BURUH MIGRAN

Indonesia-Singapura selidiki penjual ART daring di Carousell

Ilustrasi: Tenaga kerja migran yang dideportasi oleh Pemerintah Malaysia memasuki ruangan pos perlindungan tenaga kerja di terminal penumpang Pelabuhan Pelindo I Dumai di kota Dumai, Dumai, Riau, Kamis (13/9/2018).
Ilustrasi: Tenaga kerja migran yang dideportasi oleh Pemerintah Malaysia memasuki ruangan pos perlindungan tenaga kerja di terminal penumpang Pelabuhan Pelindo I Dumai di kota Dumai, Dumai, Riau, Kamis (13/9/2018). | Aswaddy Hamid /Antara Foto

Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengaku tak segan mencabut izin penyalur tenaga kerja asal Indonesia yang terbukti terlibat dalam penjualan asisten rumah tangga (ART) daring di Singapura.

Deputi Penempatan BNP2TKI Teguh Hendro Cahyono mengatakan, saat ini pihaknya tengah mengecek validitas informasi itu terlebih dahulu sebelum mengambil langkah hukum yang sesuai.

“Persoalan ini pernah terjadi beberapa tahun lalu, tapi medianya koran. Mungkin sekarang sesuai perkembangan teknologi informasi berubah jadi kayak gini,” kata Teguh dalam laporan detikcom, Minggu (17/9/2018).

Teguh menilai, persoalan ini terjadi akibat celah kebijakan pemerintah Singapura yang cukup longgar terhadap pemberian visa bagi pekerja rumah tangga asing. Alhasil, banyak pihak yang tidak bertanggung jawab menyalurkan tenaga kerja tanpa prosedur yang sesuai dengan aturan Indonesia.

“Yang saya maksudkan, misalnya ada warga Indonesia masuk ke Singapura kemudian di sana ada majikan atau pihak pemberi kerja yang mengurus izin kerjanya, itu pun bisa diterbitkan,” sambung Teguh.

Kendati begitu, pihaknya mengapresiasi langkah responsif Kementerian Ketenagakerjaan (MOM/Ministry of Manpower) Singapura yang langsung menggelar penyelidikan terhadap kasus ini.

Sementara itu, Senin (17/9/2018), Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia berencana mengirimkan nota diplomatik kepada Kemenlu Singapura yang berisi keprihatinan atas kejadian yang sudah sering terjadi di Singapura ini.

“Kami juga minta agar dilakukan investigasi secara menyeluruh terhadap kasus ini,” sebut Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) Kemenlu, Lalu Muhammad Iqbal, dalam rilisnya.

Kasus ini berawal dari kemunculan katalog perempuan dengan nama “Indonesian Maid/ART asal Indonesia” pada situs jual beli Carousell. Katalog itu diunggah akun @maid.recruitment yang menyertakan alamat asal di Singapura dan terverifikasi pada 15 Agustus 2018.

Sejak kasus ini ramai, akun tersebut sudah menghilang dari situs Carousell.

Kendati begitu, cuplikan gambar yang berhasil diambil AsiaOne menunjukkan, akun @maid.recruitment menawarkan 55 produk—tak jelas apakah keseluruhannya adalah perempuan pekerja asal Indonesia.

Dari beberapa gambar yang diambil, terlihat foto-foto perempuan dengan label “Indonesian Maid-Fresh” (belum berpengalaman) dan ada beberapa lainnya “Indonesian Maid-Ex Abroad” (sudah berpengalaman).

Pada tiap profilnya diberi keterangan usia berikut status pernikahan. Tidak ada harga yang dicantumkan pada foto-foto tersebut. Kemungkinan besar harga bakal ditentukan melalui perbincangan langsung dengan admin akun.

Menariknya, pada beberapa foto sudah disematkan label “Sold” alias terjual. Dari empat foto dengan label terjual itu keseluruhannya merupakan pekerja dengan kategori belum berpengalaman.

Melalui akun Facebooknya, MOM mengaku telah meminta pihak Carousell menghapus unggahan penjualan tersebut. MOM memperingatkan, segala bentuk penjualan manusia tidak dapat diterima dan dapat dikenai sanksi yang diatur dalam Undang-Undang Penyaluran Tenaga Kerja.

“MOM meminta seluruh agen penyalur tenaga kerja untuk bertanggung jawab dan mengedepankan sensivitas saat memasarkan layanan mereka,” sambung keterangan yang diunggah Jumat (14/9/2018).

Jika terbukti bersalah, agen penyalur bisa dikenakan denda hingga $80.000 Singapura (sekitar Rp9,5 miliar) dan/atau hukuman penjara hingga dua tahun. Bukan hanya itu, individu yang kedapatan menggunakan jasa layanan melalui cara ini juga bakal dikenakan sanksi hingga $5.000 Singapura (sekitar Rp54,1 juta).

Di pihak lain, juru bicara Carousell mengaku kepada The Strait Times bahwa kejadian ini adalah yang pertama terjadi pada platformnya. Carousell menegaskan, layanan yang diberikan pada situsnya sudah mengikuti aturan yang berlaku.

“Segala bentuk tampilan yang menunjukkan data pribadi seseorang sangatlah dilarang, karena ini melanggar pedoman utama layanan kami,” sebutnya.

Carousell berjanji siap berkoordinasi dengan otoritas terkait dalam melakukan penyelidikan kasus ini. Selain itu, pihaknya juga meminta pengguna layanannya untuk memberikan tanda pada akun-akun yang mencurigakan.

“Di Carousell kami berkomitmen melindungi keamanan pengguna dan terus mengembangkan teknologi kami untuk mendeteksi adanya unggahan-unggahan terlarang dalam situs kami,” tukas juru bicara itu.

Untuk diketahui, pada Februari 2015, perusahaan penyedot debu di Malaysia, RoboVac, menampilkan sebuah iklan dengan tulisan “Fire Your Indonesian Maid Now” (Pecat ART Indonesia Anda, sekarang). Iklan itu memantik protes netizen Indonesia, salah satunya melalui penolakan kerja sama mobil nasional dengan Proton Malaysia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR