INDUSTRI

Indonesia produsen sepatu peringkat ke-4 dunia

Perajin memproduksi sepatu dan sandal di sentra kerajinan kulit di Masin, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Senin (5/11/2018).
Perajin memproduksi sepatu dan sandal di sentra kerajinan kulit di Masin, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Senin (5/11/2018). | Harviyan Perdana Putra /ANTARA FOTO

Produksi alas kaki adalah kontributor penting bagi perekonomian Indonesia. Kini, Indonesia duduk di peringkat ke-4 dalam daftar produsen sepatu terbesar di dunia.

Tangan-tangan terampil di Indonesia memproduksi 1,4 miliar pasang alas kaki pada 2018. Ini menyumbang 4,6 persen dari total produksi sepatu di dunia.

"Indonesia menduduki posisi ke-4 produsen alas kaki di dunia setelah Tiongkok, India, dan Vietnam," tutur Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih dalam keterangan tertulis.

Pada 2017, Indonesia menempati posisi keenam sebagai negara dengan nilai ekspor alas kaki paling besar yakni $4,9 miliar yang mencapai pertumbuhan sebesar 3,7 persen di pangsa pasar internasional.

Nilai ekspor ini juga meningkat 5,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun nilai ekspor alas kaki tumbuh, tapi pertumbuhan ini tidak cukup baik jika dibandingkan dengan negara lain.

Gati memaparkan, saat ini ada 18.687 unit usaha industri alas kaki di Indonesia. Sebanyak 18.091 unit di antaranya adalah unit usaha skala kecil, 441 unit usaha skala menengah, dan 155 unit usaha skala besar.

"Belasan ribu unit usaha tersebut telah menyerap tenaga kerja sebanyak 795 ribu orang," jelas Gati. Tak hanya itu, Gati mengungkap Indonesia juga negara konsumen sepatu terbesar ke-4 dengan konsumsi 886 juta pasang alas kaki.

Menurut Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), industri alas kaki kecil terbanyak di Indonesia ada di Provinsi Jawa Timur, sebanyak 8.087 buah. Sementara industri memengah--162 buah--dan besar--49 buah--terbanyak ada di Jawa Barat.

Tak hanya di dua provinsi tersebut, Sumatra Utara, Sumatra Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Banten, dan Bali juga tercatat memiliki jumlah industri alas kaki di atas 100 buah.

Demi pengembangan industri alas kaki nasional, khususnya industri kecil menengah, Kemenperin menghelat Indonesia Footwear Creative Competition (IFCC) 2019.

Konsepnya 3 in 1, lewat desain, fotografi, dan videografi. Ajang ini diinisiasi Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) dan satuan kerja di bawah Direktorat Jendral IKMA Kemenperin di Sidoarjo, Jawa Timur.

Untuk IFCC 2019, BPIPI bekerja sama dengan Universitas Kristen Petra Surabaya. Harapannya, sepatu sebagai bagian dari mode bisa menarik minat generasi muda. Tidak hanya sekadar gaya tapi bisa jadi sumber pundi-pundi yang menjanjikan di masa depan.

Pada IFCC 2018, antusiasme peserta cukup besar. Ini terlihat dari 689 karya dari 70 persen peserta yang adalah mahasiswa.

Reputasi Indonesia sebagai ahli pembuatan produk alas kaki telah diakui secara global. Karena itu, industri alas kaki bisa jadi sektor manufaktur andalan yang bisa berkontribusi besar untuk perekonomian nasional.

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, ini terlihat dari pertumbuhan kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki. Pada 2018 mencapai 9,4 persen, naik signifikan dibandingkan 2,22 persen pada 2017.

Capaian ini bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,17 persen. "Kemudian, ekspor alas kaki nasional juga mengalami peningkatan hingga 4,13 persen, dari 2017 sebesar $4,91 miliar menjadi $5,11 miliar di 2018," terang Airlangga pada kunjungan kerja di PT KMK Global Sports di Cikupa, Tangerang, Banten, Jumat (15/3).

Kini, industri alas kaki jadi prioritas pengembangan sebagai sektor padat karya berorientasi ekspor. "Bersama industri tekstil dan pakaian, industri alas kaki pun dipersiapkan untuk memasuki era industri 4.0 agar lebih berdaya saing global dan ekspornya naik," ujar Airlangga.

Ia optimistis, ekspor produk alas kaki nasional akan meningkat hingga $6,5 miliar pada 2019, bahkan menjadi $10 miliar dalam empat tahun mendatang. “Apalagi, Indonesia sudah tandatangan CEPA dengan Australia dan European Free Trade Association (EFTA). Ini menjadi potensi untuk memperluas pasar ekspor bagi produk manufaktur kita,” tutupnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR