KESEHATAN

Inisiasi menyusu dini lebih optimal di tangan bidan

Foto ilustrasi seorang ibu memberikan ASI pasca-melahirkan
Foto ilustrasi seorang ibu memberikan ASI pasca-melahirkan | shutterstock

Bisa memberikan ASI secara langsung kepada sang buah hati pasca-melahirkan pasti menjadi dambaan setiap ibu.

Sejumlah pakar kesehatan--ikut direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO)--mempercayai IMD atau Inisiasi Menyusu Dini bisa menjadi gerbang keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan.

Bahkan, sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Pediatric menyebut proses ini dapat menurunkan angka kematian bayi baru lahir hingga 22 persen.

Sesar, normal, atau apapun model persalinannya, seharusnya tidak menghalangi proses yang juga merupakan bentuk komunikasi pertama antara ibu dan bayi ini. Begitu pula dengan tempat dan siapa yang membantu proses persalinan.

Sebagai seorang ibu yang melahirkan melalui proses sesar dengan bantuan dokter dan bidan di sebuah rumah sakit di Jakarta, saya juga sempat mengalami proses IMD sesaat setelah bayi dikeluarkan.

Proses IMD dilakukan dalam dua tahap, lantaran dokter harus melanjutkan operasi sesar pada tubuh saya. Tahap pertama dilakukan setelah bayi lahir selama kurang dari 10 menit di dalam ruang operasi.

Tahap penyelesaiannya baru kemudian dilanjutkan ketika sudah memasuki ruang pemulihan pasca-operasi. Meski proses IMD tidak berhasil dilakukan lantaran bayi tertidur, namun upaya untuk melakukan proses tersebut sudah dilaksanakan baik oleh pasien maupun rumah sakit.

Pengalaman yang saya alami ini berbeda dengan para ibu yang melahirkan di provinsi Maluku dan Papua Barat. Sebab, dua provinsi di Indonesia Timur ini terbilang menjadi daerah yang paling tidak peka dengan proses IMD.

Data Survei Sosial dan Ekonomi (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 yang diolah tim Lokadata Beritagar.id menunjukkan, presentase proses IMD yang dilakukan pada ibu yang baru melahirkan di Maluku hanya sebanyak 35.680 dari sekitar 80.000 ibu melahirkan.

Sementara di Papua Barat, jumlah ibu yang melakukan IMD hanya berjumlah 17.496 dari sekitar 40.000 ibu melahirkan.

Presentase itu cukup tertinggal dibandingkan ibu melahirkan yang melakukan IMD di Pulau Jawa. Jawa Barat tercatat memiliki jumlah IMD tertinggi, sekitar 1.313.794 ibu dari sekitar 1,8 juta ibu melahirkan. Dari angka tersebut bisa diskalakan menjadi 7 dari 10 ibu di Jawa Barat selalu melakukan IMD.

Sebaran ibu melahirkan dan melakukan IMD 2017
Sebaran ibu melahirkan dan melakukan IMD 2017 | Lokadata /Beritagar.id

Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia (Selasi), Dr Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC mengakui, salah satu faktor utama yang menjadi penghambat sulitnya kampanye kesehatan diterima oleh masyarakat Indonesia Timur adalah laku budayanya.

"Bukannya lack of capacity. Indonesia Timur itu gak main-main. Penyuluhan itu banyak, LSM yang beri pelatihan prenatal dan sebagainya juga banyak. Tapi, mengubah perilaku di sana tidak semudah di Pulau Jawa," ucap Wiyarni kepada Beritagar.id, Jumat (2/3/2018).

Pada level pemerintah, sambungnya, perlu dilakukan perbaikan kebijakan terkait hal ini. "Sampai saat ini pemerintah masih fokus pada kampanye untuk mengatasi stunting, padahal IMD ini adalah tahapan penting bagi kehidupan anak," sambungnya.

Pemerintah, lanjut Wiryani, bisa mulai melakukan pengecekan berkala ke seluruh rumah sakit (baik bersalin maupun bukan) yang belum menjadikan IMD sebagai standar operasional yang dilakukan setelah persalinan.

Sebab menurut data yang sama, jumlah ibu yang melahirkan dan melakukan IMD di Indonesia sebagian besarnya dilakukan di pondok bersalin desa dengan bantuan bidan.

Sementara presentase ibu melahirkan dan melakukan IMD di rumah sakit dengan bantuan dokter kandungan justru berada di bawahnya.

Setidaknya 7 dari 10 ibu yang melahirkan di bidan tercatat melakukan IMD. Begitu juga dengan 10 ibu yang melahirkan di pondok bersalin desa, 8 di antaranya berhasil melakukan IMD.

Presentase ibu yang melahirkan dan melakukan IMD
Presentase ibu yang melahirkan dan melakukan IMD | Lokadata /Beritagar.id

Cara bersalin tak pengaruhi IMD

Tindakan medis yang dilakukan pada ibu bersalin terkadang menjadi penghambat keberhasilan proses IMD.

Seperti halnya saya, para ibu yang melahirkan secara sesar lainnya tak jarang harus menyingkirkan proses IMD karena operasi yang belum tuntas. Belum lagi ditambah kondisi ibu yang sudah terlanjur loyo.

Jika pun dilakukan, bisa jadi kesembilan tahapan IMD tidak sempurna dijalankan. Meski memang, tidak berjalannya tahapan IMD tidak mengartikan bahwa seorang ibu tidak bisa memberikan ASI kepada sang buah hati.

Namun jika berhasil dilakukan, peluang seorang anak untuk mau menyusu pada ibunya menjadi delapan kali lebih besar.

"Manfaat utama dari IMD adalah early-imprinting atau membuat si bayi tahu bahwa di tubuh ibunya ada sumber makanan yang baik," sambung Wiryani.

Lagipula, ibu yang melakukan persalinan memiliki dua pilihan yang bisa dilakukan untuk menjalankan proses IMD. Pertama, immediate skin-to-skin yang lazim dilakukan pada persalinan normal.

Dan kedua early skin-to-skin, yang dapat dilakukan satu jam setelah proses persalinan selesai. Pilihan kedua ini sejatinya bisa dilakukan oleh para ibu yang melahirkan melalui proses sesar.

Terlepas semua itu, Wiryani menilai faktor terpenting dari IMD adalah edukasi kepada semua pihak, mulai dari ibu, ayah, orang tua, hingga keluarga mertua tentang manfaat dari dilakukannya proses IMD ini, tidak peduli bagaimana, di mana, dan dengan siapa proses bersalin dilakukan.

Kondisi persalinan di Indonesia
Kondisi persalinan di Indonesia | Lokadata /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR