PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Indonesia perjuangkan penurunan tarif dagang dengan Jepang

Pengrajin memproduksi kain batik cap dengan corak Lumintu di rumah produksi batik Adisty, Penggaron, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (21/9). Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ekspor batik pada 2017 mencapai 58,46 juta dolar AS dengan tujuan utama ekspor, meliputi Jepang, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa.
Pengrajin memproduksi kain batik cap dengan corak Lumintu di rumah produksi batik Adisty, Penggaron, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (21/9). Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ekspor batik pada 2017 mencapai 58,46 juta dolar AS dengan tujuan utama ekspor, meliputi Jepang, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa. | Aditya Pradana Putra /Antara Foto.

Indonesia dan Jepang sepakat untuk kembali mempercepat penyelesaian evaluasi menyeluruh (General Review) kerja sama perdagangan dua negara dalam skema Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA).

Dalam perundingan tersebut, pemerintah Indonesia akan memperjuangkan penurunan tarif untuk beberapa komoditas potensial yang selama ini menjadi andalan perdagangan kedua negara.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Kementerian Perdagangan, Imam Pambagyo, menjelaskan pembahasan di masing-masing sub-komite berkembang cukup maju.

Indonesia dan Jepang akan merundingkan kerja sama yang saling menguntungkan, khususnya untuk sektor industri manufaktur, tenaga kesehatan, rantai suplai, serta pengolahan pangan produk pertanian dan perikanan.

"Indonesia juga sedang memperjuangkan penurunan tarif untuk produk potensial Indonesia di sektor perikanan, pertanian, industri, dan kehutanan," ujar Imam dalam keterangan resmi dikutip Jumat (28/9/2018).

Kelanjutan perundingan tengah dilaksanakan melalui pertemuan Komite Bersama IJEPA ke-9 yang dilaksanakan pada 26–28 September 2018 di Medan, Sumatra Utara.

Perundingan tersebut merupakan tindak lanjut hasil Pertemuan Komite Bersama (Joint Committee Meeting/JCM) ke-8 di Tokyo pada 8-10 Agustus 2018. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia diwakili oleh Dirjen PPI Kemendag, sementara Delegasi Jepang dipimpin oleh Deputi Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Jepang Keiya Iida.

Menurut Imam, General Review IJEPA memfasilitasi kedua negara dalam melakukan kerja sama standardisasi, bea cukai, pelabuhan dan jasa perdagangan.

Paket kerja sama perdagangan itu dibagi dalam beberapa sub komite yang meliputi sub-komite perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, ketentuan asal barang, tenaga kerja, serta kerja sama dan pengadaan barang/jasa pemerintah.

Pada sub-komite perdagangan barang, lanjut Iman, kedua negara telah melakukan pertukaran peningkatan penawaran yang cukup signifikan.

Kemitraan ekonomi Indonesia Jepang dalam IJEPA merupakan perjanjian bilateral pertama bagi Indonesia. IJEPA merupakan komplementer untuk kerjasama regional seperti ASEAN plus, APEC, dan WTO.

Kerja sama perdagangan yang telah dibentuk sejak tahun 1 Juli 2008 lalu ini dapat menghilangkan hambatan perdagangan dan meningkatkan impor Jepang dari Indonesia baik untuk barang dan sektor jasa.

Dengan adanya IJEPA, para pelaku usaha/konsumen dapat memperoleh produk Jepang dengan tarif yang lebih rendah.

Disamping itu, Jepang juga membuka sektor jasanya untuk 12 sektor diantaranya jasa travel, transportasi, komunikasi, konstruksi, keuangan, komputer, dan informasi.

Dalam lembar fakta mengenai IJEPA yang diunggah Kementerian Perdagangan disebutkan, sejak IJEPA berlaku, terdapat beberapa produk yang mengalami kenaikan ekspor yang signifikan, di antaranya: sisa logam mulia; mobil dan kendaraan bermotor: minyak sawit; mesin cetak; timah yang tidak ditempa; batu bara, briket; alas kaki; karet alam; kertas dan kertas karton tidak dilapisi; dan kabel berisolasi.

Perdagangan Indonesia-Jepang setelah implementasi IJEPA (2009-2017) meningkat sebesar 155 persen. Ekspor tumbuh 101,7 persen dan impor sebesar 322,1 persen. Secara rata-rata, Indonesia banyak mengekspor jasa bisnis ke Jepang dan mengimpor jasa bisnis serta jasa rekreasi budaya dari Jepang

Namun demikian, masih banyak produk Indonesia yang berpeluang untuk dipasarkan di Jepang. Mengingat saat ini perjanjian IJEPA sedang ditinjau ulang. Indonesia berkesempatan untuk meningkatkan akses pasar produk potensial Indonesia terutama untuk sektor pertanian, perikanan, industri dan kehutanan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jepang merupakan negara tujuan ekspor kedua dan negara sumber impor ketiga bagi Indonesia pada tahun lalu.

Tahun lalu, total nilai perdagangan Indonesia-Jepang mencapai 33,03 miliar dolar (Rp491 triliun) dengan rincian ekspor mencapai 17,79 miliar dolar (Rp264 triliun) dan impor sebesar 15,24 miliar dolar (Rp226 triliun).

Indonesia masih menikmati surplus perdagangan dengan Jepang senilai 2,55 miliar dolar (Rp37 triliun).

Investasi Jepang mencapai 4,9 miliar dolar (Rp72 triliun) dengan sektor utama investasi yakni sektor listrik, gas dan air, industri alat angkutan dan transportasi, industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR