RINGKASAN SEPEKAN

Infografik: Kabar nestapa, korban petir dan ular

Selain kapal Santika Nusantara yang terbakar di laut, ada pula kejadian maut lain. Dua peristiwa sambaran petir dan satu kasus patukan ular.
Selain kapal Santika Nusantara yang terbakar di laut, ada pula kejadian maut lain. Dua peristiwa sambaran petir dan satu kasus patukan ular. | Antyo® /Beritagar.id

Ada beberapa kejadian perenggut nyawa selama sepekan lalu. Ya pekan lalu, karena dalam banyak kalender, Ahad ditempatkan sebagai awal pekan.

Terbakarnya KM Santika Nusantara di perairan Masalembo, Laut Jawa, adalah peristiwa besar: hingga malam ini (25/8/2019) sudah 304 korban dievakuasi.

Di luar kecelakaan pelayaran, ada pula tiga peristiwa yang bertaut dengan kuasa alam: sambaran petir di dua tempat berbeda dan pagutan ular welang di perumahan.

Peristiwa petir terjadi di hari yang sama, Senin 21 Agustus lalu, di Sumatra Utara. Pertama, petir yang menyambar enam remaja putri, santri Pondok Pesantren Darul Ilmi di Kabupaten Padang Lawas (Palas). Dua santri tewas.

Peristiwa kedua menimpa Sitor Habeahan, seorang gembala kerbau. Petir menyambar kandang tempat dia menunggui 21 ekor kerbau. Sitor dan 19 kerbau tewas terbakar.

Adapun peristiwa maut ketiga menimpa Iskandar, seorang anggota satpam sebuah perumahan di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten (21/8/2019). Iskandar tewas setelah ular weling mematuk jari telunjuknya.

View this post on Instagram

Yayasan Sioux Ular Indonesia mengucapkan ikut Bela Sungkawa atas meninggalnya Pak Satpam di Cluster Gading Serpong karena gigitan ular beberapa hari lalu saat bertugas. Beberapa hal yg kami analisa dari kejadian ini adalah : 1. Korban tidak paham spesies ular, menganggap itu gak berbahaya, ular Bungarus candidus (weling) ini memang mulai aktif di senja hingga malam hari untuk mencari makan. Salah satu ciri khas ular berbisa tinggi adalah nocturnal. 2. Korban berusaha pegang tanpa alat, sehingga jarinya kegigit. Statement tiba - tiba di berita kronologis itu memang menujukkan karakter si ular yg melakukan gerakan patah patah dan mengejutkan. Korban berusaha pegang kepala saat si ular diam, padahal dia sedang siap2 menyerang dan bertahan. Mengamati teknik pak satpam memegang kepala di video yg viral ini menunjukan korban belum pernah mendapatkan pelatihan yg benar ttg teknik handling ular bungarus. Beda spesies, beda teknik handling nya. 3. Luka di sedot oleh korban, hal yg justru mempercepat fase lokal menjadi fase sistemik yg mematikan. 4. Korban merasa hanya gatal, krn ini venom neurotoxcyn tidak langsung merasa sakit kalo kena gigit. Tapi Venom nya lgsg serang saraf termasuk mematikan fungsi jantung. 5. Cek RS sekitar tidak menemukan yg ready stock serum anti bisa ular. Sehingga terlambat penanganan medisnya. Saran mulai saat ini Warga cluster/kompleks/ siapa pun perlu mendata RS terdekat ready stock SABU (Serum Anti Bisa Ular). Dan atau akses lgsg ke biofarma bandung. Hal yang perlu dipahami tentang Ular ini : 1. Ular Bungarus candidus ini memang masih banyak di alam dan di lingkungan rumah karena ular ini merupaka predator alami ular lain. 2. Tanpa ular weling / welang, akan ada ledakan populasi ular spesies lain di ekosistem. 3. Memahami karakter sifat dan teknik handling yg benar perlu dilakukan. Semoga tidak adalagi korban gigitan ular karena salah menerapkan teknik handling/ menangkapnya. Amin.. Salam Ular Indonesia Yayasan Sioux Ular Indonesia IG ular_indonesia WA 08176800446

A post shared by Sioux Indonesia (@ular_indonesia) on

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR