Ini Budi, akan jadi Kapolri, punya kontroversi

Komjen Pol. Drs. Budi Gunawan, S.H., MSi., Ph.D. calon tunggal Kapolri yang menggendong kontroversi
Komjen Pol. Drs. Budi Gunawan, S.H., MSi., Ph.D. calon tunggal Kapolri yang menggendong kontroversi | AR/Beritagar

Kendati ada penolakan, menurut Koran Tempo hari ini (11/1/2015) Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memerintahkan Fraksi PDIP di DPR mendukung calon Kapolri usulan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Padahal Jokowi hanya mengajukan calon tunggal, yakni Komjen Budi Gunawan (55), yang dalam suratnya kepada DPR disebut "mampu dan cakap, serta memenuhi syarat".

Pangkal keberatan sejumlah pihak adalah kewajaran harta Budi, Kepala Lembaga Diklat Polri yang bergelar "Drs." dan "S.H., MSi., Ph.D" itu (lihat ilustrasi). Direktur Advokasi Pusat Studi Anti-Korupsi Universitas Gadjah Mada Oce Madril mengatakan kepada Tempo, calon Kapolri ini "memiliki cacat bawaan".

Sebelumnya Tempo mengutip Koordinator Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Juntho, bahwa pencalonan Budi adalah, “Mimpi buruk bagi penegakan hukum.” Adapun Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane, kepada JPNN mengatakan bahwa Budi tak terlibat urusan rekening gendut.

Budi sendiri sudah beberapa kali membantah soal rekening itu. Pada Juli 2013, misalnya, Kompas mengutip Budi, "Masalah itu perlu saya luruskan. Laporan dari PPATK sudah ditindaklanjuti oleh Bareskrim (Badan Reserse Kriminal) pada tahun 2010." Merdeka juga mengutip Budi, Jumat lalu (9/1/2015), "Sudah selesai 2010, sudah klarifikasi."

Tentang istilah "rekening gendut polisi", pada mulanya digelindingkan oleh majalah Tempo, Juni 2010, dan Beritagar mencatat jejak istilah itu di internet. Salah satu jejak Tempo dalam mencatat Budi ada di laman Selusur.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR