OLIMPIADE

Indonesia serahkan surat pengajuan tuan rumah Olimpiade 2032

Replika stadion Maracanã, tempat Olimpiade 2016 dilangsungkan di Rio de Jeneiro, Brasil, 1 Maret 2018.
Replika stadion Maracanã, tempat Olimpiade 2016 dilangsungkan di Rio de Jeneiro, Brasil, 1 Maret 2018. | Marcelo Sayao /EPA

Presiden Joko “Jokowi” Widodo menindaklanjuti ucapannya yang ingin menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade 2032.

Surat pencalonan diri agar Indonesia menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional empat tahunan ini dilaporkan telah diserahkan kepada Presiden International Olympic Comittee (IOC) Thomas Bach per tanggal 11 Februari 2019.

Penyerahan surat ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Thomas Bach dan juga Ketua Dewan Olimpiade Asia (OCA) Ahmad al-Fahad al-Sabah dengan Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, September 2018.

“Dulu waktu ketemu ketua olimpiade disampaikan bahwa kita memiliki keinginan untuk ikut. Suratnya sudah dikirim,” sebut Jokowi singkat di Ecovention Ocean Ecopark, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Rabu (20/2/2019).

Pengajuan diri sebagai tuan rumah berkaca dari keberhasilan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Dari situ, Jokowi optimistis Indonesia mampu menggelar perhelatan yang lebih besar lagi.

Melengkapi pernyataan Jokowi, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir menyebut keinginan Indonesia untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 sebenarnya bukan hal yang sulit dilakukan.

Apalagi venue yang sudah digunakan pada Asian Games 2018 sudah memenuhi standar internasional. Oleh karenanya, jika pengajuan ini diloloskan, pemerintah hanya perlu menambah dan mempercantik venue yang ada.

Kendati begitu, Indonesia masih perlu melakukan langkah-langkah lanjutan di samping menyerahkan surat pengajuan tuan rumah. Di antaranya adalah Indonesia harus lebih sering menggelar agenda bertaraf internasional lainnya sebelum tenggat pemilihan tuan rumah Olimpiade 2032 dilaksanakan.

“Sebagai contoh, di cabang bola basket, Indonesia jadi tuan rumah bersama Filipina dan Jepang dalam Piala Dunia Bola Basket 2023,” kata Erick dalam rilis yang diterima redaksi, Selasa (19/2/2019).

Untuk itu, pihaknya meminta bantuan dari seluruh federasi olahraga di Indonesia untuk ikut dalam upaya lobi serta persiapan dalam menggelar ajang-ajang olahraga internasional lainnya.

Lagipula, dengan semakin sering menggelar kejuaraan bertaraf internasional, maka venue-venue olahraga yang dibangun saat Asian Games 2018 tidak akan terbengkalai. Selain itu, ajang tersebut bisa menjadi media promosi tuan rumah Olimpiade 2032 yang sekaligus meningkatkan animo masyarakat.

Untuk diketahui, proses pemilihan tuan rumah Olimpiade 2032 bakal dilaksanakan selambat-lambatnya pada 2024. Tokyo, Paris, dan Los Angeles telah ditetapkan sebagai tuan rumah Olimpiade berturut-turut untuk tahun 2020, 2024, dan 2028.

Di luar keberhasilan penyelenggaraan Asian Games 2018, satu hal yang perlu diyakinkan pemerintah adalah kesiapan seluruh elemen ketika memutuskan untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Brasil bisa dijadikan contoh. Dalam perjalanan menuju tuan rumah Olimpiade 2016, Brasil didera sejumlah masalah serius, yakni wabah virus Zika.

Masalah laten perkotaan seperti kriminalitas, limbah hajat manusia, serta kemacetan begitu erat melekat pada citra kota Rio de Jeneiro. Sebuah potret yang sebenarnya tak jauh berbeda dengan Jakarta.

Sudah begitu, Brasil mengalami krisis ekonomi. Pada 2015, ekonomi Brasil turun 3,8 persen—penurunan terbesarnya sejak 1990. Penyebab utamanya adalah penurunan harga komoditas andalan Brasil seperti minyak, gula, dan kopi. Tingkat pengangguran pun naik, dan secara tak langsung memicu peningkatan angka kejahatan.

Krisis itu menambah beban Brasil ketika harus menombok anggaran pembangunan sarana pendukung olimpiade. Laman Mother Jones menyebut perkiraan dana awal Olimpiade Rio adalah $14,4 miliar AS, namun pada kenyataannya anggaran itu melonjak hingga $20 miliar.

Ini selaras dengan data Financial Times (h/t Quartz) yang menyatakan ongkos penyelenggaraan Olimpiade Rio melebihi pagu anggaran hingga 51 persen. Seluruh ongkos dan anggaran itu menjadi jauh lebih besar dibanding dana untuk memberantas wabah Zika sebesar $780 juta.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR