PERDAGANGAN

Inilah perusahaan yang menikmati gurihnya impor bawang putih

Foto ilustrasi. Pedagang memilah bawang putih yang dijual di Pasar Keputran, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (14/6/2019).
Foto ilustrasi. Pedagang memilah bawang putih yang dijual di Pasar Keputran, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (14/6/2019). | Zabur Karuru /Antara Foto

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menggebrak. Tak tanggung-tanggung, kali ini ada sebelas (11) orang yang diamankan ke markas KPK di Gedung Merah Putih, kawasan Kuningan, Jakarta.

Ketua KPK Agus Raharjo mengatakan bahwa operasi tangkap tangan (OTT) ini terkait dengan transaksi impor bawah putih.

Ini merupakan salah satu OTT terbesar, jika dilihat dari jumlah orang yang ditangkap sejak KPK membawa 15 orang dalam OTT terhadap Bupati Nganjuk Taufiqurrahman pada Oktober 2017 lalu.

Menurut Ketua KPK Agus Rahardjo, Kamis (8/8/2019), 11 orang yang diamankan terdiri dari pengusaha, sopir, orang kepercayaan anggota DPR, dan beberapa pihak lain. Ikut pula disita bukti transfer senilai Rp 2 miliar.

"Diduga, uang ini akan diberikan untuk seorang anggota DPR-RI," kata Kepala Biro Humas KPK Febri Diansyah.

Bawang putih kelihatannya remeh. Padahal bumbu dapur yang banyak terserak di los-los becek pasar tradisional ini merupakan bisnis yang sangat gurih.

Menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito, kebutuhan nasional bawang putih mencapai 30.000 ton per bulan. Dari jumlah itu, hanya lima persen yang bisa dipenuhi petani lokal. Sisanya, 95 persen alias 340.000 ton bawang putih, musti kita impor, setiap tahun.

Berapa nilainya? Kita hitung saja. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan, selama tahun 2019 ini, harga bawang putih yang dipantau pada lebih dari 90 kota di Indonesia bergerak antara Rp17.000 hingga Rp46.000 per kilogram (kg).

Dengan harga rata-rata Rp30.000 per kg saja, nilai bisnis bawang putih impor mencapai Rp10,2 triliun --cukup untuk membeli enam pesawat A320-neo, pesawat paling gres produksi Airbus yang baru saja didatangkan oleh maskapai Lion Air.

Selama ini, impor bawang putih diberikan kepada sejumlah perusahaan yang disaring oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag), berdasarkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dari Kementerian Pertanian (Kementan).

Sejak 2017, Kementan menetapkan sejumlah syarat bagi "calon" importir bawang putih agar bisa masuk daftar RIPH. Satu di antaranya, importir wajib membuka kebun bawang putih, paling kurang lima persen dari jumlah yang akan diimpor.

Itu sebabnya, dalam beberapa tahun terakhir, bermunculan beberapa kebun bawang putih di tanah air, terutama di daerah beriklim sejuk seperti Temanggung dan Wonosobo di Jawa Tengah; lereng Gunung Ijen di Jawa Timur; dan kawasan Sembalun di lereng timur Gunung Rinjani, di Lombok, NTB.

Izin impor bawang putih diterbitkan secara bertahap, bergantung kebutuhan. Sampai pertengahan Juni 2019, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Oke Nurwan, mengaku telah menerbitkan izin impor bawang putih sebanyak 250.000 ton.

Siapa saja importir yang mengantongi izin impor tahun 2019, tidak diketahui dengan detail. Hanya saja, Kemendag sempat mengumumkan tujuh perusahaan yang menerima izin impor untuk 100.000 ton yang merupakan "kloter pertama" dari impor bawang putih tahun 2019.

Ketujuh perusahaan ini masing-masing adalah PT Setia Pesona Indoargo, CV Sinar Padang Sejahtera, PT Mahkota Abadi Prima Jaya, PT Bintang Alam Sukses, PT Semangat Tani Maju Bersama, PT Satria Bima Nusantara, dan PT Maju Makmur Jaya Kurnia.

Terbuka kemungkinan, beberapa perusahaan lain (di luar tujuh nama tersebut) juga ikut ditunjuk menjadi importir dalam kloter berikutnya. Sampai berita ini ditulis, Kamis (8/8), nama-nama importir kloter berikutnya tidak (belum) diumumkan.

Jika diteliti, nama-nama ketujuh importir ini sebagian besar berbeda dengan nama perusahaan yang diumumkan telah mendapat izin impor bawang putih pada tahun sebelumnya. Hanya ada satu nama, yakni PT Maju Makmur Jaya Abadi yang juga masuk dalam daftar importir bawang putih 2018.

Penelusuran Beritagar.id menunjukkan ada 13 perusahaan yang mengantongi izin impor untuk 125.000 ton bawang putih sepanjang 2018. Antara lain; Anugerah Makmur Sentosa, Bumi Citra Bersama, Exindokarsa Agung, Fermase Inti Mulia, Haniori, Maju Jaya Niagatama, Maju Makmur Jaya Kurnia, Pertani, Revi Makmur Sentosa, Setia Maju Sejahtera Abadi, Sumber Alam Jaya Perkasa dan Tunas Sumber Rejeki.

Dari nama-nama ini, ada empat perusahaan yang mendapatkan jatah impor lebih dari 15.000 ton (yang lainnya di bawah 10.000 ton). Mereka adalah Pertani (30.000 ton), Revi Makmur Sentosa (23.000 ton), Maju Makmur Jaya Kurnia (17.000 ton), dan Sumber Alam Jaya Perkasa (16.000 ton).

Pertani merupakan badan usaha milik pemerintah, sedangkan Revi Makmur kerap disebut dalam banyak pemberitaan, terutama berkaitan dengan ekspor bawang merah.

Sementara itu, PT Sumber Alam Jaya Perkasa merupakan perusahaan ekspor impor produk pertanian yang berpusat di Medan. Selain memproduksi mie instan, Sumber Alam bergiat dalam perdagangan kacang hijau, kedelai, dan kapulaga.

Satu perusahaan lain adalah PT Maju Makmur Jaya Kurnia yang baru berdiri pada tahun 2017. Pada awal tahun 2018, perusahaan ini sudah melakukan penanaman bawang putih di daerah Wonosobo. Pada tahun itu pula, perusahaan yang berkantor di Gedung Equity Tower, kawasan SCBD Senayan, Jakarta, ini mengantongi izin impor bawang putih.

Nama-nama importir bawang putih tidak terbatas pada perusahaan yang sudah disebut di atas. Banyak perusahaan lain yang mendapatkan izin impor pada kloter impor yang tidak (belum) diumumkan.

Pertengahan Juni lalu, Dirjen Oke Nurwan, misalnya, menyatakan akan menerbitkan kembali izin impor bawang putih untuk lima dari 12 perusahaan yang direkomendasikan Kementerian Pertanian.

"Akan keluar lagi izin untuk lima perusahaan. Nanti ya (jumlahnya)," kata Oke di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (12/6), seperti dikutip Liputan6.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR