DAYA SAING GLOBAL

Indonesia turun tiga tangga di Indeks Daya Saing Global

Potret kawasan bisnis di Jakarta
Potret kawasan bisnis di Jakarta | Mast Irham /EPA

World Economic Forum (WEF) kembali merilis Indeks Daya Saing Global 2015-2016, yang dilansir Rabu (30/9/2015).

Dengan menggabungkan metode survei dan data kuantitatif, peringkat ini menjajarkan 140 negara yang diukur dengan menggunakan 113 indikator yang dikelompokkan dalam 12 pilar daya saing.

Adapun 12 pilar tersebut terdiri dari institusi, infrastruktur, makroekonomi, kesehatan dan pendidikan, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar, efisiensi pekerja, perkembangan pasar keuangan, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis dan inovasi.

Swiss menduduki posisi teratas dalam Indeks Daya Saing Global 2015-2016 selama tujuh tahun berturut-turut. Menurut laporan tersebut, Swiss adalah negara terunggul di dunia, terutama dalam tiga pilar: inovasi, sistem pendidikan, dan efisiensi pekerja.

Infrastruktur Swiss dianggap kuat, institusi publiknya efektif dan transparan, dan pertumbuhan makroekonominya adalah yang paling stabil di dunia. Meskipun demikian, biaya untuk melakukan bisnis di Swiss sangatlah tinggi, begitu juga dengan nilai tukar mata uangnya (Swiss Franc).

Satu-satunya negara Asia yang sanggup mengalahkan negara adidaya Amerika Serikat di posisi kedua selama lima tahun berturut-turut adalah Singapura.

Singapura unggul dalam sepuluh dari 12 pilar daya saing yang menjadi alat ukur WEF.

Amerika Serikat mampu mempertahankan posisinya di nomor urut ketiga karena kecanggihan bisnis, sumber daya manusia dan kapasitas untuk berinovasi, dengan kolaborasi yang mengagumkan antara sektor swasta dan akademisi.

Negara-negara seperti Jerman, Belanda, Jepang, Hong Kong, Finlandia, Swedia dan Inggris menyusul tiga negara tadi dalam jajaran 10 besar negara dengan daya saing terbaik itu.

Di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi ke-37, masih kalah dengan Malaysia yang berada di posisi 18 dan Thailand di posisi 32. Indonesia tercatat turun tiga peringkat dari tahun lalu.

Laporan tersebut mengatakan performa Indonesia tidak memiliki perubahan banyak dari tahun lalu, bahkan tetap cenderung tidak stabil. Di bawah kepemimpinan baru, Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan berat dalam meningkatkan daya saing ekonominya, terutama dari segi infrastruktur (posisi 62) dan institusi (posisi 53).

WEF pun menggarisbawahi Indonesia perlu meningkatkan pemberantasan tindak korupsi dalam praktek-praktek penyuapan dan etika berinstitusi agar mampu memperbaiki tingkat daya saingnya.

Tujuh cara meningkatkan daya saing versi WEF

World Economic Forum (WEF) memberikat tujuh cara meningkatkan daya saing ekonomi lewat berdasarkan contoh sukses dari tujuh negara di dunia, yakni:

  1. Amerika Serikat, membuat program Automotive Manufacturing Technical Education Collaborative (AMTEC), dimana mahasiswa diberikan pelatihan tentang kemampuan teknis dalam industri otomotif oleh sejumlah produsen mobil ternama.
  2. Negara Uni Eropa, membuat program European Innovation Partnerships (EIPs) untuk mendukung riset-riset pendidikan yang mendukung kepada inovasi yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
  3. India, membuat Infrastructure Leasing & Financial Services Ltd (IL&FS) di tahun 2007 oleh sejumlah perusahaan infrastruktur ternama untuk mengembangkan kemampuan anak muda dari daerah pedesaan terpencil di 16 sektor usaha.
  4. Chili, membentuk Start-Up Chile di tahun 2010 untuk mendorong pengusaha muda mengembangkan usaha baru di luar industri pertambangan dan perikanan (khususnya ikan salmon).
  5. Moroko, membentuk organisasi nirlaba bernama Education for Employment (EFE) yang membantu menciptakan kesempatan berbisnis untuk kalangan muda dengan menyediakan pelatihan profesional kelas dunia.
  6. Finlandia, membuat program akselarasi bernama Vigo di tahun 2009 untuk melatih para pebisnis pemula memasuki pasar global dengan bantuan beberapa pengusaha sukses. Sejak program ini diluncurkan, tim akselerasi berhasil mengumpulkan sumbangan sebesar 200 juta Euro dari 60 perusahaan yang ditargetkan.
  7. Korea Selatan, membentuk Meister Schools yang didesain khusus untuk menyiapkan anak muda untuk masuk ke dalam dunia pekerjaan dengan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR