga punya budaya mengarsipkan. Sehingga, sumber-sumber fisik sulit ditemukan," ujarnya dalam sesi Data for Creative Industries di ILOC 2019, di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (28/8/2019).

Menurut David, hanya 10 persen musik Indonesia lawas periode 1920an-1980-an, yang diarsipkan. Artinya, 90 persen musik lawas itu tak tersimpan dengan baik dan terkubur jarang diketahui publik.

Sumber-sumber arsip justru paling banyak ditemukan di rumah-rumah atau pasar. "Paling banyak justru ditemukan di Pasar Blok M (Jakarta)," katanya. Walau, kalau sudah ketemu, belum tentu layak didata dengan optimal. Kini, sudah ada 41.328 lagu yang sudah diarsipkan

Karena minim pendataan, masyarakat Indonesia jarang yang tahu jika ada musik Indonesia lawas yang diolah ulang menjadi musik lagi di luar negeri dan dilabeli jadi lagu baru. "Masalahnya yaitu tadi, minimnya ketersediaan data," ujarnya.

Musik, menurut David adalah seni yang paling sederhana bagi masyarakat. Banyak aktivitas masyarakat sepanjang zaman yang direkam lewat musik. Entah direkam lewat lisan atau medium rekaman, hingga kini direkam dengan digital.

Chief Marketing Officer GDP Venture, Danny Oei Wirianto yang menjadi salah satu panelis menyatakan, musik adalah sarana hiburan yang banyak dicari di internet. Menurutnya, dari sekitar 90 juta audience yang menyimak konten dari portofolio GDP, 40 persennya mencari hiburan lewat internet.

"Kami investasi di media dan musik, tujuannya bagaimana membantu Indonesia baik dalam bacaannya," ujar Danny. Salah satunya investasi ke 88 rising, yang menaungi Rich Brian dan Stephanie Putri. Menurut Danny, publik butuh konten dan hiburan. Bahkan, GDP tak hanya investasi dalam konten tapi juga e-commerce dan merchandise.

Selaras dengan paparan David, temuan Badan Pusat Statistik (BPS) pada anak-anak sekolah menunjukkan hal yang mirip, hiburan adalah tujuan mereka mengakses internet.

Publik sebenarnya juga bisa menjadi pelaku dalam ekonomi kreatif dalam di dunia digital. Tak hanya menjadi konsumen semata. Menurut Trisnia Anchali Kardia, Sales Director LINE Indonesia, para kreator stiker di LINE bisa mengumpulkan pundi-pundi uang lewat aplikasi pesan instan itu.

"Pendapatan terbesar dari stiker adalah tahilalats (Nurfadli Mursyid) yang mampu mendapatkan hingga Rp4,2 miliar," kata Trisnia pada acara yang sama. Menurut data LINE, di Indonesia hingga 2018, ada 170 ribu kreator stiker di Indonesia. Dari jumlah itu, setidaknya ada 50 ribu stiker terjual.

Catatan: Beritagar adalah salah satu situs yang berada di bawah naungan GDP Venture.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR