Industri plastik tak gentar hadapi kampanye hitam

Petugas UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta memeriksa susunan botol minuman plastik yang membentuk bangunan posko, di kawasan Pasar Rebo, Jakarta, Selasa (12/3/2019).
Petugas UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta memeriksa susunan botol minuman plastik yang membentuk bangunan posko, di kawasan Pasar Rebo, Jakarta, Selasa (12/3/2019). | Aprillio Akbar /AntaraFoto

Kampanye anti-plastik yang semakin masif dalam beberapa tahun terakhir ternyata tak memberi dampak negatif terhadap pertumbuhan industri ini.

Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) mengklaim investasi yang masuk pada industri ini justru meningkat, utamanya dari pihak asing.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono memerinci, pada sektor hulu dan hilir masing-masing akan masuk investasi hingga $250 juta AS (sekitar Rp354,8 miliar) dengan tambahan kapasitas produksi sekitar 100.000 ton per tahun.

Masuknya investor tidak seragam pada satu sektor saja, sambung Fajar.

Menurutnya, ada investor yang hanya tertarik melakukan investasi pada sektor-sektor seperti usaha pengemasan khusus, peralatan rumah tangga, kosmetik, hingga pengemasan produk perawatan.

Fajar menyebut, pada tahun 2021 hingga 2022 akan masuk investasi baru hampir $9 miliar AS (sekitar Rp127,7 triliun). Investasi tersebut akan berbentuk pendirian pabrik baru oleh PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. dan PT Lotte Chemical Titan Nusantara.

Untuk itu, Fajar optimistis memprediksi pertumbuhan industri ini secara rata-rata akan berkisar sekitar 6 persen per tahun hingga 11 tahun ke depan.

Secara keseluruhan, persentase itu terbesarnya disumbangkan dari industri makanan dan minuman, sebesar 8,9 persen. Sementara, faktor pendukung lainnya adalah giat pembangunan infrastruktur di dalam negeri yang masih akan berlanjut untuk tahun-tahun ke depan.

Fajar tidak memerinci dengan detail berapa sumbangsih infrastruktur terhadap pertumbuhan industri plastik. Namun, faktor utama kontribusi plastik terletak penggunaan pipa-pipa konstruksi yang umumnya terbuat dari bahan plastik.

“[Faktor pendorong utama] kami di makanan dan minuman, sama infrastruktur. Kan, bahan bangunan dan pipa bangunan pakai plastik. Jalan tol masih dibangun lagi, MRT dibangun lagi,” kata Fajar kepada Bisnis.com, Senin (25/3/2019).

Klaim Fajar senada dengan kinerja PT Panca Budi Idaman. Pabrikan produk plastik yang bermarkas di Tangerang ini menyebut kapasitas produksinya naik 32,96 persen pada tahun ini menjadi 121.000 ton per tahun dari sebelumnya hanya 91.000 ton per tahun.

Corporate Secretary PT Panca Budi Idaman Lukman Hakim menuturkan, peningkatan kapasitas produksi tersebut sejalan dengan perluasan kapasitas dan penambahan pabrik baru, baik di Pemalang, Jawa Tengah, maupun di Johor, Malaysia.

Adapun nilai investasi pendirian pabrik di Pemalang berkisar antara Rp195 miliar hingga Rp200 miliar, dengan sektor utamanya adalah pabrik pengemasan produk makanan dan minuman.

Kebutuhan plastik nasional diprediksi akan mencapai 5.290 metrik ton pada 2020. Angka tersebut akan meningkat 30,92 persen pada 2025 menjadi 6.986 metrik ton.

Industri daur ulang juga naik

Kendati pencapaian produksi plastik terus naik, industri daur ulang dalam negeri juga terpantau progresif.

Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) Christine Halim menyatakan, tingkat daur ulang untuk jenis plastik seperti PET dan PP sudah di atas 50 persen.

Tahun lalu, dari konsumsi plastik sekitar 3-4 juta ton per tahun, bisnis daur ulangnya bisa mencapai 400.000 ton per tahun, atau sekitar 10 persennya.

Christine menerangkan, hasil daur ulang dari botol plastik utamanya adalah plastik cacahan yang selanjutnya bisa diolah untuk peralatan rumah tangga dan sejenisnya.

Namun, khusus untuk pasar ekspor, hasil daur ulangnya diutamakan sudah berbentuk barang jadi. Adapun tujuan ekspor paling besar adalah Tiongkok dan Korea.

“Salah satu hasil daur ulang yang paling banyak ditemui adalah dakron untuk bahan pengisi bantal dan boneka. Selain itu, daur ulang botol plastik juga bisa menghasilkan produk geotex yang bisa dipakai untuk lapisan jalan,” kata Christine dalam Neraca.co.id, Rabu (20/3/2019).

Di luar dari itu, tingkat daur ulang plastik lokal tercatat baru mencapai 14 persen khususnya untuk skrap bahan baku plastik. Saat ini, total skrap yang tercampur dengan sampah lain mencapai 16 persen dari total sampah nasional atau sebanyak 10,88 juta ton per tahun.

Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Taufiek Bawazier Kementerian Perindustrian menyatakan, skrap bahan baku plastik dapat menjadi potensi besar untuk menggantikan impor bijih plastik nasional, yakni sekitar 2,2 juta ton per tahun.

Namun, skrap paling dibutuhkan hanya yang kering dan bersih. Sementara, tingkat kebasahan skrap bahan baku plastik lokal mencapai 40 persen.

Di sisi lain, pemerintah sampai saat ini masih menggodok wacana penerapan cukai plastik dalam negeri.

Dalam Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) 2019, pemerintah menargetkan penerimaan Rp500 miliar dari cukai plastik. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut cukai plastik sebagai solusi paling tepat untuk mewujudkan laut di Indonesia bebas sampah plastik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR